Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Memberitaku Arum


__ADS_3

Pagi ini Husein merasa mendapatkan sebuah hiburan yang tak ternilai harganya, entah mengapa hanya berbicara dengan Hasan dan Hana sudah cukup membuatnya tertawa, mungkin rasa bahagia yang di dapat oleh Husein bukan semata-mata hanya karena keberadaan keduanya tapi juga karena kelulusan Zahra dalam melewati tes yang sudah dia susun.


Dengan langkah ringan penuh rasa riang Husein kembali berjalan menuju ruang keluarga menghampiri Hasan yang tengah duduk dengan santainya di sofa yang ada di sana.


Keduanya terdiam dengan kesibukan masing-masing, Husein sedang serius menatap ponselnya dan memeriksa email yang di kirimkan oleh para kariyawannya begitu pula dengan Hasan yang mulai sibuk mengerjakan pekerjaannya, suasana seketika menjadi hening hingga suara Umik yang baru saja datang mengejutkan keduanya.


"Masya Allah jagoan-jagoan Umik terlihat makin ganteng kalau lagi serius seperti itu," ujar Umik yang langsung di sambut dengan senyuman oleh Hasan dan Husein.


"Umik," ucap keduanya hampir bersamaan.


"Umik dari mana saja?" sambung Hasan.


"Tadi ada urusan sebentar sama Abi," jawab Umik dengan senyum yang terlihat begitu manis.


"Permisi Umik, Mas Hasan, Mas Husein, makanannya sudah siap." Suara Jana mengejutkan ketiganya yang sedang asyik mengobrol.


"Baiklah, terima kasih Hana," sahut Umik yang di tanggapi dengan senyuman penuh hormat oleh Hana.


"Kalian pergilah ke ruang makan dulu! Umik mau ngasih tahu Abi kalau makanannya sudah siap." Umik berdiri melenggang pergi meninggalkan Hasan dan Husein yang masih duduk tak bergerak sekengkalpun.


Hasan dan Husein hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapan Umik.


"Kakak mau ke mana?" tanya Husein yang melihat sang Kakak tak pergi ke ruang makan malah berjalan menuju kamar tidurnya.


"Mau ngasih tahu bidadariku kalau makanannya udah siap." Jawab Hasan cuek sembari terus berjalan menuju pintu kamarnya tanpa memperdulikan Husein yang bingung dengan sikap sang Kakak.


"Bidadari, maksudnya Arum?" lirih Husein yang mulai menerka-nerka.


"Tapi kenapa Arum bisa ada di kamar Kakak?" sambung Husein yang masih saja bingung yang kini bercampur dengan penasaran.


Husein yang merasa sedikit pusing karena memikirkan sikap sang Kakak kini memilih pergi menuju ruang makan karena Husein akan tahu dengan pasti nanti apa yang di maksud oleh sang Kakak.


Tok ... tok ... tok ....

__ADS_1


Suara ketukan pintu samar-samar terdengar di telinga seorang gadis yang sedang menikmati tidur paginya dengan selimut bludru yang terasa begitu halus membungkus tubuhnya.


"Arum, bangun Sayang! makanannya sudah siap." Suara Hasan juga ikut terdengar setelah ketukan pintu terhenti.


"Eummmm," Arum yang mendengar namanya di panggil kini menggeliat dengan pelan mengumpulkan kesadaran yang masih belum kembali sempurna.


"Iya," sahut Arum.


"Aku tunggu di ruang makan!" pesan Hasan kemudian melangkah pergi meninggalkan Arum yang masih ada di kamarnya.


Perlahan kesadaran Arum mulai kembali, awalnya dia terkejut saat melihat kamar asing yang dia tempati hingga dia menyadari jika kamar yang dia pakai adalah kamar Hasan dengan bau khas yang biasa tercium saat Hasan berada di dekatnya.


"Ishh bau parfum Kak Hasan," lirih Arum.


Dengan langkah sedikit malas Arum bangun dan berjalan keluar kamar berniat menyusul Hasan yang lebih dulu pergi ke ruang makan.


"Hoaammm," beberapa kali Arum menguap karena rasa kantuk itu tak kunjung pergi.


"Cuci muka dulu, baru pergi ke ruang makan!" suara Husein yang tiba-tiba ada di samping Arum sukses mengejutkannya.


Husein yang mendengar ungkapan hati Arum yang memprotes dirinya hanya tersenyum kemudian pergi berlalu menuju ruang makan.


Sarapan pagi ini begitu lengkap karena Abi yang biasanya jarang ikut karena sibuk dan Husein yang juga jarang ada di rumah kini semua berkumpul dan sarapan bersama.


"Arum!" panggil Umik membuat semua yang ada di meja makan langsung menoleh ke arah Umik termasuk Huda yang pagi ini juga ikut bergabung.


"Iya, Umik," jawab Arum sambil menghentikan makannya.


