Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 163


__ADS_3

"Huff ternyata kakak belum suami yang mempunyai pengalaman luas." ucap Darel.


Tasya tersenyum.


"Ya sudah kakak istirahat yah, aku mau melanjutkan Beberapa pekerjaan ku yang belum selesai."


"Kenapa tidak besok saja? ini sudah larut malam." ucap Darel.


"Aku harus mengirim besok pagi."Darel menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau begitu, setelah selesai Istirahat lah." ucap Darel.


"Baik kak, selamat malam tidur yang nyenyak." Tasya memberikan kis online yang berhasil membuat Darel senyum-senyum sendiri.


Tasya menutup telepon nya. Dia menghela nafas panjang.


Namun tiba-tiba pesan masuk ke handphone nya.


"Kamu jangan senang dulu karena sudah tidak ada aku di sana, namun aku akan kembali merebut Darel."


Tasya bingung dari siapa pesan itu, dia penasaran dan melihat foto profil nya ternyata Clara.


Tasya membalas nya.


"Rebut saja kalau bisa, karena orang yang berniat jahat tidak akan pernah berhasil dalam rencana nya." ucap Tasya.


Sengaja dia mengirim kan foto berdua diri nya dengan suami nya.


"Bagaimana? Apa kamu yakin mau merebut nya dari aku? Bahkan dia sama sekali tidak mau jauh-jauh dari ku." Tasya tidak mau kalah.


Clara yang tadi nya tidur dengan santai Seketika dia langsung bangun.


"Cihh sangat menjijikkan." dia panas melihat foto itu.


Seketika dia mengingat kalau kamar yang sekarang di tempati nya adalah kamar Tasya.


"Bersenang-senang lah terlebih dahulu karena suatu saat nanti aku akan merebut posisi itu, bahkan aku sudah berhasil merebut posisi kamu di rumah kamu sendiri." ucap Clara mengirimkan foto nya beserta kamar Tasya.


"Hahaha!! Dia pikir aku akan cemburu? Kamar itu sudah lama tidak milik ku lagi." ucap Tasya.


Dia mengirim foto kamar nya dengan suami nya yang begitu luas dan sangat mewah.


"Aku tidak iri sama sekali, karena aku mendapat kan lebih dari itu, aku memang bukan wanita kaya namun aku masih bisa mendapatkan kebahagiaan tampa mengganggu kehidupan orang lain." Tasya langsung mengakhiri Chatan dan tidur.


Baru saja dia lelap tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk. Tasya langsung membuka nya.


"Stevan! Kok belum tidur nak?" tanya Tasya. Namun tiba-tiba Stevan menangis sambil memegang perut nya.

__ADS_1


"Kenapa nak?"


"Cakitt..." Ucap nya sambil menangis.


"Loh kok bisa sakit? Kamu ke kamar mandi? Ayo Mamah anterin." ajak Tasya. Namun Stevan menggeleng kan kepala nya.


"Obat! Obat." Stevan meminta obat.


"Obat apa? Mamah gak tau kenapa bisa sakit, ayo Mamah periksa dulu." Tasya mengendong ke dalam. Dia memeriksa perut Stevan yang kembung dia mengoles minyak kayu putih.


Namun Stevan tidak berhenti menangis, Tasya sudah mengendong nya namun dia tidak berhenti menangis dan mengeluh sakit. Tidak biasa nya anak nya seperti ini dia khawatir dan memanggil Omah dan ayah nya.


Mereka langsung membawa ke rumah sakit.


Stevan ternyata salah makan. Dia meminum minuman yang di beli oleh Tasya sebelum nya padahal larangan keras untuk anak kecil karena sangat asam.


Ayah nya menegur Tasya yang merasa sangat bersalah. Darel mendengar anak nya sakit langsung panik dia menelpon Tasya namun tidak di angkat karena Tasya menjaga Stevan di rumah sakit.


