
"Kakak yakin pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu, kita harus mencari tahu itu." ucap Darel.
"Tidak mungkin Kak, sebelum nya Ibu sama Ayah baik-baik saja." ucap Tasya.
"Kamu tidak pernah tinggal dengan mereka kan? Jadi kita tidak tahu apa-apa, Siapa tau hanya di depan kita Saja baik, padahal aslinya nya tidak." ucap Darel.
"Aku tidak mencurigai apapun di antara mereka, aku merasa ayah seperti itu karena ibu membeda-bedakan kamu dan ayah tidak suka itu, dan ibu seperti ini karena rindu Mbak Amel." ucap Tasya.
Darel tidak bisa mengatakan apapun karena Tasya sangat berfikir positif pada Ayah dan ibu nya, akhirnya dia memilih untuk diam dan mencari tau sendiri.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat yah, masih sakit gak?" tanya Darel memegang perut Tasya. Tasya mengangguk.
"Aku takut kalau aku anak kita kenapa-kenapa kak." ucap Tasya.
"Ya udah nanti kalau sudah sedikit sehat, kita USG periksa janin nya yah, sekarang kamu harus istirahat." ucap Darel. Tasya memeluk suaminya.
"Aku ingin kakak di sini nemenin aku." ucap Tasya. Darel mengangguk. "Kakak di sini kok. Kamu jangan takut." ucap Darel. Dia membantuku Tasya untuk berbaring.
Darel mengelus-elus perut Tasya.
"Seharusnya di usia kandungan yang sangat muda seperti ini kamu harus lebih banyak Istirahat, kakak semakin khawatir dengan kandungan kamu, tapi kakak tidak bisa melarang keinginan kamu untuk merawat ibu kamu." ucap Darel.
Tasya Menatap Darel. "Ini saatnya aku berbakti pada orang tua ku Kak, kapan lagi aku bisa berbakti pada mereka!" ucap Tasya.
"Ya sudah kalau begitu kakak paham kok, kakak akan selalu mendukung kamu kok." ucap Darel, Tasya tersenyum.
"Kamu sudah makan?" tanya Darel, Tasya menggeleng kan kepala nya.
"Ya udah kakak beli makanan keluar, kamu tunggu di sini aja yah." ucap Darel. Tasya mengangguk.
Setelah Darel pergi ponsel Tasya berdering panggilan dari Alex.
"Kak Alex! Kenapa dia menelpon ku malam-malam seperti ini? Bagaimana kalau kak Darel salah paham." ucap Tasya. namun dia penasaran kenapa Alex menelpon nya.
"Iyah Halo kak,"
"Halo Tasya! Bagaimana kabar kamu? aku ganggu kamu gak?" tanya Alex. "Enggak kok kak, emang kenapa?" tanya Tasya.
"Kenapa terdengar seperti bunyi alat di rumah sakit? Apa kamu sedang di rumah sakit?" tanya Alex.
__ADS_1
"Tiba-tiba tadi perut ku sakit dan segera di periksa, sekarang aku lagi di rawat di sini." ucap Tasya.
"Loh Kok bisa Tasya?" tanya Bela langsung. Seketika Tasya langsung kaget mendengar suara Bela.
"Yah namanya juga kecapean, tapi ngomong-ngomong kalian berdua sedang bersama yah?" tanya Tasya.
"Iyah Nih, kebetulan lagi Makan malam di luar." ucap Alex.
"Yakin lagi di luar?" tanya Tasya seakan-akan tidak percaya.
"Yakin lah, kamu jangan curiga gitu." ucap bela.
"Gak usah marah dong kalau begitu." ucap Tasya.
"Oh iya tumben banget kalian nelpon aku malam-malam, ada apa?" tanya Tasya.
"Hum Minggu depan aku ulang tahun, aku mau kamu datang bawa Stevan, raya dan juga suami kamu." ucap Bela.
"Oh iya yah, aku hampir lupa. Maafin aku yah." ucap Tasya.
"Bisa kan kamu datang?" tanya Bela.
"Ya ampun kok bisa ibu kamu sakit? Aku salut deh sama kamu, dia sangat membenci kamu, tapi kamu tetap baik dan perduli pada nya, kalau aku sih tidak akan mau repot-repot.,x ucap bela.
"Ih sayang kamu ngomong apa sih? Bicara yang baik, jangan ikut campur urusan orang lain!" ucap Alex.
"Ibu Tasya itu sangat jahat pada Tasya yank, kamu tau waktu itu Omah, Opah dan Tasya tidak mempunyai uang untuk membayar wisuda Tasya. Dia minta tolong pada Ibu nya dan ayah nya tidak di kasih malah di marahin." ucap Bela.
"Aku mau membantu namun Tasya tidak mau, karena dia tau aku juga butuh, akhirnya dia meminta pada kakak ipar nya yang sekarang jadi suami nya, dan alhasil semua nya terbayar lunas." ucap Bela.
"Humm kamu sangat ingat jelas yah." ucap Alex.
"Bukan hanya itu saja, bahkan ibu nya menyumpahi Tasya tidak berhasil dan tidak mendapatkan jodoh." ucap Bela.
"Seperti nya Kalian pacaran yah, panggilan nya sosweett banget." ucap Tasya.
"Hum kamu benar, kami sudah pacaran sekarang." ucap Bela. "Bagus deh kalau begitu. Kalian berdoa memang sangat cocok. Kak Alex pendiam dan juga Bela yang petakilan." ucap Tasya. Mereka berdua tertawa.
"Sekarang bagaimana keadaan ibu kamu?" tanya Bela.
__ADS_1
"Huff sulit untuk dijelaskan, keadaan nya semakin parah, penyakit nya tidak bisa di sembuhkan, penyakit nya mengakibatkan kelumpuhan total pada tubuh nya." ucap Tasya.
Bela seketika terdiam.
"Ya Allah kenapa bisa seperti itu? Padahal kemarin sehat-sehat saja." ucap Bela.
Tidak beberapa lama Darel datang.
"Lagi ngomong sama siapa sayang? Siapa yang nelpon kamu malam-malam seperti ini?" tanya Darel.
Tasya menguatkan suara panggilan telepon.
"Hay Pak, saya mau mengundang Tasya untuk ke acara ulang tahun saya Minggu depan, sekalian bapak juga, saya harap Bapak bisa datang yah." ucap Bela.
"Kami tidak bisa berjanji, tapi insyaallah kamu akan datang kalau tidak ada halangan." ucap Darel.
"Ya udah kalau begitu kalian lanjut lah pacaran, aku mau berduaan juga dengan suami ku. Ini hubungan yang halal." ucap Tasya.
Bela tertawa karena di sindir langsung oleh sahabat nya itu.
"Bela pacaran dengan siapa? Kenapa kelihatan sangat akrab dengan kamu?" tanya Darel.
"Dengan kak Alex, aku yakin mereka diam-diam tinggal bersama namun tidak jujur." ucap Tasya.
"Emang kamu gak pernah yah kaya gitu?" tanya Darel, Tasya menggeleng kan kepala nya.
Seketika Tasya terdiam dia mencerna kata-kata Darel.
"Atau jangan-jangan sebelum nya kakak pernah kumpul kebo sama pacar kakak dulu." ucap Tasya.
Darel mengangguk.
"Dengan mbak Amel dulu kakak tinggal satu rumah, tapi kamu jangan berfikir yang aneh-aneh dulu, kakak dengan mbak Amel satu rumah sebelum nya sudah Menikah sirih terlebih dahulu." ucap Darel.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like komen dan vote sebanyak-banyak nya biar author tambah semangat lagi. Terimakasih 🙏***
__ADS_1