Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kebingungan Hati Arum


__ADS_3

Arif dan Imah kini saling memandang menatap satu sama lain, ada pertanyaan yang besar sedang bersarang di benak mereka, pertanyaan yanf hanya bisa di jawab oleh Huda.


Setelah saling pandang Arif dan Imah serempak menoleh ke arah Huda sang putra, Huda terlihat biasa saja tak menunjukkan ekspresi apapun, tapi meski begitu Imah tahu jika saat ini hati Huda tengah hancur. Huda boleh menyembunyikan perasaannya pada setiap orang tapi tidak pada Imah.


Imah selalu tahu apa yang anak-anaknya rasakan sekalipun mereka tak bercerita, meski Imah tak punya ilmu kebatinan tapi hatinya begitu peka terhadap kedua anaknya.


"Berarti Arum tinggal di Australia ya?" tanya Imah mencoba mengalihkan perhatiannya pada Arum yang hanya menundukkan kepala dan diam.


"Iya Bi," jawab Arum singkat.


"Huda puteraku juga kuliah di sana, apa kalian tidak pernah bertemu?" Imah kembali bertanya sambil terus menatap lekat ke arah Arum.


Semuanya hening baik Arum ataupun Huda tak ada yang menjawab keduanya membisu seolah tak ingin menjawab apa yang Imah tanyakan.


"Australia lumayan luas Bibi, jadi mereka belum pernah bertemu sebelumnya." Karena tak ada yang menjawab Hasan yang tadi sempat menanyakan hal yang sama dan telah mendapat jawaban kini menjawab pertanyaan sang Bibi.


"Emm begitu ya?"sahut Imah sambil manggut-manggut.


Obrolan ringanpun terjadi meski yang banyak mengobrol adalah Ima dan Hasan, sedang Arum hanya menjawab jika di tanya dan selebihnya diam, begitu pula dengan Huda yang juga ikut diam sedangkan Arif sibuk sendiri dengan ponsel yang di penuhi email laporan pekerjaan dari bawahannya.


"Bibi, bagaimana kalau kita makan dulu, Mbak Hana sudah menyiapkan makanan untuk kita?" usul Hasan yang melihat jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, tadi pagi Hasan sempat berpesan pada Hana untuk memasak lebih banyak makanan hari ini.


"Ide yang bagus, Ayah bagaimana kalau kita makan dulu di rumah keponakan kita yang tampan ini?" ujar Imah mencoba mengalihkan fokus Arif yang sejak tadi menatap layar ponselnya.


"Boleh," jawab Arif.


"Sayang, ayo kita makan!" ajak Hasan dengan nada yang lembut, Arum hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi ajakan Hasan.


"Kak Hasan mau makan dengan lauk yang mana?" Arum sudah bersiap mengambilkan makanan untuk Hasan.

__ADS_1


"Apa saja," jawab Hasan.


Arum bersikap begitu perhatian di depan Huda dan kedua orang tuanya membuat hati Huda semakin hancur, tapi apa yang bisa di lakukan olehnya semua yang terjadi merupakan takdir yang harus dia terima meski hatinya harus jadi korban.


Hari ini makan malam terburuk yang pernah Huda alami, meski begitu dia masih tetap bersyukur atas rezeki yang di berikan kepadanya.


Sebenarnya apa yang di rasakan Huda hampir sama dengan apa yang di rasakan oleh Arum, bedanya jika Huda merasa hatinya hancur karena rasa cinta yang dia punya seperti tak lagi berarti di mata Arum sedangkan Arum yang sejak awal merasa kasihan pada Huda kini bertambah dengan rasa bersalah yang mulai tumbuh dalam hatinya.


Arum terus saja terdiam membisu memikirkan apa yang telah terjadi dan bagaimana menyembuhkan luka di hati Huda yang dia buat.


