Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Tempe Goreng


__ADS_3

"Jadi seperti Umik, maksudnya gimana Umik?" tanya Arum yang mulai mengernyitkan dahi bingung mendengar ucapan Umik.


"Sudahlah, jangan di fikirkan lebih baik kamu cepat-cepat pergi ke mushollah! jam segini ngajinya sudah di mulai." Umik yang enggan memberi penjelasan menyuruh Arum untuk cepat-cepat pergi, sebelum Arum mengajukan pertanyaan yang lebih banyak lagi.


Dengan berat hati Arum berjalan lunglai menuju mushollah untuk mengaji bersama teman-temannya yang lain.


'Kenapa Umik tidak menjelaskan maksud dari ucapannya ya?' batin Arum.


Karena tak mendapat jawaban Arum pun mengambil kitab dan ikut mengaji bersama yang lain dengan Hasan yang menjadi Ustadnya.


"Desy," lirih Arum berjalan menuju tempat Desy duduk.


"Sini Arum!" Desy melambaikan tangan memberi isyarat agar Arum mendekat.


Mengaji pagi ini berjalan dengan lancar dan Arum mengaji dengan penuh kekhusuk'an.


"Arum, apa kamu sudah punya kartu makan? kalau belum pakai saja punyaku!" ucap Desy, saat ini Desy dan Arum sedang berjalan beriringan menuju kamar setelah mengikuti pengajian di mushollah.


"Aku sudah punya," Arum merogoh saku abayanya dan menunjukkan tumpukan kartu yang ada di tangannya.


"Wahhh bagus donk, kalau gitu cuz kita ke kantin!" ajak Desy.


"Woiii!!!" Sinta yang sejak tadi tertinggal meneriaki kedua temannya.


"Eh Sinta," beo Arum.


"Iya, ini gue. Kalian tega banget ninggalin gue sendirian di mushollah," gerutu Sinta yang memang tertinggal di mushollah.


"Sorry Sin, Aku kira tadi kamu masih mau ada di sana. Habis khusuk banget nulisnya." Jawab Desy tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Tadi saat Arum dan Desy mau pergi, mereka melihat Sinta sedang serius memaknai kitab yang tertinggal bersama Anggik.


"Tadi Aku memang sedang nulis makna yang tertinggal, jadi gak lihat yang lain biar cepet selesai," ujar Sinta tanpa rasa bersalah sedikitpun, padahal tadi sempat protes karena sikap kedua temannya yang menurutnya menjengkelkan, padahal dia sendiri yang salah.


"Dasar, kamu yang salah kita yang kamu protes padahal kamu sendiri yang salah." ucap Desy.


"Sudahlah, jangan berdebat! perutku makin keroncongan denger kalian debat," Arum berusaha menghentikan perdebatan yang terjadi dengan alasan perutnya yang mulai keronconga.


Arum menarik salah satu tangan keduanya, berjalan menuju kantin. Sejak kemarin Arum benar-benar penasaran dengan menu yang ada di kantin.

__ADS_1


"Arum menu di sini sangat sederhana, kamu yakin mau makan di sini?" pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut Desy.


Desy yang mengingat asal usul Arum yang sepertinya bukan orang biasa sepertinya. Mulai ragu jika Arum bisa memakan menu yang di sediakan di kantin.


"Tenang saja, Aku orangnya suka bereksperimen." Ujar Arum penuh percaya diri.


"Halah bereksperimen, kemarin aja pamit ke rumah Umik ambil bantal gak balik-balik. Aku yakin kamu masih belum bisa tidur di lantai, iya Kan?" tebak Desy.


"He he he ... kamu kok tahu?" tanya Arum cengengesan.


"Ya tahulah, apa sih yang gak bisa di ketahui oleh Desy?" ujar Desy penuh percaya diri sedang Arum dan Sinta hanya memutar bola matanya jengah.


Ketiga sejoli itu terus berjalan sampai di kantin, "Mbak Desy, apa ada anggota baru?" tanya Mbok Darmi.


Mbok Darmi adalah juru masak khusus di kantin pondok putri.


