Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Bidadari Bumi


__ADS_3

Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Kakek dan Nenek Huda yang artinya mereka menuju rumah orang tua Umik, sebelumnya Imah sudah mengabari orang tua Arif jika cucu mereka akan mampir ke rumah mereka dulu sebelum kembali pulang.


Huda memang cukup dekat dengan Kakek dan Neneknya, karena sejak kecil Huda sering sekali menginap di rumah mereka, makanya saat mendengar Huda akan datang keduanya tak bisa membendung perasaan bahagia yang timbul di hati mereka.


Dari kejauhan sudah terlihat Kakek dan Nenek Huda sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah, senyum bahagia terlihat jelas di wajah keduanya membuat Huda merasa sangat senang karena kedatangannya bisa membuat Kakek dan Neneknya bahagia.


"Assalamualaikum," ucap Huda sambil berjalan cepat menghampiri Kakek dan Neneknya yang langsung berdiri menyambut kedatangan sang cucu.


Huda memeluk keduanya secara bergantian menyalurkan segala perasaan yang tumbuh di hatinya, rasa sayang dan rindu bercampur jadi satu, perasaan yang selama ini di tahan oleh Huda demi terwujudnya sebuah cita-cita.


"Waalaikum salam, bagaimana kabarmu?" tanya Kakek sambil merangkul pundak Huda untuk ikut bersamanya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Sedang Arif dan Imah juga Nenek hanya bisa mengikutinya dari belakang.


Sejak kecil setiap kali Huda datang Arif tak lagi di hiraukan karena Huda akan jadi pusat perhatian, Arif yang merasa di abaikan awalnya protes hingga sang Ayah memberi penjelasan jika Arif sudah pernah mendapat kasih sayang dan perhatian yang sama, jadi saat ini giliran Huda yang merasakannya. Meski sudah dewasa Arif memang terkadang suka manja mungkin karena dulu dia selaluberusaha terlihat dewasa dan mandiri karena mengalah pada Uqi membuatnya terlambat untuk bersikap manja setelah Uqi menikah, dan akhirnya sekarang Arif memutuskan untuk bermanja-manja pada Imah sang istri.


"Sayang!" panggil Arif setelah selesai mandi, keduanya kini berada di dalam kamar untuk beristirahat meninggalkan Huda yang masih temu kangen bersama Kakek dan Neneknya.


"Iya, Mas, ada apa?" sahut Imah berjalan mendekat ke arah Arif.


"Keringin rambutku." Pinta Arif mengulurkan handuk kecil ke arah Imah yang sedang berjalan mendekat.


Dengan telaten dan penuh kelembutan Imah mengeringkan rambut Arif dengan handuk kecil dan memberi sedikit pijitan di sana. Arif benar-benar merasa beruntung mendapat istri seperti Imah, sekalipun dia bersikap manja dan terkadang menyebalkan Imah tetapsabar menghadapinya, sekalipun dia tak pernah mengeluh dengan apa yang di lakukan oleh Arif. Imah tetap tersenyum dan meladeni keinginan juga emosi Arif dengan lembut.

__ADS_1


"Terima kasih Sayang," ucap Arif tersenyum lembut ke arah Imah sambil memegang tangannya.


"Terima kasih untuk apa Mas?" tanya Imah yang merasa aneh dengan ucapan terima kasih Arif yang di ucapkan tiba-tiba.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku yang baik dan menerima segala kekuranganku," Arif menjelaskan rasa terima kasih yang dia ucapkan.


"Aku hanya melakukan apa yang menurutku baik untuk keluarga kita Mas, maaf jika ada yang salah dengan apa yang ku lakukan." Sahut Imah membuat Arif semakin heran dengan kebaikan yang di tunjukkan oleh Imah.


"Kamu seperti bidadari bumi Sayang, dan apa yang kamu lakukan tak ada yang salah di mataku," ucap Arif.


