
"Bolehlah Sayang," jawab Hasan dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Arum melangkah sedikit lebih cepat dari biasanya, duduk diantara dua laki-laki yang memiliki perasaan juga hubungan yang spesial dengannya bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan.
Arum benar-benar merasa dilema, apa yang akan dia lakukan dan tindakan apa yang harus dia pilih? Arum berdiri menatap dirinya di pantulan kaca kecil yang ada di dalam kamar mandi.
'Apa yang spesial dariku? kenapa Aku terus berhubungan dengan laki-laki yang memiliki ikatan persaudaraan?'
Arum mengusap kasar wajahnya memikirkan mereka yang sebenarnya sama-sama belum ada di hatinya, benar kata orang bahwa cinta tak bisa di paksakan sudah bertahun-tahun Arum memaksakan perasaannya untuk mencintai Huda, tapi apa yang dia dapatkan bukannya rasa cinta yang tumbuh tapi dia justru terjebak oleh hubungan yang rumit.
Rasa kasihan yang dia ikuti menimbulkan bencana bagi hidupnya sendiri, kini dia harus bisa mencari jalan keluar terbaik agar tak ada lagi kesalah fahaman ataupun pertengkaran di kemudian hari.
Cukup lama Arum berdiam di dalam kamar mandi memikirkan tindakan apa yang akan dia ambil, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Hasan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Huda.
Dengan langkah penuh keyakinan Arum keluar dari kamar mandi menuju ruang tamu di mana Hasan dan Huda tadi berada.
"Loh tamunya ke mana Kak?" tanya Arum yabg bingung melihat Hasan sendirian di ruang tamu.
"Maksud kamu Huda?" Hasan mencoba memastikan seseorang yang di maksud Arum sebelum menjawabnya.
"Iya Kak," jawab Hasan.
"Oh, dia pergi ke asrama." Jawab Hasan yang sukses membuat Arum terkejut.
"Kenapa ke asrama Kak?" Arum kembali bertanya.
"Dia terpilih pertukaran mahasiswa dan untuk enam bulan ke depan dia akan jadi mahasiswa sekaligus akan membantu mengajar madrasah di sini," Hasan menjelaskan maksud kedatangan Huda di pesantrennya.
"Kamu kenapa terlihat resah seperti itu? apa ada masalah?" tanya Hasan yang merasa aneh dengan ekspresi Arum.
"Eh, Kak apa Aku boleh jujur?" bukannya menjawab pertanyaan Hasan, Arum justru melempar pertanyaan pada Hasan.
__ADS_1
"Jujur? apa ada masalah? jika iya duduklah! dan katakan semua yang ingin kamu katakan, jangan di pendam!" jawab Hasan menatap lekat ke arah Arum.
"Kak, sebenarnya Ak~" ucapan Arum terpotong karena kedatangan seorang santri yang mencarinya.
"Assalamualaikum, Mas Hasan!" panggil sang santri.
"Iya, masuklah!" Hasan yang mendengar namanya di panggil terpaksa menyahuti dan mengabaikan Arum yang langsung berhenti berbicara saat mendengar nama Hasan di panggil.
"Maaf mengganggu Mas," ucap Sang santri yang melihat ada Arum duduk di sofa tak jauh dari tempat Hasan duduk
"Tidak apa-apa, masuk dan katakan ada apa kamu mencariku?" Hasan yang tak ingin basa basi langsung menyuruh sang santri untuk masuk ke dalam rumah.
"Di luar ada yang mencari Mas Hasan," jawab Sang santri.
"Siapa?" Hasan kembali melempar pertanyaan pada sang santri.
"Namanya Pak Hilman," sang santri kembali menjawab pertanyaan Hasan.
"Suruh dia ke sini!" titah hasan.
