Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Keinginan Yang Terwujud


__ADS_3

Husein langsung membelikan roti yang di minta oleh Zahra setelah mendapat pesan singkat dari Zein sang Kakak Ipar. Perjalanan yang di tempuh oleh Husein cukup memakan banyak waktu, tapi Husein tetap membesarkan rasa sabarnya agar dia tidak marah ataupun menyakiti hati Zahra ketika bertemu dengannya nanti.


Dari kejauhan mobil Zein sudah terlihat, Husein begitu lega setelah melihat jika Zahra benar-benar bersama dengan Zein.


"Fan!" panggil Husein saat melihat mobil Zein sudah semakin dekat.


"Iya, Tuan," sahut Ifan sang asisten pribadi yang terpaksa harus mengantar Husein karena saat Husein akan pergi bertepatan dengan Ifan yang datang untuk menyerahkan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangannya.


"Tepikan mobilnya di belakang mobil itu!" titah Husein menunjuk ke arah mobil Zein yang terparkir di tepi jalan.


"Baik, Tuan," sanggup Ifan yang langsung menepikan mobilnya tepat di belakang mobil Zein.


"Kembalilah ke restauran! aku akan ikut bersama mereka." Husein kembali memberi perintah, dia tahu bebar jika pekerjaan Ifan begitu menumpuk di restauran oleh sebab itu Husein memerintahkan Ifan agar segera kembali ke restauran untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat dia tinggalkan.


"Baik, Tuan," Ifan hanya biasa menuruti apa yang di inginkan oleh bosnya itu tanpa bisa menolak ataupun mendebatnya.


Husein melangkah mendekat ke arah mobil Zein dengan langkah pasti dia menghampirinya.


"Kak Zein!" panggil Husein pada Kakak Ipar yang terlihat bersantai, sedang Zahra sudah terlelap dalam dunia mimpi setelah menghabiskan satu botol air mineral dan dua bungkus besar camilan.


"Syukurlah kamu cepat datang, istrimu ini sungguh merepotkan," keluh Zein.


"Apa Kakak Iparku ini lupa kalau istri yang kau sebut itu Adik kandungmu," sahut Husein tak mau kalah dengan ucapan Zein.


"Ahhh, pusing gue ngadepin Bumil, mending Loe aja yang nyetir! gue mau tidur." Pamit Zein yang langsung turun dari mobil dan berpindah ke jok bagian belakang untuk tidur, sebenarnya sejak tadi dia mengantuk dan ingin segera tidur. Tapi hal itu dia urungkan karena dia harus menjaga Zahra yang terlihat tidur di sampingnya.

__ADS_1


Husein yang mengerti jika istrinya pasti merepotkan sang Kakak Ipar memilih mengalah dan mengambil alih kemudi, Husein membiarkan Zahra dan Zein tidur sedang dirinya melanjutkan perjalanan menuju tempat makan pinggir pantai yang ingin di kunjungi sang istri. Husein memang terlihat kurang perhatian pada Zahra, tapi pada dasarnya dia sangat memperhatikan Zahra hanya saja dia tak bisa mengabaikan semua pekerjaannya demi keinginan Zahra yang terkadang sungguh sulit untuk langsung di wujudkan.


"Sayang! bangun!" Husein berbisik pelan tepat di telinga Zahra, berharap istrinya itu segera bangun karena saat ini mereka telah sampai di tempat makan yang di ingin istrinya itu kunjungi.


"Emmm," Zahra menggeliat pelan merasakan sesuatu yang menggelikan di telinga bersamaan dengan sebutan Sayang yang membuat Zahra harus segera membuka mata untuk memastikan siapa yang berbisik.


"Mas Husein," lirih Zahra sambil mengumpulkan seluruh kesadarannya, dia mengedipkan mata berkali-kali untuk memastikan jika yang membangunkannya barusan adalah Husein sang suami.


"Iya, Kita sudah sampai di pantai, ayo bangun!" sahut Husein.