"Setelah sarapan temui Umik di ruang keluarga! begitu juga dengan kamu Hasan." Titah Umik dengan ekspresi wajah seriusnya.


"Baik Umik," sahut Arum.


Suasana ruang makan kembali hening setelah percakapan singkat Arum dan Umik hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar menggema di udara.

__ADS_1


"Permisi, Umik manggil Arum ada apa ya?" tanya Arum sambil berjalan mendekat ke arah Umik yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Duduklah! Umik akan menjelaskan mengumumkan sesuatu," jawab Umik menepuk pelan sofa yang tengah dia duduki.


Arum yang mendengar perintah Umik hanya bisa patuh tanpa bisa menolak, dia berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Umik duduk.


Arum menatap aneh Umik yang mengumpulkan semua keluarga termasuk Huda sang mantan kekasih yang belum sepenuhnya bisa ikhlas melepas Arum untuk Hasan, tapi Huda hanya bisa diam dan bersabar juga berusaha agar dia bisa sepenuhnya mengikhlaskan Arum untuk Hasan.


"Umik dan Abi mengumpulkan kalian di sini ingin mengumumkan sesuatu, dan khususnya untukmu Arum," Ucap Umik menatap lekat ke arah Arum yang semakin penasaran dengan maksud Umik mengumpulkannya di sini.


"Ada apa Umik? apa ada masalah?" sahut Arum yang langsung melempar pertanyaan mendengar pernyataan Umik yang cukup mengusik hatinya.


"Sebelumnya Umik mau minta maaf padamu Arum," sambung Umik sambil menggenggam erat tangan Arum dan menatap lekat ke arahnya.


"Minta maaf untuk apa? memangnya Umik melakukan kesalahan pada Arum?" sahut Arum yang kini merasa tak karuan, hatinya bergejolak mendengar permintaan maaf Umik yang tak tahu untuk apa.


"Maaf jika Umik, Abi dan hasan juga keluarga besarmu tidak membicarakan hal ini dulu padamu sebelum mengambil keputusan, Umik harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas," tutur Umik dengan ekspresi khawatir yang tergambar jelas di wajahnya.


"Arum, Kami dan keluargamu sudah setuju untuk mempercepat pernikahanmu dan Hasan," ujar Abi yang sejak tadi diam kini mulai buka suara.


"Jika mempercepat pernikahanku adalah pilihan yang terbaik maka Aku akan menerimanya dengan ikhlas Abi," jawab Arum yang sukses menerbitkan senyum di bibir Hasan dan meremas hati Huda yang belum bisa ikhlas sepenuhnya.


"Tapi, pernikahannya akan di laksanakan dua hari ke depan itupun secara sirri dulu dan akan di resmikan nanti saat waktu resepsi yang sudah di tentukan tiba," penjelasan Abi kali ini benar-benar membuat Arum langsung ternganga tak percaya, begitupun dengan Husein dan Huda yang langsung menoleh ke arah Abi dengan wajah terkejutnya.


"Memangnya boleh nikah sirri seperti itu?" tanya Huda yang merasa jika pernikahan sirri adalah sesuatu yang tak baik juga akan merugikan bagi Arum sebagai mempelai wanita.


"Tidak ada larangan untuk menikah sirri, lagi pula pernikahan ini di lakukan bertujuan untuk menghindari dosa." Jawab Abi.


"Kamu tenang saja Arum, selama kita menikah kita tidak akan tinggal serumah karena kamu boleh tinggal di asrama. Aku meminta untuk menikah sirri agar kita tak melakukan dosa setiap kali bertemu, Aku ingin kita pacaran setelah menikah nanti dan pacaran yang akan kita jalani sebelum resepsi tidak akan berakibat buruk ataupun berdosa karena saat itu kita sudah sah menjadi suami istri," Hasan menjelaskan segalanya panjang lebar berharap Arum dan semua yang ada di sana bisa menerima keputusan yang telah di bicarakan sebelumnya.


"Baiklah jika itu yang terbaik dan keluargaku juga sudah menyetujuinya, maka Aku akan setuju," jawaban yang membuat Hasan tersenyum senang.


"Kamu serius setuju begitu saja dengan apa yang sudah di putuskan? apa kamu tidak mempertimbangkan dulu akibatnya?" Huda yang merasa jika pernikahan sirri ini tak baik mencoba memastikan jika Arum benar-benar sudah memikirkan keputusannya.

__ADS_1


"Aku percaya Kak Huda, jika keluargaku sudah setuju maka semuanya memang terbaik untukku, karena Aku sangat yakin jika keluargaku terutama Ayah dan Bunda sudah memikirkan masak-masak keputusannya ini dan Inilah yang tebaik untukku." Jawab Arum dengan nada penuh keyakinan membuat Huda langsung diam dengan ekspresi wajah kecewanya.


__ADS_2