Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 207


__ADS_3

Buk Adel menggeleng kan kepala nya.


"Ibu cerita kan saja buk, mungkin dengan cara itu Ibu bisa lega, ibu menghilangkan semua beban yang ada pada pikiran ibu." ucap Tasya.


"Iyah buk, coba cerita apa yang sebenarnya terjadi, kami sama sekali tidak paham." ucap Riski memegang tangan Ibunya.


Buk Adel seperti orang gugup dia jadi kebingungan dia menatap wajah Tasya dengan Riski.


"Ibu hanya tidak ingin kalian kecewa nak, ibu takut menceritakan nya." batin buk Adel. "Kamu akan selalu ada untuk ibu, apa ada seseorang yang menganggu ibu?" tanya Tasya. Buk Adel menggeleng kan kepala nya.


Tasya dan Riski terus memaksa buk Adel untuk menceritakan semua nya, namun tiba-tiba kepala buk Adel pusing.


"Sudah-sudah jangan di paksa sayang, Biar kan ibu bercerita sendiri kalau dia sudah siap. Tolong kasih dia waktu." ucap Darel.


"Sampai kapan lagi kak? Bahkan aku sudah putus asa menunggu ibu jujur apa yang sedang dia pikirkan." ucap Tasya.


"Yang sabar Sayang, Ibu pasti mempunyai alasan sendiri itu sebab nya dia tidak bercerita." ucap Darel.


Tasya menghela nafas panjang.


"Maafin aku yah buk, aku tidak berniat untuk membuat ibu seperti ini." ucap Tasya. Dia pun membantu buk Adel kembali tidur di kasur.


Melihat wajah ibu nya dia sangat merasa iba.


Tidak beberapa lama dokter datang.


Tasya dan semua nya di suruh Keluar dulu sementara demi ketenangan pasien.


"Buk, pak saya pulang duluan yah, ini sudah sore." ucap ayu. Tasya dan Darel mengangguk.


"Makasih yah sudah mau datang menjenguk ke sini." ucap Tasya. Ayu mengangguk.


"Aku nganterin dia ke parkiran dulu ya mbak." ucap Riski, Tasya mengangguk.


"Adik kamu benar-benar pria yang sangat pandau menggoda." ucap Darel, Tasya tersenyum.


Tidak beberapa lama dokter keluar.


"Bagaimana keadaan ibu Dok?" tanya Tasya.


"Keadaan nya semakin buruk, saya sudah bilang berulang kali agar tidak membebankan fikiran nya terlebih dahulu." ucap dokter.


Tasya terdiam.


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya Dok?" tanya Darel.

__ADS_1


"Sebaiknya Ibu dan bapak pulang terlebih dahulu, seperti nya buk Adel ingin sendirian, mungkin dengan sendiri dia bisa lebih tenang." ucap dokter.


"Baik dok, tidak masalah. Tapi kami mohon untuk Terus memantau Buk Adel." ucap Darel.


"Gak bisa dong kak seperti itu, bagaimana kalau ibu butuh sesuatu tengah malam." ucap Tasya.


"Tenang mbak, suster akan menjaga buk Adel di sini, mbak juga bisa istirahat di rumah dengan tenang, percaya pada kami yang bekerja di sini." ucap dokter.


Darel meyakinkan Tasya.


"Gak apa-apa sayang, di sini juga ada dokter dan juga suster yang jagain ibu." ucap Darel.


Tasya sedikit berat namun dia tidak mungkin memaksakan kehendak nya, akhirnya dia memilih untuk menginyakan saja.


"Saya mohon rawat ibu saya sampai sembuh yah dok, saya tidak akan bisa tenang kalau ibu saya masih kritis seperti itu." ucap Tasya.


"Baik Mbak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk buk Adel." ucap dokter.


Tasya menoleh ke arah Darel, Darel memeluk nya.