"Kak Zein mana, Mas?" tanya Zahra saat kesadarannya benar-benar sudah kembali, Zahra mengingat dengan jelas jika tadi dia datang bersama Zein.


"Dia tidur di jok belakang," jawab Husein seraya membuka sabuk pengaman yang masih terpasang sempurna di badannya. Sedang Zahra sudah turun lebih dulu kemudian membuka pintu bagian belakang mobil untuk membangunkan sang Kakak yang terlihat begitu nyenyak tidur di jok belakang.


"Apa sih, Dek? ganggu tidur aja," keluh Zein.


"Kak kita udah sampai di pantai. Kalau mau lanjut tidur aku tinggal ya." Ancam Zahra dengan nada bicara sedikit lebih keras.


"Kita udah sampai ya, lupa gue kalau kita tadi lagi jalan ke pantai," ucap Zein dengan wajah polos tanpa dosa.


"Dasar kebo, kalau udah molor lupa segalanya," ejek Zahra yang sangat memahami sikap sang Kakak, Zein memang suka susah di bangunin.


"Sudahlah, Dek, kasihan Kak Zein, mungkin dia masih lelah," Husein yang melihat Zahra sedikit emosi mencoba meredamnya.


"Ini roti pesananmu tadi. Makan ini aja dulu sambil nunggu Kak Zein henar-benar bangun," sambung Husein memberikan satu kantong plastik berisi roti dan minuman yang di inginkan Zahra.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas, maaf aku sudah membuatmu bingung tadi," sahit Zahra sambil mengambil alih roti yang ada di tangan Husein.


"Sudah, jangan di bahas lagi! tapi Kamu harus ingat jika kejadian saat ini adalah kejadian pertama dan terakhir, kamu gak boleh mengulanginya lagi!" Husein mengingatkan Zahra agar tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.


"Baik, Mas, aku janji gak bakal mengulangi hal yang sama," Zahra menyanggupi apa yang di inginkan oleh sang suami.


"Kita makan roti di situ saja ya." Husein menunjuk kursi panjang yang terletak tak jauh dari parkiran kemudian keduanya berjalan beriringan duduk di sana menikmati pemandangan pantai sambil makan roti.


Satu bungkus roti telah habis tapi Zein tak kunjung mendekat, akhirnya Zahra memutuskan memakan habis tiga bungkus roti yang di bawakan oleh Husein.


"Enak banget kalian makan sambil berduaan di sini, ninggalin gue sendirian di mobil pula." Gerutu Zein yang bari saja mendekat ke arah Zahra dan Husein.


"Kita justru lagi nungguin kaku Kak, dari tadi kita duduk di sini gak pergi ke manapun buat nungguin Kakak bangun," bela Zahra yang tak terima jika di protes oleh sang Kakak.


"Kalian udah makan gurame belum?" Zein yang sadar jika dirinyalah yang terlambat bangun memcoba mengalihkan pembicaraan sebelum Zahra mulai emosi.


Meski Zein belum menikah tapi dia mengerti jika emosi Ibu hamil itu memang mudah naik turun dan sulit untuk di tebak, maka dari itu dia memilih untuk mengalah dari pada menjawab ucapan Zahra yang bisa di pastikan akan berbuntut panjang.


"Kan aku udah bilang Kak, kita lagi nungguin Kakak, yang artinya sejak tadi kita duduk di sini belum makan gurame," jawab Zahra.


'Astaga, kenapa gue jadi serba salah gini ngomong sama Zahra?' batin Zein.


"Sudahlah, ayo kita ke warung gurame! debat di sini juga gak ada untungnya." Ajak Husein berdiri dan meraih tangan Zahra agar dia mengikuti langkahnya.


Dua porsi Gurame bakar asam manis berhasil di dapatkan oleh Zahra, lengkap dengan suasana pantai yang membuat Zahra merasa lega, akhirnya apa yang dia inginkan sudah dia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2