
"Non Tasya mau Makan? saya akan menyiapkan nya." ucap Bibik dengan cepat menghidangkan untuk Tasya.
"Belum dapat yah non yang non cari?" tanya Bibik.
"Baru sebagian bik, gak apa-apa, sekalian membongkar surat-surat lama pasti banyak kenangan." ucap Tasya. Bibik tersenyum.
"Kalau boleh tau selama ini ibu pernah bongkar itu gak bik." tanya Tasya memaksudkan rak penyimpanan surat-surat berharga.
"Tidak pernah Non, bahkan untuk membersihkan saja kami satu pun tidak ada yang di bolehkah, bahkan ibu pernah marah pada bapak karena bapak membongkar rak itu mencari berkas-berkas bapak yang hilang." ucap Bibik.
Dari situ Tasya jadi yakin ada yang di simpan ibu nya di sana.
Tasya kembali lagi mencari ke kamar Bu Adel sampai semua nya keluar namun tetap saja yang dia cari tidak ada, namun dia sangat penasaran dengan lemari yang di kunci oleh ibu nya.
Dari tadi dia berusaha mencari kunci nya namun tidak dapat.
"Kira-kira ibu membuat kunci nya di mana yah?" batin Tasya.
Dia membongkar laci lemari berharap ada di sana namun sama saja tidak ada di sana.
"Apa Jangan-jangan kunci itu ada di salah satu tas Ibu." Tasya mau memeriksa tas ibu nya namun ponsel nya berdering.
"Halo sayang, kamu di mana? Kata nya mau langsung pulang kok sekarang gak ada di rumah?" tanya Darel.
Tasya melihat jam sudah jam enam sore.
"Aku lagi di jalan pulang kok." ucap Tasya.
"Humm baiklah, kamu hati-hati yah." Panggilan pun terputus.
"Huff seperti nya aku harus melanjutkan Besok saja, sekarang sudah sore kak Darel akan curiga." batin Tasya.
"Bik aku minta tolong kamar ibu jangan di apa-apain dulu yah, yang aku cari Belum dapat." ucap Tasya.
"Baik non." jawab Bibik.
Tasya pun keluar dari rumah itu. Sesampainya di rumah Darel sudah menunggu Tasya berdiri di depan pintu.
"Kok kakak Berdiri di luar?" tanya Tasya.
"Kakak sudah berapa kali melarang kamu bawa mobil sendiri? Tapi tetap saja kamu membantah nya, dan tadi kamu bilang mau istirahat di rumah namun jam segini kamu baru pulang." ucap Darel.
"Aku ketemu teman sebentar tadi kak." ucap Tasya.
Darel menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Lagian kenapa sih kakak marah-marah mulu! Kan aku sudah di sini, aku juga baik-baik saja." ucap Tasya.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa di jalan sama kamu? Bagaimana kalau ada orang berniat jahat sama kamu, dan kalau kamu tidak bilang mau kemana tidak ada yang tau." ucap Darel.
"Besok kakak Hary memasang pelacak pada kamu." ucap Darel. Tasya mendekati Darel dan memeluk nya.
"Udah dong jangan marah-marah lagi, aku lapar aku mau makan." ucap Tasya memeluk Darel dari depan.
Darel mengelus kepala Tasya.
"Kamu selalu seperti ini kalau kakak sedang marah."
"Karena dengan cara seperti ini kakak tidak Akan marah-marah lagi." ucap Tasya.
Darel tersenyum dia mencium kening Tasya.
"Lain kali kamu harus bilang mau kemana, dalam keadaan hamil muda kita tidak tau masalah apa yang terjadi di luar sana." ucap Darel.
"Baik suami ku, aku minta maaf sudah membuat kakak khawatir." ucap Tasya. Mereka pun masuk ke dalam.
"Kamu mandi dulu gih." ucap Darel.
"Anak-anak mana Kak?"
"Oohh." Tasya pun ke kamar membersihkan tubuh nya.
Di kamar mandi dia tidak berhenti berfikir kalau dia bukan anak ibu nya kenapa selama ini dia tidak tau, dan juga siapa Ibu nya.
Tidak beberapa lama dia keluar, ternyata suami dan anak nya sudah menunggu. "Ayo mah buruan makan." ajak Raya.
Mereka makan bersama.
"Oh iya tadi kata dokter kalau dalam Minggu ini belum baikan mereka Akan melakukan tindakan agar Ibu lebih baik, tapi tindakan yang mereka lakukan cukup berbahaya resikonya adalah meninggal kalau gagal dan kalau berhasil pasien akan mengalami beberapa Minggu koma." ucap Darel.
"Jadi dokter butuh persetujuan kamu dengan Riski dan juga Ayah Kamu. Kalau masalah biaya kamu tidak perlu khawatir." ucap Darel.
Namun Darel merasa dia tidak di tanggapi oleh istri nya.
"Bagaimana menurut kamu sayang?" tanya Darel sambil melihat ke arah Tasya yang ternyata melamun sambil memainkan sendok mengaduk makanan nya.
"Sayang!" panggil Darel.
"Mamah! Papah manggil." raya mengoyang kan lengan Tasya. "Iyah sayang kenapa?" tanya Tasya langsung pada Raya..
"Papah ngomong dari tadi, Mamah malah melamum." ucap Raya.
__ADS_1
Tasya menoleh ke arah suami nya.
"Aku kurang fokus kak, kakak ngomong apa tadi?" tanya Tasya.
"Kamu lagi mikirin apa? Kenapa kamu melamun seperti ada masalah." ucap Darel.
Tasya menggeleng kan kepala nya. "Gak ada kok kak, aku hanya tidak berselera untuk makan, kakak bahas apa tadi?" tanya Tasya.
"Dokter mau melakukan sejenis operasi untuk membantu penyembuhan Ibu, tapi melakukan itu butuh persetujuan dari keluarga kandung." ucap Darel.
"Aku setuju saja Kak, demi kesembuhan Ibu."
"Tapi ini adalah operasi yang mempunyai resiko kematian." ucap Darel. Tasya terdiam.
"Besok aku Akan menemui Ayah membicarakan ini kak." ucap Tasya. Darel mengangguk. Setelah selesai makan Raya dan Stevan di anterin tidur oleh Darel.
Sementara Tasya terlebih dahulu masuk ke kamar, dia duduk di pinggir kasur.
Dia melihat foto Amel dengan dia di atas meja.
"Aku beda Tujuh tahun dengan mbak Amel, aku yakin dia pasti tau sesuatu." ucap Tasya.
"Aku yakin mbak Amel pasti menyimpan petunjuk lain." dia melihat lemari khusus penyimpanan berkas-berkas penting.
Namun saat mau berjalan ke sana Darel malah keburu masuk ke dalam kamar.
"Yah kak Darel sudah keburu masuk lagi." batin Tasya.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Darel tiba-tiba memeluk Tasya dari belakang, Tasya Sedang meletakkan kembali foto di atas meja.
Tasya berbalik dia melingkar kan tangan nya di leher Darel.
Darel mencium bibir Tasya namun tiba-tiba Tasya menahan Darel.
"Aku sedang tidak mood kak, jangan lakukan itu dulu." ucap Tasya. Darel tersenyum, "Ya udah istirahat yok, kamu terlihat sangat lelah, kakak takut kamu kenapa-kenapa." ucap Darel. Tasya mengangguk.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1