"Karena aku ibu jadi seperti ini kak, aku yang salah aku yang tidak berfikir efek nya tadi." ucap Tasya.


"Sudah-sudah jangan sedih lagi." ucap Darel.


"Iyah mah gak boleh sedih, nanti kalau Mamah sedih nenek juga sedih." ucap Tasya memeluk Tasya.


"Kenapa masih di luar mbak?" tanya Riski yang baru saja datang.


"Kita tidak bisa masuk ke dalam karena ibu seperti nya ingin sendiri, kita hanya mengganggu ketenangan ibu kalau masuk ke dalam." ucap Darel.


"Mungkin ibu belum siap di tanyain tentang masalah nya, lebih baik kita dukung ibu sampai sembuh saja." ucap Darel.


Riski pun akhirnya mengangguk. Mereka pulang dari rumah sakit.


Dua hari kemudian Tasya sedang siap-siap untuk berangkat ke Bandung.


"Mbak jadi berangkat yah ke Bandung?" tanya Riski.


"Iyahh dek, memang nya kenapa?" tanya Tasya sambil terus menata pakaian di dalam koper.


"Besok aku juga harus kembali mbak, aku tiba-tiba ada mata pelajaran yang harus di hadiri." ucap Riski.


"Sebaiknya kamu segera pergi Dek, lagian dokter Masih melarang kita ke rumah sakit, kita hanya bisa memantau Ibu melalui dokter." ucap Tasya.


"Tapi aku sangat khawatir mbak."

__ADS_1


"Kita sama-sama khawatir dan takut kok dek, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, justru ibu merasa sedih kalau kita sampai tertunda mau melaksanakan apapun karena mengurus nya." ucap Tasya.


Riski duduk di pinggir kasur.


"Berapa lama Mbak tinggal di sana?" tanya Riski.


"Mbak tidak bisa lama-lama dek, karena mbak masih bekerja." ucap Tasya.


"Nanti malam Mbak Akan berangkat, kamu besok harus berangkat juga yah. Nanti kalau semua nya sudah selesai kamu sudah kuliah online lagi, kamu pulang lagi ke sini." ucap Tasya.


Riski mengangguk.


"Nanti mbak kirim uang ke rekening kamu." ucap Tasya. Riski mengangguk.


"Kak Darel kemana Mbak? Kenapa dari pagi tadi tidak kelihatan?" tanya Riski.


"Ada yang di kerjakan oleh nya dari tadi keluar. Paling bentar lagi juga pulang." ucap Tasya.


"Aku bantuin yah mbak." ucap Riski sambil mengangkat koper besar. Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.


"Humm mbak tiba-tiba ingin Makan eskrim. Beli eskrim yok Keluar." ajak Tasya.


"Ayo mah, aku ikut. "Atu juga itut." ucap Stevan yang ikutan pada Raya.


Riski dan Tasya tertawa, akhirnya mereka pun pergi bersama mencari eskrim kesukaan mereka. Namun setelah beli eskrim Tasya tiba-tiba ingin jalan-jalan dia Bosan di rumah saja, anak-anak nya juga sudah jarang keluar.


Akhirnya mereka berbelanja di Living world yang tidak jauh dari tempat mereka beli Eskrim.


Seperti biasa Raya dan Stevan memborong semua mainan yang mereka suka, Tasya menarik tangan Riski ke toko sepatu.


"Mbak dulu sering di pilihin sama mbak Amel pakaian, sekarang mbak mau pilihin kamu sepatu main." ucap Tasya.


Riski tersenyum.


"Tumben sekali mbak mau memilih barang-barang untuk orang lain, dulu saja aku minta temanin belanja tidak mau." ucap Riski.


"Sudah biasa Mbak melakukan ini, kakak kamu Darel tidak pernah lagi membeli barang-barang pribadi nya sendiri, mbak yang selalu membeli nya." ucap Tasya. Riski pun tersenyum.


...----------------...


Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏


__ADS_2