
Umik dan Arum berjalan beriringan menuju mushollah sholat berjamaah.
"Arum," panggil Umik, saat ini keduanya sedang berada di ruang tamu setelah sholat berjamaah.
Arum yang berjalan hendak menuju asrama untuk menaruh mukenah mengurungkan niatnya karena mendengar panggilan Umik.
"Iya, Umik," sahut Arum berjalan mendekat ke arah Umik.
"Setelah ini datang ke ruang keluarga bawa Al-qur'an!" titah Umik.
"Baik, Umik," Arum berbalik menuju asrama sedang Umik berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Arum setelah sampai di kamar.
"Waalaikum salam," sahut semua anggota kamar, kebetulan semua anggota tengah berkumpul setelah sholat jamaah dan bersiap-siap mengaji.
"Temen-temen, kenalin ini Arum anggota baru kamar kita." Desy mendekat merangkul pundak Arum dan memperkenalkannya pada semua anggota.
"Hay Arum kenalin namaku Maya, Ani." Satu persatu anggota kamar memperkenalkan diri, menjabat tangan Arum.
"Arum," sahut Arum dengan senyum mengembang, dia sungguh bahagia mengingat betapa ramah dan kocaknya anggota kamar yang dia pilih.
"Baiklah acara perkenalannya sudah selesai, sekarang kita lanjut ke kegiatan masing-masing." Ujar Sinta membuyarkan kerumunan yang terjadi.
"Ishhh dasar Sinta, sukanya bubar-bubarin orang aja." Oceh Maya.
"Maya Zeyeng, kalau mau berkerumun entar lagi ya. Sekarang waktunya ngaji bareng Mas Husein, emang kamu mau ketinggalan ngaji bareng bambang tamvan? hm?" ucap Sinta yang sangat mengenal dan tahu jika Maya ngefans sama Husein.
"Astaghfirullah, Aku lupa." Maya yang mendengar kata Husein langsung berbalik mengambil kitab serta bolpoin dan langsung berjalan cepat keluar kamar setelah mengucapkan salam.
"Dasar bucinnya Mas Husein." ejek Sinta saat melihat tingkah Maya yang selalu heboh ketika mendengar nama Husein.
Semua anggota yang telah mengetahui kebucinan Maya hanya tersenyum lucu melihat sikap Maya dan kembali melakukan aktifitas seperti semula.
"Arum," panggil Desy yang melihat Arum beranjak akan pergi.
__ADS_1
"Iya Desy, ada apa?" tanya Arum menghentikan langkah menoleh ke arah Desy.
"Kamu mau ke mana?" tanya Desy.
"Aku mau ke rumah Umik, tadi beliau manggil." Jawab Arum tersenyum lembut ke arah Desy dengan satu Al-qur'an yang tengah dia bawa di tangan kanannya, memeluk erat Al-qur'an yang berada di tangan seolah membawa berlian yang paling berharga.
"Assalamualaikum," ucap Umik.
"Waalaikum salam," Arum mengernyitkan dahi bingung ketika mendengar yang menyahuti salamnya seorang laki-laki.
'Kok tumben suara laki-laki, biasanya juga Mbak Hana yang jawab' batin Arum.
Ceklek ....
Pintu terbuka nampaklah seorang Hasan berdiri tepat di balik pintu, Arum sempat terdiam mematung menatap seorang laki-laki yang membukakan pintu, begitu pula sebaliknya Hasan mematung memandang gadis cantik pemilik hatinya.
"Khem," Arum berdehem menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak semakin kencang saat melihat tatapan mata Hasan.
"Masuklah!" ucap Hasan membuka lebar pintu yang tadi hanya di buka setengah, setelah membukanya Hasan langsung berbalik melenggang pergi meninggalkan Arum yang juga ikut masuk kemudian menutup pintu.
"Assalamualaikum, Umik." ucap Arum setelah sampai.
"Waalaikum salam, duduk sini Nak!" titah Umik yang terlihat sedang menemani seorang santri mengaji dan mengoreksi benar salahnya hukum bacaan yang santri itu baca.
Arum berjalan duduk tak jauh dari Umik berada, diam tanpa kata memperhatikan santri lain yang sedang di koreksi oleh Umik.
