
"Eh Desy, apa kabar kamu?" sapa Syafa yang baru menyadari keberadaan Desy.
"Alhamdulillah baik Neng," jawab Desy sambil mencium punggung tangan Syafa.
Desy memang tergolong santri lama dan sudah beberapa kali dia ikut Umik bepergian menjemput ataupun mengantar Syafa.
"Assalamualaikum kak Desy," sapa Aly bocah kecil yang sudah pandai bicara.
"Waalaikum salam Mas Aly," jawab Desy.
"Kak Desy sini temenin Aly!" titah Ali sambil melambaikan tangan mengisyaratkan Desy untuk datang mendekat ke arahnya.
Dengan senyum yang tak pudar Desy berjalan menghampiri Aly yang sudah merentangkan tangannya meminta untuk di gendong.
"Mommy, Aly pengen ice cream." Pinta Aly yang memang gemar sekali memakan ice cream.
"Husein!" panggil Syafa.
"Iya ada apa tante?" sahut Husein.
"Tolong donk anterin Desy dan Aly beli ice cream." Pinta Syafa.
"Wokeh!" jawab Husein.
"Desy, ayo ikut Aku!" ajak Husein yang hanya mendapat anggukan sebagai jawaban dari Desy.
Keduanya berjalan menuju tempat penjual ice cream yang berada cukup jauh dari area bandara.
"Desy!" panggil Husein
"Iya Mas Husein," sahut Desy.
"Apa kamu gak capek?" tanya Husein yang sebenarnya kasihan melihat Desy menggendong Aly yang lumayan sudah besar dan bisa di pastikan berat badannya cukup menguras tenaganya jika di gendong.
"Tidak apa-apa Mas Husein," jawab Desy.
"Aly!" Husein yang mendapat jawaban kurang memuaskan dari Desy lebih memilih memanggil Aly dan mencoba untuk membujuknya agar mau turun.
"Iya Om, kenapa?" Aly memang masih satu tahun tapi ucapannya sama sekali tidak cedal membuat lawan bicaranya langsung mengerti apa yang di ucapkan Aly.
__ADS_1
"Sini gedong Om!" titah Husein seraya merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat untuk menggendong Aly.
"Enggak mau, enakkan di gendong Mbak Desy." Jawaban yang membuat Husein sedikit kesal, Aly selalu saja manja dan seenaknya sendiri.
"Kalau enggak mau gak apa-apa, berarti ice creamnya gak jadi," Husein mengeluarkan jurus andalannya agar Aly mau turun dari gendongan Desy dan berpindah padanya.
"Ishh, Om ini emang pemaksa." Aly yang mendengar ucapan Husein hanya bisa mengeluh sambil menuruti apa yang Om nya perintah.
Dengan berat hati Aly turun dari gendongan Desy, tapi Aly menolak saat Husein akan menggendongnya. Dia lebih memilih berjalan dengan tangan yang menggenggam erat jemari Desy dan Husein.
"Kenapa gak mau di gendong sama Om?" tanya Husein.
"Males gendong Om, mendingan Husein jalan aja." Jawab Aly.
Husein yang mendengar celotehan Aly hanya bisa menggelengkan kepala pelan, bagaimana bisa bocah sekecil Aly bisa berbicara layaknya anak kelas lima Sekolah Dasar.
"Om, Aku mau yang strawberry sama coklat ya!" pinta Husein setelah berada di depan sang penjual ice cream.
"Aly harus pilih salah satu, tidak boleh keduanya!" Husein yang mengerti jika Aly memiliki imun yang kurang baik melarang Aly untuk mengambil dua ice cream sekaligus.
"Tapi Aly mau keduanya Om," sanggah Aly yang masih kekeuh ingin memakan ice cream dengan varian dua rasa yang memang menjadi favoritnya.
Aly yang sudah tahu sifat Om nya itu memilih untuk diam dan menurut.
"Mbak Desy, gendong." rangek Aly sambil merentangkan kedua tangannya.
"Sini Om yang gendong!" pinta Husein.
