
"Alhamdulillah, baik, kamu sehat-sehat ya di sana, jangan sampai telat makan! ingat makan makanan sehat jangan suka makan sembarangan!" Bunda Fia selalu saja cerewet jika menyangkut kesehatan Arum, apalagi saat ini Arum sedang mengandung membuat Bunda Fia terlihat lebih protektif meski dia berada jauh dari Arum.
"Bunda tenang saja! Arum di sini makan dengan baik, Kak Hasan selalu manjain Arum dan memberikan apapun yang Arum mau." Jawab Arum.
"Kamu lagi ngapain Syei'?" suara Hasan terdengar setelah Arum menjelaskan keadaannya saat ini, Hasan baru saja kembali dari dapur setelah menaruh piring bekas gethuk yang dia makan bersama Arum.
"Kak, duduk sini!" Arum melambaikan tangan memberi isyarat pada Hasan agar duduk di sampingnya sambil menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.
Tanpa menjawab ucapan Arum, Hasan langsung berjalan mendekat ke arahnya dan duduk tepat di sampingnya. Melihat apa yang sebenarnya di lakukan oleh Arum.
"Ayah, Bunda," lirih Hasan saat melihat wajah Ayah dan Bunda Arum di balik layar ponsel yang kini di letakkan di atas meja menghadap ke arah keduanya.
"Assalamualaikum, Hasan, bagaimana kabarmu?" sapa Bunda Fia dengan senyum yang terlihat begitu manis di wajah sang Ibu mertua.
"Alhamdulillah baik, Bunda, kabar Bunda dan Ayah bagaimana?" jawab Hasan sembari kembali menanyakan kabar mertuanya.
"Kami baik, bagaimana Arum? apa dia menyusahkanmu semenjak hamil?" tanya Bunda , ekspresinya menunjukkan wajah seseorang yang sedang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Tidak Bun, Arum sangat pengertian dan tidak pernah menyusahkanku," jawab Hasan menutupi segala kesusahan dan kesulitan yang dia alami semenjak Arum hamil sambil mengusap pelan kepala Arum yang masih terbungkus indah dengan kerudung.
"Wahh, benarkah?" Bunda Fia kembali bertanya seolah tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Arum.
"Iya, Bun, Arum tidak pernah meminta hal aneh yang sulit untuk aku temukan, dia hanya menyukai makanan yang aku masak untuknya dan makanan yang di bawa dari luar rumah." Hasan menjelaskan perubahan selera makan yang di alami Arum.
"Syukurlah jika seperti itu," ujar Bunda Fia.
"Kamu harus banyak bersyukur Hasan!" sela Ayah Arum.
__ADS_1
"Aku selalu bersyukur Ayah, bersyukur atas segala nikmat dan rezeki yang allah berikan," ucap Hasan.
"Bukan itu maksudku Hasan," Ayah Arum mencoba memberitahu rasa syukur seperti apa yang harus di rasakan oleh Hasan.
"Kamu harus banyak bersyukur atas pengertian yang di berikan oleh jabang bayimu!" Ayah Arum mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya.
"Maksudnya bagaimana Ayah? aku masih belum mengerti," Hasan yang benar-benar tak mengerti maksud dari ucapan sang Ayah mertua kembali bertanya.
"Biasanya, akan ada banyak hal aneh dan permintaan yang sedikit mustahil untuk di wujudkan akan diminta oleh Bumil, tapi jika Arum tidak mengalami hal itu maka kamu wajib bersyukur karenanya," Ayah Arum menjelaskan lebih detail apa yang dia maksud.
Hasan yang mengerti kini tesenyum, Arum memang pernah meminta hal yang sedikit sulit untuk di penuhi oleh Hasan, tapi apa yang di minta Arum masih bisa di cari dan di penuhi oleh Hasan.
