
Mobil terus melaju menuju rumah Zahra yang berarti juga rumah Zein sang sahabat, hari ini Husein bertekad meminta izin kepada kedua orang tua Zahra untuk mengajak Zahra bertaarruf menjalin sebuah hubungan yang serius, melakukan proses saling mengenal satu sama lain agar keduanya punya keyakinan untuk melangsungkan sebuah hubungan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
"Zahra," lirih Husein, saat ini adalah saat-saat yang paling mendebarkan juga menegangkan bagi Husein.
Untuk mengutarakan semua yang ada di dalam hatinya Husein membutuhkan keberanian yang besar, menghadapi Zahra jauh lebih mendebarkan dari pada menghadapi seribu clien dalam bisnisnya, Zahra mampu membuat diri Husein berdebar tak menentu, rasa gerogi yang sejak tadi tak ada kini tiba-tiba muncul dan menguasainya sungguh keadaan yang tak pernah di rasakan oleh Husein sebelumnya, sekalipun Husein sedang berhadapan dengan Arum rasa gerogi yang dia rasakan jauh berbeda.
"Iya," sahut Zahra singkat membuat Husein semakin gugup.
"Seandainya Aku mengajakmu ta'arruf apa kamu mau?" tanya Husein.
Zahra yang mendengar pertanyaan Husein hanya diam, bukan karena tak ingin menjawab pertanyaan Husein tapi Zahra merasa terkejut dengan apa yang di katakan oleh Husein semuanya terasa begitu mendadak.
"Jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa," Husein yang tak mendapat jawaban kembali berucap.
"Bukan seperti itu, Aku hanya terkejut dengan apa yang Mas Husein katakan barusan. Jika Aku minta sedikit waktu untuk berfikir apa Mas Husein mau memberinya?" Zahra mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku tidak ingin memaksamu, jadi Aku akan setia menunggu jawaban terbaik yang akan kamu beri dan ku harap jawaban itu bisa membuat hatiku semakin bahagia karenanya," jawab Husein dengan wajah penuh harap dan senyuman yang di tunjukkan sebaik mungkin.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertiannya Mas," ucap Zahra yang merasa lega karena Husein mengerti dengan apa yang dia rasakannya saat ini.
Suasana kembali hening hingga sampai di halaman rumah Zahra yang terlihat masih sepi.
"Mas bunyikan klaksonnya agar bibi membuka pintu!" titah Zahra yang mengerti jika di halaman rumahnya selalu sepi karena penghuni yang ada di dalamnya lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah.
Tin ... tin ... tin ....
Suara klakson mobil Husein terdengar begitu nyaring dan benar saja dua menit setelah klakson di bunyikan keluarlah bibik dengan langkah cepat membuka gerbang agar mobil Husein bisa masuk.
"Assalamualaikum," ucap Husein dan Zahra hampir bersamaan, keduanya masuk ke dalam rumah hampir bersamaan.
"Gerak cepet juga lu," ucap Zein dengan senyum menggoda.
"Keburu di ambil orang, jadi harus cepet," sahut Husein dengan senyum manis yang terlihat mengerikan di mata Zein.
"Idih ngeri gue lihat senyuman lu," ujar Zein bergidik ngeri melihat senyum Husein.
__ADS_1
"Sudah berdebatnya nanti di terusin lagi, lebih baik kalian berdua duduk dengan tenang di ruang tamu biar Zahra yang ambilkan minum!" Zahra yang lelah melihat perdebatan dua laki-laki memilih untuk menengahinya dan pergi ke dapur mengambil minum dan beberapa cemilan.
"Kamu memang calon istri idaman," ucap Husein dengan senyum yang mengembang.
"Adek gue itu," sahut Zein membanggakan diri.
"Iya tahu, adek lu tapi dia calon bini gue," Husein tak mau kalah.
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
Kakak2 maaf hari ini partnya sedikit, author baru saja mendapat musibah ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ mohon do'anya semoga semua baik2 saja.