
"Iyah Omah, aku harus Masak bubur untuk Stevan, Omah tunggu sebentar yah, aku akan menyelesaikan nya." ucap Tasya.
"Kamu kasih Stevan makan aja, biar Omah sama Bibi yang menyiapkan nya, ini hampir selesai." ucap Omah.
Tasya tersenyum.
"Makasih yah Omah." ucap Tasya. dia membawa Susu untuk Stevan dan juga sarapan nya agar Stevan segera minum obat.
"Makan dulu yah nak, biar cepat sembuh." ucap Tasya pada Stevan, namun Stevan masih kelihatan sangat lemas.
"Papah! Papah!" panggil Stevan. Tasya dengan cepat mengambil handphone nya langsung menelpon Darel.
Darel yang sudah di lapangan Kerjaan tidak lagi mendengar ponsel nya karena lagi berbicara dengan pengurus proyek di sana.
Kebetulan Ajeng Lewat meja tempat Darel meletakkan handphone nya tadi.
"Ini kan ponsel pak Darel." ucap Ajeng mengambil nya karena melihat ada yang menelpon.
"Loh mbak Tasya!" ucap Ajeng dia langsung menjawab nya.
"Iyah halo mbak," sapa Ajeng.
"Kak Darel nya ada mbak? Saya mau bicara bisa?" tanya Tasya.
"Oohh pak Darel sedang berbicara dengan pengurus proyek Mbak, apa mbak bisa tunggu sebentar, saya akan membawa handphone ini pada nya."
"Baik mbak." Ajeng mendekati Darel.
"Permisi pak ini ada telpon dari Mbak Tasya." Darel langsung mengambil nya.
"Tunggu sebentar yah pak, saya menjawab telepon dulu." Darel pun menjawab Tasya.
"Halo jangan menelpon sekarang! Kakak lagi bekerja di lapangan." ucap Darel.
"Stevan manggil kakak dari tadi, dia belum mau makan."
"Buka kamera kamu," Darel mengalihkan ke Panggilan video.
"Stevan!" panggil Darel. Stevan menoleh kearah layar handphone.
"Papah.."
"Iyah nak, Papah di sini."
"Kenapa gak mau makan nak? Biar sakit nya hilang." ucap Darel. Stevan menggeleng kan kepala nya.
"Aku bingung mau gimana lagi kak, aku sangat khawatir." ucap Tasya.
"Kamu paksa saja dia makan, kamu jangan panik." ucap Darel.
"Gimana aku gak panik kak, Stevan sangat lemas bahkan berbicara saja dia tidak mau." ucap Tasya.
__ADS_1
"kakak bilang jangan panik, fokus saja mengurus nya, Itu adalah hal wajar anak kecil tidak mau makan." ucap Darel.
"Lagian kakak sudah pernah bilang, kamu boleh kerja tapi perhatikan anak-anak, sebelum nya kamu juga sudah janji tidak akan menyerah kan anak-anak sepenuh nya sama suster." ucap Darel.
"Jadi menurut kakak ini semua salah aku? Aku tidak melihat mereka 24 jam kak, sebisa mungkin setelah di rumah Aku yang mengurus mereka. Bukan kakak yang hanya sibuk dengan urusan kakak sendiri." ucap Tasya.
"Loh kok kamu nyalahin kakak? Kamu sebagai ibu, tanggung jawab kamu untuk mengurus anak-anak," ucap Darel.
Tasya menangis.
"Kakak seharusnya tidak menyalah kan aku, aku khawatir Aku takut, Sekarang Stevan sangat lemas, aku bingung." ucap Tasya sambil terisak-isak.
"Kamu nangis? Maksud kakak bukan nyalahin kamu, kakak minta maaf."
"Aku tidak bisa mengurus anak-anak, ini salah ku." ucap Tasya.
"Jangan berbicara seperti itu, ini saatnya kamu belajar untuk jadi Ibu yang bisa melakukan semua nya." ucap Darel.
Tasya menatap wajah Stevan.