Arif berbalik menghadap ke arah Imah, menatap lekat ke arah wajah Imah mencoba memperlihatkan betapa dia mencintainya. Pelan tapi pasti Arif terus mendekat mencium kening Imah menyalurkan segala rasa yang berada di hatinya, Imah yang mendapatkan perlakuan manis dari Arif hanya tersenyum sambil memejamkan mata menikmati rasa Sayang yang di salurkan oleh Arif.


Arif yang saat ini merasa punya kesempatan untuk menyalurkan hasrat yang muncul saat berdekatan dengan Imah kini mulai melancarkan aksinya. Pelan tapi pasti Arif mulai berkelana ke tempat-tempat favoritnya, menikmati setiap surga dunia yang ada di depan matanya. Membuat gambar indah penanda jika petualangan telah di lakukan hingga puncak kenikmatan sama-sama mereka rasakan.


~


"Kamu mau ke mana Huda?" tanya Imah yang baru saja keluar dari kamar dan tak sengaja melihat Huda telah berpakaian rapi hendak pergi.


"Ibu, Ayah ke mana?" tanya Huda.


"Ayahmu masih ada di dalam kamar, memangnya ada apa kamu cari Ayah?" jiwa kepo Imah mulai meraja lela.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan sama Ibu, Ayah dan keluarga yang lain, apa kita bisa bicara di ruang keluarga sebentar?" tanya Huda dengan hati tang di penuhi harapan supaya keluarganya setuju dengan apa yang telah dia rencanakan.


"Baiklah, kamu tunggu saja di ruang keluarga biar Ibu yang memanggil Ayahmu." Sahut Imah seraya pergi masuk kembali ke dalam kamar untuk memanggil sang suami. Sedangkan Huda berjalan menuju ruang keluarga di mana Kakek dan Neneknya sudah menunggu.


"Cucuku, duduklah! Nenek sudah buatkan kue kastengel kesukaanmu." Panggil sang Nenek dengan satu toples yang penuh dengan kastengel di tangannya.


"Wah, Nenek kapan membuatnya?" sahut Huda langsung berjalan menghampiri sang Nenek dengan wajah berbinar, pasalnya kue kastengel buatan sang Nenek adalah kue kering yang paling di sukai oleh Huda.


"Nenek sudah membuatnya dua hari yang lalu khusus untukmu. Nenek juga sudah menyimpannya rapi di toples plastik yang bisa kamu bawa nanti saat kamu kembali ke Australia." Jawab Nenek dengan wajah penuh kebahagiaan karena apa yang dia perkirakan dan harapan terjadi, Nenek membuat kue kastengel penuh semangat dengan harapan agar dia bisa melihat ekspresi wajah Huda yang penuh dengan kegembiraan.


"Terima kasih Nek, kue buatan Nenek akan menjadi barang bawaan yang paling berharga buat Huda," ujar Huda sambil melahap kue yang kini sudah berpindah tempat berada di pangkuan Huda.


"Kamu bisa saja Cu," cicit Ibu Arif dengan wajah yang terlihat penuh dengan kebahagiaan.


Huda yang memang sangat menyukai kue kastengel dan saat ini dia sedang menikmati kue yang sudah lama dia inginkan. Tanpa terasa seperempat toples telah habis di makan oleh Huda membuat sang Nenek merasa begitu senang melihat kue buatannya hampir habis oleh Huda.


"Kue buatan Nenek memang tak ada tandingannya, dan aku sangat menyukai kue buatan Nenek," tutur Huda yang kini beralih memeluk sang Nenek.


"Terima kasih Nek," ucap Huda dengan tulus.


"Aku senang mendengar kamu menyukai kue kesukaan Nenek, dan Nenek berharap kamu bisa segera kembali berkumpul dengan kita, Nenek berharap kamu bisa cepet lulus Cu," ujar Nenek sambil mengusap lembut kepala Huda yang kini bersandar di pahanya.

__ADS_1


__ADS_2