"Arum!!" panggil Desy sambil menepuk pundak Arum yang sedang duduk termenung di sebuah ayunan kecil di bawah pohon mangga, ayunan yang barudi buat oleh pihak pengurus pesantren seminggu yang lalu, biasanya akan ada banyak santri yang nongkrong di sana, entah itu belajar, makan, atau hanya sekedar bergosib ria. Letak ayunan yang di buat tepat berada di dekat aula di depan asrama, meski hanya terbuat dari papan kayu tapi ayunan ini tempat favorit para santri untuk bersantai menikmati suasana pesantren.


"Hmm," sahut Arum dengan nada malas.


"Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Desy yang merasa aneh dengan sikap Arum.


"Bingung kenapa?" tanya Desy.


Sejak kejadian di atap asrama dulu kini keduanya semakin akrab, mereka sering berbagi keluh kesah menceritakan kesedihan, kebahagiaan dan kebingungan, entah mengapa Arum merasa nyaman bercerita pada Desy begitupun sebaliknya, kini mereka sudah menjadi sahabat yang akan saling menghibur saat rasa sedih menghampiri.


"Apa kamu ingat dengan Huda yang pernah Aku ceritakan?" Arum mencoba mengingatkan Desy tentang Huda pacar di Australia yang belum dia putuskan.


"Oh Huda pacar kamu di Australia itu," ucap Desy.


"Iya," singkat Arum.


"Loh memangnya kenapa dengan Huda?" tanya Desy yang merasa bingung dengan apa yang di rasakan Arum sahabatnya saat ini.


Setahu Desy Huda ada di Australia dan tidak akan jadi masalah karena dia tidak akan tahu jika Arum sudah bertunangan dan Arum bisa. memutuskan hubungan saat hari pulangan telah tiba.

__ADS_1


"Bukankah Huda ada Australia harusnya tak jadi masalah donk," sambung Desy.


"Dia datang ke sini." Ujar Arum.


"What??? untuk apa dia datang ke sini?" tanya Desy dengan ekspresi wajah terkejutnya.


"Dan kamu tidak akan bisa bayangkan jika kamu tahu satu hal tentang Huda," Arum kembali berucap.


"Memangnya apa yang harus Aku ketahui?" tanya Desy.


"Huda ternyata sepupunya Kak Hasan dan yang lebih parah lagi dia akan belajar di sini selama enam bulan." Arum menjelaskam sumber kebingungannya.


"Apa?? bagaimana bisa begini?" ekspresi wajah Desy semakin terlihat terkejut kini dia berjalan mendekat ke arah Aru dan menepuk punggungnya.


"Sabar ya Arum, ujianmu sungguh berat," ucapan Desy justru semakin membuat Arum down.


"Tapi kamu tak boleh menyerah," sambung Desy dengan nada penuh semangat yang berkobar-kobar.


"Hah?" Arum yang melihat perubahan ekspresi Desy hanya bisa menatapnya heran.


"Desy, are you okey?" tanya Arum sambil menatap lekat ke arah wajah Desy yang terlihat penuh semangat.


"Aku baik-baik aja kok, lagian kamu juga ngapain bersikap seperti itu," ujar Arum.


"Aku hanya ingin memberimu semangat, agar kamu tak terus terpuruk dari rasa bingung, ingat Arum semua yang terjadi di dunia itu adalah takdir. Maka kewajibanmu sebagai manusia hanya bisa menjalaninya dan berusaha melakukan yang terbaik untuk jalan hidup yang sudah kau pilih." Kata-kata bijak penyejuk jiwa keluar dari mulut Desy.


"Terima kasih atas pencerahanmu Desy, mungkin Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan dan mengendalikan hati juga fikiranku dan Aku juga butuh waktu untuk meyakinkan diri jika semua yang telah terjadi adalah takdir yang memang harus Aku jalani," ujar Arum.


Hidup ini memang tak semudah yang terlihat, kadang apa yang kita lihat tak sesuai dengan apa yang terjadi, kita hanya bisa bersyukur dan terus melakukan yang terbaik untuk hidup kita sendiri.

__ADS_1


__ADS_2