"Sayang maaf ya, Pak Hilman adalah clien pentingku ada sesuatu yang harus kami bahas, bisakah kamu membuatkan minum untuknya juga untukku?" Hasan yang tak ingin Arum segera pergi menyuruhnya untuk membuatkan minum agar Arum tak lekas kembali ke asrama karena Arum harus menjelaskan apa yang tadi ingin dia jelaskan.
"Baik Kak," Arum yang tak ingin berdebat ataupun melawan akhirnya memilih mengiyakan apa yang di perintahkan oleh Hasan padanya.
"Satu lagi, kalau sudah buat minum jangan balik ke pesantren dulu, tunggu Aku di kamarku yang ada di atas! kalau urusanku sudah selesai Aku akan memanggilmu dan kita lanjutkan pembicaraan kita tadi di sini." Sambung Hasan yang kembali memberi perintah pada Arum, dengan begini Arum tidak akan kembali ke asrama dulu sebelum menjelaskan semuanya.
Arum hanya mengangguk menjawab semua perintah yang di berikan oleh Hasan, kemudian melenggang pergi meninggalkan hasan yang masih setia duduk do tempatnya.
Waktu terus bergulir, Arum yang sejak tadi sudah selesai membuatkan minum dan mengantarkannya ke ruang tamu kini duduk diam di tepi ranjang berukuran king size yang ada di kamar Hasan, hal yang paling membosankan di dunia adalah menunggu dan Arum juga merasakan hal yang sama.
Arum yang sejak tadi hanya menatap televisi yang sengaja dia nyalakan kini mulai terserang bosan, pelan tapi pasti Arum berdiri melihat sekeliling kamar yang terlihat begitu elegan dan sejuk dengan pilihan warna yang tak terlalu mencolok juga tak terlalu monoton seperti kamar Laki-laki di luar sana.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu mengejutkan Arum yang sedang asyik memperhatikan sekeliling kamar.
"Iya, siapa?" tanya Arum seraya berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Mbak Arum di panggil Umik." Ucap sang santri yang tadi mengetuk pintu.
"Di mana Mbak?" tanya Arum.
"Mbak di tunggu di ruang keluarga di ndalemnya Umik." Jawab sang santri.
"Baiklah Mbak saya akan ke sana. Terima kasih sudah di kasih tahu," sahut Arum.
"Iya Mbak, kalau begitu saya permisi." Pamit sang santri berjalan menjauh meninggalkan Arum yang masih setiaberdiri di tengah pintu.
"Hem," satu jawaban singkat keluar dari bibir Arum.
Hari ini mungkin memang bukan takdir Arum untuk bisa menhelaskan semuanya, ada saja halangan yang menghalangi niat Arum untuk menjelaskan apa yang seharusnya sudah dia jelaskan sejak dulu.
"Kak Hasan!" panggil Arum setelah sampai di ruang tamu.
"Iya," sahut Hasan sejenak menghentikan aktifitasnya yang sedang mengetik di laptop dan menoleh ke arah Arum.
"Kak, Aku di panggil Umik, jadi Aku peegi dulu ya." Pamit Arum dengab wajah melas yanh sengaja dia tunjukkan.
Ekspresi melas yang dia tunjukkan saat ini biasanya sangat ampuh, Arum biasa menampakkannya di depan Huda dan dia akan langsung luluh saat itu juga.
"Baiklah, kita bicarakan lagi besok dan kamu harus menjelaskannya sejujur-jujurnya!" jawaban Hasan cukup memuaskan Arum, meskipun dalam diri Hasan terdapat segudang tanya tapi sekuat tenagadia menahannya karena selain Arum yang memang di panggil Umik, Hasan juga harus menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai dia kerjakan sedang clien yang tadi menemuinya sudah lebih dulu pulang dengan setumpuk pekerjaan yang harus di selesaikan Hasan.
"Terima kasih sudah mau mengerti, kalau begitu Aku pamit ke rumah Umik dulu. Assalamualaikum," pamit Arum.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab Hasan.
Arum kembali melangkah keluar rumah Hasan dengan sejuta rasa yang bersemayam di hatinya.