Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ungkapan Hati Huda


__ADS_3

Bukannya menjawab atau merespon apa yang di tegaskan oleh Desy sia malah tersenyum seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Astaghfirullah, capek aku ngomong sama Mas Huda," ujar Desy seraya berpaling dan melanjutkan pekerjaan mengumpulkan dekorasi gorden di ranjang yang di sediakan.


"Kalau capek mending istirahat jangan di terusin! biar aku yang ngelanjutin." Ujar Huda membuat Desy semakin jengkel.


Desy tak lagi menggubris ucapan Huda dan memilih untuk fokus memasukkan gorden ke dalam keranjang. Sedang Huda merasa semakin tertantang untuk menggoda dan membuat Desy terbawa perasaan, entah mengapa ada rasa bahagia saat Huda mendengar Desy takut terbawa perasaan saat dia memberi perhatian lebih padanya, apa yang di katakan Desy membuat Huda yakin jika sebentar lagi dia pasti bisa membuat Desy jatuh hati padanya.


"Tidak usah aku masih bisa melakukannya sendiri." Tolak Desy yang kini berubah jadi sedikit ketus dan dingin di hadapan Huda.


"Tidak baik memaksakan diri, kalau kamu merasa capek lebih baik istirahat jangan di paksakan!" pesan Huda membuat Desy semakin jengkel.


'Duh, nyesel aku ngomong yang sebenarnya ke dia,' gerutu Desy dalam hatinya.


"Biarin," sahut Desy dengan nada ketusnya.


Huda yang mendapat perlakuan ketus dari Desy hanya tersenyum tanpa ada rasa jengkel sedikitpun di hatinya, melihat ekspresi wajah Desy yang berubah-ubah sungguh membuat Huda bahagia dan semakin bersemangat untuk terus menggodanya.


Sedang Desy yang merasa Huda semakin mempermainkan peringatannya tak lagi menimpali ataupun menghiraukan Huda, Desy langsung berjalan menjauh meninggalkan Huda yang masih setia membersihkan pernak pernik gorden yang sudah di lepas.


"Desy! kamu mau ke mana?" tanya Huda saat melihat Desy berlalu tanpa peduli padanya.


"Mau ke kamar mandi." Jawab Desy sedikit sinis, tanpa menoleh ke arah Huda meski langkahnya telah terhenti.

__ADS_1


"Ngapain ke kamar mandi bawa gorden segala?" tanya Huda.


"Mau di cucilah, masak mau di buang," jawab Desy dengan ekspresi sinisnya.


"Emang Umik nyuruh kamu nyuci gorden itu?" Huda yang sudah mendapat pesan untuk mengantar Desy ke tempat laundry untuk membawa semua gorden yang telah di lepas dan di bersihkan di sana hanya diam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada melihat Desy membawa semua gorden di keranjang.


"Bener juga, Umik cuma nyuruh aku ngelepas gorden tidak menyuruhku mencucinya." Lirih Desy menghentikan langkahnya setelah menyadari kesalahannya.


"Tadi Umik menyuruhku mengantarmu ke tempat laundry tak jauh dari sini, apa Umik tidak memberitahumu?" ujar Huda memastikan jika apa yang ada di fikirannya benar.


"Umik tidak berpesan seperti itu, beliau hanya menyuruhku melepas gorden ini saja tidak menyuruhku yang lain," jawab Desy jujur.


"Tapi Umik berpesan padaku, apa perlu kita cari Umik dan menanyakannya," tawar Huda.


"Bagaimana? Kamu mau ikut atau kuta tanya dulu ke Umik untuk memastikannya?" Huda yang tak kunjung mendapat jawaban memilih untuk diam sejenak hingga dia benar-benar yakin jika apa yang di katakan oleh Huda memang benar adanya.


"Baiklah, kita ke tempat laundy." Jawab Desy yang akhirnya memilih untuk menerima tawaran Huda tanpa harus bertanya lagi pada Umik.