Darel menelpon Omah menanyakan keberadaan anak nya dan berbicara dengan Tasya.


"Apa yang terjadi pada Stevan?" tanya Darel dengan suara yang sangat panik.


"Perut nya sakit kak, karena meminum minuman yang ada di kulkas."


"Minuman di kulkas? Tidak ada minuman yang berbahaya di kulkas."


"Ya ampun Tasya! Kenapa kamu sangat keras kepala sih? karena kamu keras kepala lihat Stevan jadi kena." ucap Darel.


"Aku minta maaf kak, aku gak tau bakal seperti ini."


"Kamu di rumah, Omah di rumah bahkan ada baby sitter tapi tetap saja Stevan tidak di awasi! kamu hanya sibuk bekerja!" ucap Darel.


Tasya hanya bisa diam karena itu adalah salah nya.


"Sekarang bagaimana keadaan Stevan?" tanya Darel.


"Masih di infus Kak," Darel terlihat sangat khawatir dia menghela nafas beberapa kali.


"Kamu tidak boleh bekerja sebelum Stevan sembuh!" ucap Darel langsung mematikan sambungan telepon.


Tasya menghela nafas panjang dia masuk.


"Kamu sudah bangun nak?" tanya Tasya.


"Mamah." Stevan memegang tangan Tasya.


"Maafin Mamah yah nak, karena Mamah tidak memerhatikan kamu, kamu jadi seperti ini." ucap Tasya memeluk Stevan.

__ADS_1


"Sudah jangan ambil hati kata-kata suami kamu! itu adalah hal biasa ketika mendengar Anak nya sakit."


"Ini salah aku Omah, aku sibuk kerja seharian."


"Tidak hanya kamu Tasya, justru omah yang ada di rumah sangat merasa bersalah Omah lengah."


Tasya mengelus perut Stevan.


"Masih sakit yah nak?" Stevan mengangguk.


"Sabar yah sayang, bentar lagi kita pulang kalau infus nya sudah habis." ucap Tasya.


Tasya menemani anak nya sampai jam satu malam, dan setelah itu pulang ke rumah.


Sepanjang malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kefikiran sakit anak nya.


Walaupun Stevan tidur dengan nyenyak namun dia tetap gelisah karena Stevan Terus memegang perutnya, dan lagi dia memikirkan Darel marah pada nya.


Karena tidak bisa tidur dia membuka handphone nya dan ternyata Bela belum tidur, Tasya langsung menelpon nya dan curhat tentang anak nya.


Bela sedikit membuat nya tenang. cukup lama mereka berbincang-bincang dan akhirnya jam empat subuh dia bisa tidur.


Jam enam dia sudah bangun karena Stevan merengek membangun kan nya.


"Minum mamah." minta Stevan. Tasya langsung mengambil air hangat. Dia melihat wajah Stevan yang sangat pucat.


Tiba-tiba perut nya mual dia ke kamar mandi, perut nya dan kepala nya pagi ini sangat mengganggu aktivitas nya.


Dia harus masak pagi ini, dia menitipkan Stevan pada suster.


"loh kamu sudah masak Tasya?" tanya Omah baru saja bangun namun melihat sarapan hampir masak semua.


"Iyah Omah, aku harus Masak bubur untuk Stevan, Omah tunggu sebentar yah, aku akan menyelesaikan nya." ucap Tasya.


"Kamu kasih Stevan makan aja, biar Omah sama Bibi yang menyiapkan nya, ini hampir selesai." ucap Omah.


Tasya tersenyum.


"Makasih yah Omah." ucap Tasya. dia membawa Susu untuk Stevan dan juga sarapan nya agar Stevan segera minum obat.


"Makan dulu yah nak, biar cepat sembuh." ucap Tasya pada Stevan, namun Stevan masih kelihatan sangat lemas.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya biar author tambah semangat lagi. Terimakasih 🙏***

__ADS_1


__ADS_2