Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 156


__ADS_3

"Jawab kak!" ucap Tasya.


"Kita bicarakan nanti yah, jangan sekarang." ucap Darel. Tasya menghela nafas panjang.


"Itu artinya kakak benar-benar memilih keputusan orang tua kakak, aku tidak apa-apa kok." ucap Tasya langsung meninggalkan bandara.


"Mamah! Mamah!" panggil Raya mengejar.


"Sekali lagi Omah tegas kan sama kamu, jadi lah suami yang tegas, berani memimpin dan juga bertanggung jawab."


Omah pergi menyusul Tasya.


"Bagaimana ini Darel? Aku tidak mau hubungan kita putus begitu saja hanya karena orang tua itu." ucap Clara.


Darel menatap Clara.


"Kamu masih berfikir itu di saat-saat seperti ini?" ucap Darel.


"Aku tidak mau kamu meninggalkan aku." ucap Clara.


"Kamu tidak berfikir sama sekali!" ucap Darel Langsung pergi.


Tasya dan Omah nya langsung pulang ke rumah.


"Tasya! Tasya panggil Omah menahan Tasya mau masuk ke kamar.


"Kamu gak apa-apa kan?"


"Omah jangan khawatir, aku baik-baik saja." ucap Tasya.


Omah menghela nafas panjang.


"Aku mau istirahat Omah, Omah juga istirahat lah." ucap Tasya dan masuk ke kamar nya.


Tidak beberapa lama Darel datang.


"Mana Tasya Opah?" tanya Darel.


"Dia seperti nya ke kamar dengan Omah."


Darel langsung naik ke atas.


"Mana Tasya Mah?" tanya Darel.


"Dia mau istirahat kata nya mau ke kamar." ucap Omah.


"Aku akan ke kamar." ucap Darel.


"Tunggu dulu! jangan berbicara terlalu keras pada nya." ucap Omah. Darel hanya diam dia langsung masuk ke kamar.


Dia melihat istrinya sedang berbaring menyamping. Namun melihat Darel dia malah membalikkan badannya membelakangi Darel.

__ADS_1


"Jangan tidur menyamping ke sana, itu tidak baik untuk kandungan kamu." ucap Darel sambil menarik Tasya agar ganti posisi.


"Jangan ganggu aku dulu kak, aku lagi tidak mau di ganggu." ucap Tasya. Darel menghela nafas panjang.


"Kakak minta maaf sudah membuat kamu kecewa dengan ketidak jujuran kakak, namun kakak melakukan itu demi kebaikan kamu."


Tasya menoleh ke arah Darel.


"Kebaikan? Kebaikan apa yang kakak bilang? Justru aku merasa sangat sakit Ketika mengetahui nya dari orang lain dan itu adalah Omah." ucap Tasya.


Kakak minta maaf," ucap Darel memegang tangan Tasya.


"Kakak menikah dengan ku namun kakak setuju untuk pacaran dengan Clara, itu sama saja kakak menghianati aku, kakak menyakiti perasaan ku."


"Kalau aku tau syarat dari orang tua kakak dan orang tua aku seperti ini, lebih baik aku tidak menikah dengan kakak." ucap Tasya.


Darel menatap Tasya. Air mata nya keluar. Sementara Tasya terlihat sangat marah.


"Aku serba salah, aku bingung harus melakukan apa sekarang." ucap Darel.


"Kenapa kakak harus bingung? Kakak hanya perlu memilih aku atau orang tua kakak." ucap Tasya.


"Kalian sangat lah berarti bagi kakak, kakak tidak bisa membantah kedua orang kakak, kakak juga tidak bisa hidup tanpa kamu." ucap Darel sambil menangis.


Tasya menghela nafas panjang.


"Dulu aku di posisi seperti ini harus cepat mengambil keputusan, dan sekarang kakak juga harus seperti itu." ucap Tasya.


Tasya mengingat di mana dia harus memilih untuk melanjutkan mengejar cita-cita nya atau menikah, namun tidak ada waktu dia harus cepat memutuskan untuk memilih apa dan Darel sangat mengekang nya dulu.