"Yasudah, tunggu apalagi? Ayo berangkat!" ajak Huda yang terlihat begitu bersemangat membawa satu keranjang besar di tangannya dan menyisakan satu keranjang kecil untuk Desy bawa.


"Kita nganter laundry ini ke mana?" tanya Desy yang bingung melihat Huda membuka bagasi mobil dan menaruh gorden yang tadi dia bawa di sana.


"Udah gak usah banyak tanya, kamu ikut saja!" jawaban yang tak pernah di harapkan oleh Desy keluar dari mulut Huda.

__ADS_1


'Dasar nyebelin, aku nanya gitu aja gak di jawab sama dia,' batin Desy kembali menggerutu seolah dia orang yang paling jengkel dengan sikap Huda, padahal jika di lihat dan di dengarkan seharusnya Huda yang jengkel dengan sikap dan ucapan Desy yang ketus sejak tadi.


"Ayo masukin gordennya!" titah Huda membuyarkan lamunan Desy.


Tanpa menyahuti ucapan Huda Desy langsung menaruh semua gorden yang ada di keranjangnya tanpa suara sepatah katapun.


"Jangan duduk di belakang! aku bukan sopirmu," ujar Huda saat melihat Desy hendak membuka pintu belakang mobil.


"Tapi aku bukan muhrimmu yang bisa duduk di sampingmu," sahut Desy dengan nada sedikit ketus karena rasa jengkelnya masih tersisa.


"Bagaimana kalau Mas Huda mengantar gorden-gorden itu sendiri dan aku bisa melakukan pekerjaan yang lain?" Desy mengambil kesempatan ini untuk segera pergi menjauh dari Huda.


"Baiklah kamu bebas mau duduk di mana saja. Tapi kamu harus ikut mengantar gorden-gorden ini bersamaku." Huda akhirnya memilih untuk mengalah dari pada harus mengantarkan gorden yang harus dia laundry sendirian. Dan Desy yang merasa menang langsung masuk ke dalam mobil dengan perasaan senang karena dia tak harus berada di jok depan.


Jujur saja sebenarnya Desy selalu merasa salah tingkah saat berada di dekat Huda, dia harus berusaha keras mengendalikan diri agar terlihat biasa saja di hadapan Huda.


Mobil berjalan dengan kecepatan di bawah rata-rata bahkan pelan membuat Desy yang merasa lelah perlahan mengantuk, tanpa bisa di kendalikan lagi Desy tertidur di jok bagian belakang.


"Cantik juga," lirih Huda yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri saat tak sengaja melirik spion dan melihat wajah lelap Desy yang terlihat begitu tentram dan damai.


Perjalanan menuju tempat laundry sebenarnya tak butuh waktu lama hanya saja Huda sengaja memperlambat laju mobilnya agar lebih lama berdua dengan Desy di dalam mobil.


"Maaf Desy, mungkin saat ini aku masih belum busa memastikan bagaimana perasaanku padamu, begitu juga dengan rencana ke depan, aku masih tidak tahu apa aku bisa move on atau tidak dari Arum yang merupakan cinta pertamaku. Tapi yang jelas saat ini aku merasa senang saat di dekatmu, suatu saat jika waktunya telah tiba dan aku sudah bisa lupa dengan semua rasa yang masih tersisa ini aku akan datang untuk meminangmu, saat aku telah yakin jika hatiku telah memilihmu, aku harap kamu bisa sabar menungguku." lirih Huda menatap lekat Desy yang terlihat begitu lelap di jok belakang mobil, saat ini mobil telah sampai dan terparkir cantik di depan tempat laundry hanya saja Huda enggan untuk langsung turun dia lebih memilih diam menatap lekat ke arah Desy dari pantulan kaca spion, Huda juga mengungkapkan apa yang dia rasakan meski dengan nada suara yang begitu lirih hingga hanya telinganya yang mendengar.

__ADS_1


__ADS_2