Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 60


__ADS_3

"Sudah kok Bu, tapi pasien belum sadar. Jangan di ganggu dulu Yah Bu." ucap suster.


"Saya boleh menemani nya di dalam?" tanya Tasya, suster mengangguk.


Dia pun langsung masuk dia melihat Darel dengan wajah pucat tidur di ranjang rumah sakit yang sangat dingin itu.


Dia duduk di kursi sambil memerhatikan Darel.


"Kenapa kakak gak ngomong kalau kakak punya penyakit jantung." ucap Tasya.


Dia memandangi wajah Darel terus sampai dia ketiduran.


Keesokan harinya Tasya terbangun karena Suster datang.


"Permisi Bu, kami ganti infus pasien nya dulu yah." ucap suster, Tasya menyingkir sedikit dia melihat Darel yang Masih belum sadar kan diri.


"Sus kenapa dia belum sadar?" tanya Tasya.


"Oohhh itu biasa Bu karena Reaksi Obat nya, dan juga pasien masih sangat lemah." ucap suster.


Tasya terdiam. Setelah suster keluar dia melihat jam sudah jam enam pagi.


"Huff ruangan ini sangat dingin kenapa kakak masih sangat nyenyak tidur? Kakak tidak suka dengan ruangan yang dingin, ayo bangun Kak." ucap Tasya.


Darel sama sekali tidak merespon, Tasya mengelus pipi Darel yang sudah sangat pucat.


"Kak! Ayo bangun. Aku sangat khawatir aku ingin mendengar suara kakak." ucap Tasya. Darel sama sekali tidak merespon.


Dia mengingat di saat dia menghindari Darel di kamar saat mau memegang tangan nya Membuat nya merasa bersalah.


"Seandainya aku tidak menghindari Kak Darel semua nya pasti tidak akan seperti ini." ucap nya menyalah diri nya sendiri.


Dia memberanikan diri untuk memegang tangan Darel yang tidak di infus.


"Kak bangun!" ucap Tasya dengan lirih sehingga air mata nya keluar.


"Ayo bangun kak, aku kangen suara kakak." ucap Tasya mengoyang badan Darel namun Darel sama sekali tidak merespon.


Tasya mendengar kan detak jantung Darel yang sangat lambat.


Dia semakin khawatir.


"Detak jantung nya sangat lemah." ucap Tasya. Dia mengelus kepala Darel sambil menangis. Dia meletakkan kepalanya di samping kepala Darel sambil memegang tangan Darel.


"Aku minta maaf kak, aku salah. Kakak harus bangun. Kalau kakak bangun aku janji gak akan menentang kakak lagi, aku mohon." ucap Tasya Terus menangis.


Darel yang merasa kuping nya basah perlahan dia menggerakkan tangan nya.


"Aarrhhhh!" dia mulai mengeluarkan suara. Tasya seketika langsung bangun dia melihat Darel Sadar.


"Kak! kakak sudah bangun?" ucap Tasya sangat senang dia langsung memanggil dokter. Setelah selesai di periksa dokter Tasya masuk lagi ke dalam.

__ADS_1


Darel melihat Tasya masuk dia tersenyum.


Tasya berjalan mendekati Darel.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Darel dengan suara yang sangat lemas.


"Kakak jangan banyak gerak dan berbicara dulu. Aku akan mengambil kan air minum." ucap Tasya.


Setelah Darel minum Tasya duduk di kursi.


"Bagaimana keadaan kakak sekarang?" tanya Tasya.


"Kepala kakak sangat pusing, badan kakak semua nya pegal." ucap Darel.


"Itu pengaruh obat, kakak harus Sabar dan harus segera sembuh." ucap Tasya.


"Anak-anak mana?" tanya Darel.


"Mereka tidak di ijinkan masuk Kak, jadi Bibi membawa nya pulang." ucap Tasya.


"Huff maafkan kakak sudah merepotkan kamu." ucap Darel. Tasya menggeleng kan kepala nya.