"Iya, kenalin Mbok ini Arum anggota baru di kamar kita," Desy memperkenalkan Arum pada Mbok Darmi.


"Hay Mbok, saya Arum." Ucap Arum memperkenalkan diri mengulurkan tangan tanda perkenalan.


"Saya Mbok Darmi, saya yang bertanggung jawab di kantin." Mbok Darmi menjabat tangan Arum.


"Wah benarkah? kalau begitu Mbok Darmi saya mau makan masakan Mbok yang enak," ucap Arum, berjalan mengikuti langkah Mbok Darmi dan ke dua temannya.


"Loh, mereka lagi antri apa?" tanya Arum yang sekarang sudah sampai di dalam kantin bagian pengambilan makanan.


"Mereka antri mau makan Arum," Desy menjawab kebingungan Arum.


"Kok sampai ngantri panjang gitu?" tanya Arum yang masih penasaran dengan keadaan yang ada.


"Namanya juga pesantren Zeyeng, tiada hari tanpa antri." Sahut Sinta.


"Baiklah, ayo mengantri!" ajakan Arum justru membuat Sinta dan Desy malah tercengang diam mematung.


"Kok diam, ayo ngantri!" karen tak ada pergerakan Arum menarik tangan keduanya untuk ikut antri bersamanya.


"Aneh," lirih Sinta.


"Kok bisa ya ada orang yang begitu semangat kayak Arum, padahal seharusnya dia merasa jengkel karena harus mengantri demi sepiring makanan yang sudah dia bayar." Gumam Desy yang hanya bisa di dengar olehnya.

__ADS_1


Arum ikut mengantri dengan penuh semangat, menikmati setiap detik dan menit yang di lewati. Menu hari ini adalah oseng buncis bumbu kecap ikan tempe goreng, telur campur tepung dan tahu goreng. Sungguh menu makanan yang teramat sederhana, tapi Sinta dan Desy justru terkejut saat mendengar permintaan Arum.


"Mbok, apa boleh jika Aku minta ikan tempe gorengnya di tambah?" tanya Arum.


"Kalau mau nambah ikan harus bayar lagi nduk!" Jawab Mbok Darmi.


"Aku harus berapa Mbok?" tanya Arum.


"Seribu rupiah Nduk," jawab Mbok Darmi.


"Apa?? cuma seribu. Aku nambah lima ribu tapi bungkus ya Mbok." Pinta Arum yang begitu terkejut mendengar harga yang harus dia bayar.


Di Australi Arum harus merogeh kocek lebih dalam jika mau menikmati tempe.


"Arum, kamu serius mau ngehabisin semuanya?" tanya Desy menatap lekat ke arah tempe goreng yang sudah di bungkus rapi.


"Tentu saja," jawab Arum dengan ekspresi serius dan yakin tanpa keraguan.


Arum makan dengan begitu lahapnya, meski menu makanannya terbilang sangat sederhana.


"Wah enak banget, ini sayur apa ya namanya?" Arum mengangkat sayur buncis dan menunjukkannya ke arah Desy.


"Itu buncis." Jawab Desy.


"Ohh, buncis." Arum manggut-manggut tanda mengerti, dan kembali makan dengan lahap hingga tandas tak tersisa.


"Alhamdulillah, besok-besok Aku mau nyoba makan pakai tangan seperti kalian." Ujar Arum setelah selesai makan.


"Sisa tempe itu mau kamu bawa ke mana Arum?" tanya Sinta.


"Mau Aku taruh di kamar, nanti pulang ngaji mau Aku makan lagi." Jawab Arum.


"Kamu mau ngaji? bukannya sekarang tak ada jadwal ngaji?" tanya Sinta.


Hari ini adalah hari Senin tak ada jadwal mengaji, karena semua anak formal sudah mulai masuk sekolah dan yang salafiyah masuk sekolah salaf.


"Aku mau ngaji sama Kak Husein," jelas Arum dengan ekspresi biasa saja, berbeda dengan Sinta yang langsung terkejut mendengar penjelasan Arum.


"What?? ngaji bareng Mas Husein? Kok bisa?" sahut Sinta dengan nada dan ekspresi terkejut.

__ADS_1


__ADS_2