
"Ternyata kakak sama Mamah kakak Sama yah, menuduh yang tidak saya lakukan sama sekali. terserah apa yang kakak katakan aku tidak perduli." ucap Tasya.
Candra langsung menepis tangan Darel dari kerah bajunya.
"Sebelum Anda sadar apa yang telah anda lakukan jangan berharap bisa kembali ke kehidupan Tasya." ucap Candra.
Darel seketika terdiam mendengar kata-kata Candra.
"Apa maksud kamu?" tanya Darel.
Candra tersenyum tipis.
"Anda memang sangat cocok jadi pemimpin di perusahaan atau di segala bisnis, namun tidak cocok jadi pemimpin di rumah tangga." ucap Candra.
"Jangan ikut campur!" ucap Darel mau menghajar wajah Candra namun di tahan oleh Candra mendorong nya kuat.
"Lebih baik anda merenung kan semua nya sendiri." ucap Candra menarik koper Keluar. Tasya mengikuti Candra bersama anak nya namun Di Tahan oleh Darel.
"Tasya kakak mohon pikir kan baik-baik." ucap Darel. Tasya melepaskan tangan Darel dari lengan nya.
"Yang di katakan pak Candra benar, lebih baik kakak merenungkan semua nya dulu." ucap Tasya.
Darel Terdiam. Tasya pun langsung keluar.
Kedua mertua nya sudah menunggu di luar mempersilahkan Tasya pergi. Darel mengejar mereka menahan namun dia tahan oleh kedua orang tua nya agar tidak menghalangi istri nya pergi.
"Sebelum kamu pergi jangan pernah untuk berfikir kembali lagi pada putra saya." ucap Buk Tima.
"Yang mamah minta Akan aku Kabul kan, semoga mamah, papah dan semua keluarga ini bahagia. Aku juga Akan lebih bahagia jika tidak bertemu lagi dengan Darel. Terimakasih selama ini Mamah sudah pernah pernah perduli dan baik pada ku. Walaupun Sakit yang Mamah berikan lebih banyak. Aku minta maaf kalau aku benar-benar salah di mata mamah. Assalamualaikum." ucap Tasya.
"Banyak drama banget, dasar kamu nya saja yang tidak tau untung." ucap Tania.
Tasya sama sekali tidak perduli.
"Tasya jangan pergi. Raya Stevan! bujuk mamah agar tidak pulang nak." ucap Darel.
"Papah kami sayang papah." ucap Raya mereka memeluk papah nya.
"Tapi kami harus ikut Mamah, kami sangat merindukan mamah Pah." ucap Raya. Darel sangat tidak bisa melepaskan mereka.
"Ayo anak-anak kita berangkat." ajak Tasya.
"Kami permisi." ucap Tasya. Mereka pun pergi meninggalkan rumah itu.
Hanya suara Darel yang kedengaran.
__ADS_1
Di dalam mobil Candra memangku Stevan sementara Raya ada duduk di tengah-tengah mereka.
"Sus kenapa Raya tidak jadi sekolah?" tanya Tasya.
"Raya selalu menangis dan tidak mau sekolah di sana Non." jawab suster.
"Dan selama di sana Raya dan Stevan bergantian sakit." ucap Suster. "Lalu kenapa tidak satu pun yang menghubungi aku?" tanya Tasya.
"Kami di larang oleh Ibu Non. Bahkan Pak Darel di larang untuk memegang ponsel nya. kasihan pak Darel tidak bisa melakukan apapun pada saat itu." ucap suster.
Tasya terdiam. "Kamu baik-baik saja kan?" tanya Candra karena melihat Tasya tiba-tiba diam.
"Aku berbohong jika aku bilang aku baik-baik saja." ucap Tasya.
Candra tersenyum.
"Kamu pasti bisa, kamu bisa melewati cobaan yang begitu berat ini, kamu harus bisa." ucap Candra.
Tasya tetap diam.