"Apa yang harus aku lakukan? Bahkan Stevan saja tidak berbicara pada ku."
"Kamu tenang, jangan panik jangan nangis di depan dia." ucap Darel.
"Jangan nangis lagi yah, maafin kakak tadi ngomong yang gak enak." ucap Darel, Tasya menghapus air mata nya.
"Coba suapin dia makan dan jangan matikan Handphone nya."
Stevan mau makan namun tidak banyak, Tasya akhirnya tenang.
"Permisi pak, bapak sudah di tunggu." ucap Ajeng. Darel langsung mengakhiri panggilan telepon dan lanjut bekerja.
"Apa yang terjadi pada Stevan Pak?" tanya Ajeng.
"Perut nya sakit karena salah minum sesuatu yang tidak harus dia minum." ucap Darel.
"Ya ampun." ucap Ajeng.
"Sekarang bagaimana pak? Apa sudah di bawa berobat? sekarang siapa yang mengurus di rumah?"
"Ada istri saya."
"Pasti mbak Tasya khawatir dan bingung, karena dia belum pernah mempunyai anak, dia bingung harus melakukan apa." ucap Ajeng.
Darel terdiam.
"Benar yang di katakan oleh Ajeng, tidak seharusnya aku menyalah kan Tasya." batin Darel.
"Tapi saya sendiri salut pada mbak Tasya. Dia benar-benar sangat cocok jadi ibu pengganti untuk anak-anak bapak." ucap Ajeng.
"Terimakasih." ucap Darel, Ajeng mengangguk.
__ADS_1
"Mamah bagaimana keadaan Stevan?" tanya Raya baru masuk ke kamar.
"Masih lemas." ucap Tasya.
"Adek kok bisa sakit sih? Kan kita gak jadi jalan-jalan hari ini." ucap Raya. Tasya tersenyum.
"Kamu kan masih bisa pergi sama Omah dan Opah, Mamah mau jagain Adek aja di rumah." ucap Tasya.
"Ya udah deh, semoga Adek cepat sembuh, bye Mamah." Raya mencium pipi Mamah nya dan pergi.
Tinggal hanya mereka berdua di rumah.
Karena sudah jam sepuluh Stevan mulai ngantuk lagi dia pun tidur, ini adalah kesempatan Tasya untuk mandi badan nya sudah tidak nyaman lagi.
Dia baru membuka baju nya namun seketika tersenyum karena melihat perut nya semakin kelihatan berisi walaupun terlihat sangat tipis saja.
Dengan iseng dia mengambil gambar nya dan mengirim pada suami nya hanya bagian perut nya saja.
"Aku tidak sabar melihat nya sebesar balon nanti sampai aku susah untuk bergerak." ucap Tasya dan mengirim pesan.
Darel yang sedang mendengarkan penjelasan Staf, mendengar ada notifikasi dia langsung membuka nya.
Seketika dia tersenyum.
"Pak Darel apa menurut bapak semua nya sudah Cocok?" namun Gerwyn Masih sibuk berbalas pesan dengan Tasya.
"Pak! Pak Darel!" panggil Ajeng.
Darel seketika Langsung mematikan ponsel nya.
"Iyah kenapa? Bagaimana?" tanya Darel langsung.
"Bagaimana menurut bapak semua nya sudah cocok?" tanya Ajeng.
"Kalau semua nya sudah tepat, saya menyetujui nya." ucap Darel. Tidak beberapa lama meeting pun selesai, proyek Darel akhirnya jadi dan mungkin setelah proyek pembangunan itu di bangun Darel bisa pulang ke Pekanbaru lagi.
Tasya selesai mandi dia masak untuk dirinya dan juga untuk Stevan makan siang mereka, semua orang pergi untuk hari mingguan di luar termasuk juga Bibi dan Suster.
Baru saja masak handphone Tasya berdering panggilan dari Tiwi, dia akan datang berkunjung menjenguk Stevan.
Tasya sama sekali tidak keberatan karena dia juga kesepian di rumah.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1