"Itu artinya kakak akan tetap menikah dengan Clara setelah aku melahirkan kan? Lalu untuk apa Kita menikah?" ucap Tasya.


"Sayang aku cinta kamu, aku tidak mau kita berpisah dan kakak tidak mencintai Clara!" ucap Darel.


Tasya menghela nafas panjang.


"Sudah lah tidak ada keputusan yang pasti dari kakak, ini semakin membuat aku pusing." ucap Tasya.


Tasya turun dari kasur.


"Kamu mau kemana?" tanya Darel.


"Mencari angin, mencari udara yang segar dan tempat yang nyaman." ucap Tasya keluar dari kamar.


Namun ternyata Clara baru sampai di rumah. Tasya mendekati nya.


"Kenapa kamu kembali ke rumah ini? Apa kamu masih mempunyai nyali untuk tinggal di rumah ini? Apa kamu tidak sadar Siapa kamu di sini?" ucap Tasya.


Clara menoleh ke arah Darel.


"Aku di sini karena ini adalah rumah pacar ku, yang tentunya hubungan kami di restui, bukan seorang istri tapi tidak di anggap." ucap Clara.

__ADS_1


"Jaga mulut kamu yah! Justru kamu di sini berprofesi sebagai pelakor yang tidak tau malu, seperti tidak ada lelaki lain saja." ucap Tasya.


"justru kamu dan almarhum kakak kamu yang merebut Darel dari aku, karena kami sudah bersama dari muda." ucap Clara.


Tasya menghela nafas panjang.


"Tapi arti nya saya yang menang, saya yang mendapat kak Darel." ucap Tasya.


Clara semakin panas dan kesal.


Tasya meletakkan tangan Clara di perut nya.


"Kamu tau ini anak siapa? Ini adalah anak kak Darel. Jadi jangan berharap kamu bisa mengambil posisi saya walaupun mertua mau pun ibu saya mendukung kamu dan membantu." ucap Tasya.


Tasya langsung keluar. Clara seketika merasa sangat kesal dia malu dan langsung masuk ke kamar.


"Heh! Ngapain kamu masuk ke kamar? Kamu bukan anggota keluarga sini lebih baik keluar dari rumah Cucu saya." ucap Omah.


"Darel!" ucap Clara.


"Omah dia memang tinggal di sini beberapa bulan lagi." ucap Darel.


"Oke kalau dia masih tinggal di sini, Omah Akan membawa Tasya ke Bandung." ucap Omah.


"Jangan Omah," ucap Darel langsung takut.


"Baik lah, Clara akan keluar dari rumah ini tapi aku mohon jangan bawa Tasya pulang ke Bandung Omah." ucap Darel.


"Gak bisa gitu dong Rel, terus aku di mana tinggal nya? Tante sama Om sudah membuat kesepakatan kalau aku akan tinggal di sini." ucap Clara.


Darel hanya diam saja.


"Ya udah kejar istri kamu sama! Biar Stevan sama Raya Omah yang jagain." ucap Omah.


Darel mengangguk dia pun mengejar Tasya yang membawa mobil sendirian.


"Apa yang kamu tunggu? Keluar dari rumah ini!" ucap Omah pada Clara.


"Saya tidak mau! Justru Omah yang keluar dari rumah ini, karena Cucu Omah itu hanya menumpang di sini!" ucap Clara.


Omah tertawa.


"Lalu kamu di sini bukan menumpang? Apa kamu sedang tidak sadar diri?"


Clara seketika langsung mati kata-kata. Dia tidak bisa lagi melawan Omah.


"Kamu cantik, wanita karier dan keluarga terpandang tapi suka nya sama suami orang. Omah aja dulu waktu seusia kamu masih di perebutkan pria-pria tampan." ucap omah dengan sombong.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.

__ADS_1


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya..


biar author tambah semangat lagi.. Terimakasih 🙏***


__ADS_2