"Hasan!" panggil Umik ketika melihat Hasan melintasdari arah dapur hendak ke kamar.
"Iya, Umik," jawab Hasan menghentikan langkahnya.
"Kemarilah! bantu Umik mengoreksi Arum mengaji." Umik tiba-tiba menyuruh Hasan mengoreksi hukum bacaan Arum mengaji membuat Arum yang sejak tadi diam langsung gugup.
Arum merasa ada yang aneh dengan dirinya, kenapa rasa canggung, gugup dan gerogi selalu datang saat Hasan berada di dekatnya. Jantung Arum berdetak jauh lebih kencang dari pada saat bertemu dengan Husein yang terasa biasa saja. Padahal keduanya memiliki paras yang sama hanya aura yang mereka miliki berbeda.
"Arum mulailah membaca dasi surah pertama! biar Aku yang mengoreksi." titah Hasan yang kini sudah duduk manis di depan Arum.
__ADS_1
"Bismillahirrohmaanirrohiim, Alif laammiim." Arum mulai membaca satu persatu surah, suara Arum yang merdu di tambah hukum bacaan yang benar membuat Hasan dan yang lain terkejut dengan kefasihan Arum mengaji.
Sejak kecil Arum sudah belajar mengaji bersama Fia, hingga saat dewasa Arum selalu belajar dan belajar meski tak lewat guru tapi Arum terus belajar dengan aplikasi yang ada di ponselnya sampai sekarang Arum yang selalu suka belajar mengaji telah fasih melantunkan ayat-ayat Al-qur'an dengan begitu indahnya.
"Sodaqollohul adziim," Arum yang merasa hening menghentikan bacaannya.
"Maaf, Kenapa K~ em anda diam saja?" tanya Arum dengan terbata-bata pasalnya dia bingung harus memanggil Hasan apa. Arum juga bingung melihat semua yang ada di dekatnya malah terdiam tanpa kata.
"Panggil Aku Mas Hasan!" sahut Hasan yang mengerti kebingungan Arum.
"Masya Allah Nak, suaramu indah sekali. Hukum bacaannya juga sangat tepat. Umik sungguh-sungguh kagum mendengar suaramu mengaji." Umik yang sudah tidak tahan akhirnya mengeluarkan pujian pada Arum.
"Alhamdulillah, jika bacaan saya sudah tepat." ucap Arum penuh rasa syukur.
"Kamu belajar di mana Nak, kok bisa mengaji sebagus ini?" tanya Umik yang sudah sangat penasaran dengan calon mantunya ini.
"Bunda yang ngajarin Umik, di tambah belajar lewat aplikasi online di ponsel." Jawab Arum jujur.
"Masya Allah, kamu sungguh gadis yang cerdas." Umik memuji lagi.
"Suaramu bagus, hukum bacaannya juga tepat. Jadi lanjutkan membacanya sampai ayat ke tiga puluh!" titah Hasan.
Dengan senang hati Arum kembali mengaji dengan Hasan yang terus mendengarkan seolah-olah mengkoreksi hukum bacaan yang tengah di baca oleh Arum, padahal Hasan hanya beralasan saja, dia ingin mendengar suara merdu Arum dan menatap wajahnya yang terlihat semakin cantik saat mengaji walau tatapan itu di lakukan dengan sembunyi-sembunyi.
"Cantik, dia calon makmum idaman.' Gumam Hasan dalam hati di sertai senyuman tipis di bibirnya.
Arum terus mengaji sampai ayat yang sudah di tentukan oleh Hasan.
"Besok lanjutkan surat setelahnya, dan Aku akan mengoreksi kembali. Kamu mengaji di sini saja!" pesan Hasan setelah Arum menyelesaikan target bacanya.
"Baik Mas Hasan," Arum yang memang masih baru di pesntren hanya bisa menurut.
'Andai saja Kak Husein yang ada di sini, Aku pasti tak akan secanggung ini. Jantungku rasanya ingin meledak berada di dekatnya.' Batin Arum.
Sebenarnya sejak awal Arum merasa gugup, tapi sebisa mungkin dia menetralkan perasaan gugupnya. Dan berusaha mengaji dengan tenang.
__ADS_1