"Gak apa-apa kok kak, justru aku yang harus minta maaf karena sudah membuat kakak seperti ini." ucap Tasya.


"Jangan menyalah kan diri kamu, kakak tidak suka kamu tidak ada salah apa-apa." ucap Darel.


Tasya terdiam.


"Penyakit apa? Ini hanya penyakit karena kecapean kurang istirahat." ucap Darel.


"Kakak jangan berpura-pura tidak tau, kakak mempunyai penyakit jantung kan?" ucap Tasya. Darel terdiam.


"Apa kakak akan sama seperti Kaka Amel? Apa kakak tega melakukan ini pada kamu semua? Dan kakak kenapa tidak mengobati nya?" tanya Tasya.


"Kakak sedang proses pengobatan, kakak tidak ingin orang lain tau." ucap Darel.


"Tidak bisa! Om sama Tante harus tau, dan juga Omah sama Opah." ucap Tasya menelpon mereka.


"Tasya! Tasya! kakak mohon jangan! jangan sya!" ucap Darel langsung mengambil handphone Tasya.


Tasya menatap Darel.


"Apa Kakak mau seperti Kaka Amel? Apa Kakak tega meninggalkan Raya dan Stevan sama seperti yang di lakukan kak Amel?" tanya Tasya mulai menaikkan suara nya tidak tahan menahan air mata nya.


Darel terdiam.


"Kakak hanya tidak ingin kalian khawatir, proses penyembuhan nya sangat lama," ucap Darel.


"Tapi kenapa Kakak tidak berobat? Kenapa kakak Diam saja?" ucap Tasya. Darel terdiam. dia menarik tangan Tasya.


"Jangan menangis." ucap Darel tidak tahan melihat Tasya mengeluarkan air mata nya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kakak menyusul kak Amel. Kasihan Raya sama Stevan." ucap Tasya.


"Kakak Akan sembuh kamu jangan khawatir." ucap Darel.


Tasya menatap Darel.


"kakak harus segera berobat. Ini tidak bisa di biar kan." ucap Tasya.


"Pengobatan nya tidak ada di sini Tasya harus ke Jakarta. Aku tidak bisa meninggal kan kalian lebih Lama." ucap Darel.


"Kenapa kakak harus memikirkan kami di tinggal lebih lama Atau tidak sih? Kakak harus segera sembuh." ucap Tasya.


Darel terdiam.


"Aku tidak bercanda kak." ucap Tasya.


"Apa Kakak tidak bisa melupakan kak Amel? Kakak ingin menghampiri nya juga?" tanya Tasya. Darel menggeleng kan kepala nya.


"Bukan seperti itu." ucap Darel.


"Kakak harus segera sembuh. Kakak tidak boleh pulang dari Rumah sakit kalau belum sembuh." ucap Tasya.


Darel menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau ini permintaan kamu." ucap Darel. Tasya kembali duduk di kursi sambil menangis.


"Jangan nangis cantik! Kakak sudah putuskan untuk pergi berobat jangan sedih lagi." ucap Darel.


Darel menghapus air mata Tasya menggunakan tangan nya. Seketika Tasya menahan nya dia menggenggam tangan Darel yang sangat dingin sambil menangis.


"Aku tidak tega harus melihat raya dan Stevan di tinggal oleh kedua orang tua nya." ucap Tasya.


"Kamu mengkhawatirkan kakak karena anak-anak. Kamu benar-benar tidak bisa membuka hati untuk kakak." batin Darel.


Dia mengelus kepala Tasya membawa nya kepelukan nya.


Tasya terus saja menangis.


"Maaf kan aku sebagai istri tidak bisa mengurus kakak." ucap Tasya.


"Cup...cupp..cupp.. Jangan Nangis lagi, kamu gak salah kok " ucap Darel.


Darel menenangkan Tasya yang menangis tersedu-sedu di dada Darel. Darel yang di peluk oleh Tasya merasa senang karena mendapat kan pelukan.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


like komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


terimakasih 🙏***


__ADS_2