"Enggak Om," tolak Aly.
Dengan cerdiknya Aly yang saat ini memang benar-benar ingin memakan ice cream dengan dua varian rasa, kini mencari satu ice cream dengan dua rasa yang dia inginkan.
"Nah ketemu!" serunya sambil memberi isyarat agar Desy sedikit menunduk untuk mempermudah Aly mengambil ice creamnya.
Aly berhasil menemukan ice cream dengan varian cokelat, strawbery dan vanilla. Dengan sigap Aly mengambilnya.
"Aly, jangan ambil yang besar!" Husein yang melihat Aly mengambil ice cream kotak berukuran besar langsung melarangnya.
"Kata Om haru beli satu, Ali sudah ambil satu Om masih saja marah." Keluh Aly yang terdengar dramatis.
__ADS_1
Wajar saja jika Husein memarahi Aly karena ice cream yang di pegang Aly benar-benar ice cream dengan ukuran paling besar dan isi paling banyak.
Tanpa banyak bicara Husein mengambil alih ice cream yang ada di tangan Aly kemudian menggantinya dengan ice cream berukuran kecil tapi memiliki dua rasa yang di inginkan oleh Aly.
Desy, Husein dan Aly terlihat seperti sebuah keluarga, mereka terlihat begitu serasi dan kompak meski kenyataannya Husein bukanlah suami bagi Desy begitu pula sebaliknya.
Di sisi bandara yang lain.
Hasan masih setia duduk di kursi kemudi menatap Arum yang sedang tertidur dari pantulan kaca spion yang sudah dia arahkan ke wajah Arum.
Melihat Arum tertidur begitu lelap membuat hati Hasan begitu tenang, wajah Arum begitu tenang tanpa beban, setenang air danau yang terlihat begitu indah.
"Hanya melihatmu tertidur sudah mampu membuat jantungku berdegub dengan kencangnya, bagaimana jika kelak Aku sudah bisa memilikimu seutuhnya? akankah Aku mampu menahannya atau justru mengungkapkan apa yang ku rasakan," gumam Hasan yang masih setia menatap wajah ayu Arum yang sedang damai dalam mimpi.
Hasan terus saja menatap wajah Arum tanpa ada bosan, hingga pergerakan yang di lakukan Arum mampu membuat Hasan langsung mengalihkan kaca spion juga pandangannya.
"Eumm," lenguh Arum merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, tidur di kursi mobil memang bukan pilihan yang baik, kini ban Arum terasa begitu pegal.
Tapi rasa itu segera sirnah saat Arum menyadari di mana dia saat ini."Astagfirullah, Aku masih di mobil Umik," lirih Arum yang langsung duduk.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Hasan ada di kursi kemudi sedang duduk dengan tenang menatap ke arah luar jendela yang terbuka.
"Kak Hasan," panggil Arum.
"Kamu sudah bangun Arum?" Hasan berpura-pura tak menyadari apapun meski sebenarnya dia sudah tahu jika Arum terbangun.
"Maaf Kak, Arum ketiduran." Ujar Arum yang bingung dengan apa yang akan dia lakukan.
"Tidak apa-apa," sahut Hasan dengan senyum yang mengembang.
"Kenapa tidak di bangunkan?" Arum yang saat ini sebenarnya merasa malu mengalihkan perasaannya untuk bertanya pada Hasan.
"Umik tidak tega melihat kamu yang tertidur dengan nyenyak, jadi beliau memintaku untuk menjagamu." Jawab Hasan jujur.
"Maaf, Arum jadi ngerepoti Kakak," Arum menundukkan kepala tanda dia tengah merasa menyesal.
"Sudah tidak apa-apa," Hasan kembali memberikan senyumannya agar Arum tak merasa menyesal.
"Apa kamu mau menyusul yang lain, atau tetap menunggu di sini?" Hasan mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arum tak bersedih lagi.
__ADS_1
Terlihat Arum mulai mendongakkan kepala menatap ke arah Hasan yang masih setia tersenyum ke arahnya.