"Dia bohong Yah," Arum yang sejak tadi sedikit gemas dengan sikap yang di tunjukkan Hasan kini buka suara, dia merasa sering sekali merepotkan Hasan.
"Bohong bagaimana maksudmu, Nak?" kini giliran Bunda Fia yang bertanya.
"Wahh, Hasan memang menanntu dan suami idaman, Bunda semakin percaya jika Arum akan terus bahagia saat bersama dengannya." Ujar Bunda Fia dengan senyum yang mengembang di wajahnya, begitu juga dengan Stev dan sang Ayah yang ikut senang mendengarnya.
"Mohon do'anya Bunda, agar aku bisa terus menjaga dan membahagiakan putri Bunda," jawab Hasan semakin membuat Bunda Fia meleleh karenanya.
"Pasti, Nak, do'a Bunda dan Ayah selalu bersama kalian," jawab Bunda Fia.
Arum dan Hasan larut dalam obrolan yang semakin lama semakin seru dan terdengar begitu akrab.
"Bunda, Arum tutup dulu ya videonya," pamit Arum setelah cukup lama mengobrol.
"Baiklah, jaga diri baik-baik ya, Nak!" pesan Bunda Fia.
__ADS_1
"Bunda dan Ayah juga jaga diri baik-baik, dan untuk Kak Stev jangan lupa datanglah ke sini! aku menunggumu, Kak." Pesan Arum sebelum akhirnya benar-benar mematikan sambungan video yang sejak tadi di lakukan.
Arum terus saja tersenyum bahagia setelah menerima panggilan video dari keluarganya membuat Hasan yang berada di sampingnya juga ikut bahagia dan tersenyum karenanya.
~
Hari terus berlalu tak terasa acara tiga bulanan untuk bayi Arum kurang dua hari, semua sibuk menyiapkan apa saja yang akan di persiapkan untuk acara tiga bulanan calon cucu Umik tersebut.
"Tidak terasa sudah empat bulan usia kandungan Arum, Umik benar-benar bahagia karenanya," celetuk Umik saat menyiapkan souvenir yang akan di bagikan untuk cindera mata nanti.
"Iya, Umik," sahut Zahra yang duduk tepat di hadapan Umik sambil membungkus souvenir.
"Usia kandungan Arum sudah empat bulan, apa kamu belum ada tanda-tanda Zahra?" pertanyaan yang sering sekali di dengar oleh Zahra.
"Belum Umik, mungkin belum rezeki aku dan Mas Husein," Zahra juga menjawab hal yang sama ketika pertanyaan yang sama terdengar.
"Umik do'akan semoga kamu dan Husein segera di beri rezeki seorang bayi sama seperti Arum nanti," do'a Umik untuk Arum.
Ucapan Umik masih terdengar begitu halus dan lembut dan tidak terlalu menyakitkan hati, jauh berbeda dengan ucapan orang lain yang begitu pedas dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya, bukan keinginan. Zahra jika sampai saat ini dia masih tak bisa mengandung, Zahra dan Husein sudah melakukan usaha yang seharusnya mereka lakukan agar cepat memiliki buah hati, tapi apalah daya jika sang maha kuasa belum menakdirkannya.
Zahra tetap berusaha terlihat tegar dan tak terjadi apapun di depan orang lain, tapi saat di rumah tangisnya sering pecah tanpa ada yang tahu, dia sering sekali menangis mempertanyakan kenapa sampai saat ini dirinya masih belum bisa hamil.
"Zahra!" panggil Umik ketika melihat sang menantu terdiam mematung tak melanjutkan apa yang seharusnya sudah dia selesaikan sejak tadi.
"Iya, Umik," sahut Zahra sambil mengalihkan pandangannya ke arah Umik.
"Kenapa diam saja?" tanya Umik dengan ekspresi penasaran saat sang menantu hanya diam mematung di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Umik," jawab Zahra menampakkan senyum terbaiknya untuk menutupi semua rasa yang berkecambuk dalam dadanya.