"Saya akan selalu ada di samping kamu." ucap Candra. Tasya menatap wajah Candra.
Mereka cukup lama bertatapan namun Tasya langsung memalingkan pandangannya.
Candra tersenyum. "Saya senang kalau kamu bisa berkumpul lagi dengan anak-anak kamu." ucap Candra. Tasya mengelus perut nya.
Keesokan harinya mereka telah sampai di Indonesia. Candra meminta supir nya untuk menjemput mereka. Candra mengantarkan mereka terlebih dahulu ke rumah orang tua Tasya.
Tasya sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah suaminya semua fasilitas yang di kasih oleh suami nya karena sudah lama juga dia tidak menggunakan nya.
Sampai di sana Nenek dan Kakek nya menyambut dengan sangat meriah bahkan membuat dekorasi yang sangat bagus untuk menyambut mereka karena Tasya mengabari mereka kalau Raya dan Stevan ikut.
Bu Mita melihat Tasya dia langsung memeluk nya.
"Putri ibu adalah wanita yang sangat kuat. Kamu pasti bisa nak." ucap Bu Mita. Tasya tersenyum sambil mengangguk.
"Ayah sama Ibu tidak masalah kan kalau kami tinggal di sini?" tanya Tasya.
"Pertanyaan seperti apa itu nak? Ini adalah rumah kamu juga, Ayah dan ibu Akan sangat senang kamu mau tinggal di sini." ucap Bu Mita.
Mereka terlihat sangat bahagia.
Candra yang melihat nya tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit pulang yah Bu. Pak, Tasya." ucap Candra.
__ADS_1
"Tunggu dulu pak. Bapak istirahat dulu. aku akan membuat Teh." ucap Tasya. "Tidak perlu repot-repot Tasya, kamu istirahat saja." ucap Candra.
"Justru bapak yang harus banyak istirahat. Sepanjang perjalanan yang mengurus anak-anak adalah bapak dengan Suster, bahkan saat aku mabuk bapak harus tetap siaga." ucap Tasya.
Candra akhirnya duduk. sebenarnya dia juga tidak ingin pulang cepat.
Mereka membawa Raya dan Stevan istirahat.
"Silahkan di minum dan makan kue nya Pak." ucap Tasya duduk di sofa sambil tersenyum. Candra mengangguk sambil tersenyum.
"Humm Apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan bapak? Saya tidak memiliki banyak uang untuk membayar bapak. Bahkan mungkin membayar bapak pasti sangat mahal." ucap Tasya.
Candra tersenyum.
"Kamu bisa membayar saya kembali dengan cara menjaga kesehatan kamu dan juga jangan sedih, harus semangat dan selalu tersenyum, abaikan Apa yang telah terjadi kamu harus bahagia." ucap Candra.
Tasya tersenyum.
"Seperti ini?" tanya Tasya. sambil memaksa untuk tersenyum. Candra menggeleng kan kepala nya.
"Bukan senyuman seperti yang saya minta. Senyuman yang ikhlas, senyuman bahagia dan tidak ada beban sama sekali." ucap Candra.
"Butuh waktu untuk melakukan itu pak. Itu bukan bayaran untuk bapak melainkan untuk saya sendiri." ucap Tasya.
"Saya ingin kamu selalu mau menerima bantuan saya, karena setiap bersama kamu saya merasa bahagia dan sangat nyaman." ucap Candra.
Tasya tersenyum dia mengangguk.
"Bapak adalah orang yang sangat baik. Tidak ada alasan saya untuk menjauhi bapak atau menolak bantuan bapak, karena mungkin selanjutnya saya akan lebih merepotkan bapak." ucap Tasya.
Candra tertawa kecil.
"Saya menanti kapan kamu akan merepotkan saya." ucap Candra. Tasya tersenyum sambil tertawa kecil.
"Kamu cantik kalau senyum." ucap Candra. Lagi-lagi Tasya tersipu malu.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1