
"Mau Aku bantu?" tanya Husein tersenyum penuh arti ke arah Arum.
"Boleh," jawab Arum dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.
"Tunggu apa lagi? ayo masak!" ajak Husein.
"Tunggu Kak, Aku masih mau makan tempe goreng ini, lagi pula Aku masih harus ambil mie instan di kamar." Arum menolak secara halus karena dia memang masih ingin makan tempe.
Arum masih asyik menikmati tempe goreng yang ada di meja beserta teh yang sudah di buat oleh Mbak Hana. Setelah merasa puas Arum berdiri meninggalkan Husein yang justru pergi ke dapur untuk mempersiapkan air agar Arum langsung bisa memasak ketika sudah sampai nanti.
Dengan penuh semangat Husein memasak air untuk Arum.
"Ngapain kamu?" tanya Hasan yang kebetulan lewat di dapur.
"Ngebantu calon istri." jawab Husein enteng tanpa ada beban, tapi jawaban Husein justru membuat Hasan bingung dan reflek langsung berbalik arah mendekati Husein yang sedang menyalakan api.
"Siapa calon istrimu?" tanya Hasan yang kini duduk di kursi meja makan tepat di samping Husein berdiri.
"Kepo," sungguh jawaban yang tak memuaskan bagi Hasan.
"Assalamualaikum," ucap Arum yang datang di tengah-tengah kedua saudara kembar itu sedang berbincang.
"Waalaikum salam," sahut keduanya berbarengan.
"Arum! sini Aku bantu masak!" ucap Husein yang berjalan mendekat ke arah Arum.
Hasan yang sejak tadi diam menatap kedua orang yang sedang bertegur sapa, entah mengapa sudut hatinya berdenyut saat melihat Arum dan Husein yang terlihat memasak bareng bercanda dengan begitu akrabnya.
"Khem," suara deheman Hasan membuat kedua sejoli yang tengah asyik memasak langsung menoleh dan menghentikan aktifitas memasaknya.
"Ada apa Kak Hasan?" tanya Arum menoleh ke arah Hasan.
"Tenggorokanku kering," jawaban ambigu yang muncul dari mulut Hasan membuat Arum mengernyit bingung.
Tanpa peduli ekspresi Arum, Hasan langsung berdiri pergi meninggalkan rumah menuju rumah Umik.
"Assalamualaikum," ucap Hasan setelas sampai di rumah Umik.
"Waalaikum salam," jawab Umik yang baru saja keluar dari kamar bersama dengan Ilzham sang Abi.
"Umik, Abi," Hasan mencium punggung tangan keduanya berjalan duduk di ruang tengah bersama sang Abi dan Umiknya.
"Abi, Umik," Hasan membuka suara.
"Iya Nak, ada apa?" tanya Umik dengan nada lembut.
__ADS_1
Flashback of ....
Setelah mendengar penuturan sang putera Umuk langsung masuk ke dalam kamar meraih ponsel dan menghubungi Fia sahabatnya, Umik yang merasa begitu bahagia langsung memberitahukan kabar gembira bahwa puteranya sendiri yang meminta Umuk untuk meminang Arum.
"Assalamualaikum Fia," ucap Umik
"Waalaikum salam Umik," jawab Fia dengan kekehan yang di tahan agar tak terdengar sampai ke telinga Umik.
"Fia!! jangan bercanda!" Umik memang merasa tidak suka jika di panggil Umik oleh sahabatnya itu, dia merasa lebih tua jika di panggil Umik oleh Fia.
"Hahahah, ada apa Zeyenk?" sahut Fia.
Meski umur mereka sudah banyak bertambah, tapi keakraban yang mereka miliki tak sedikitpun berkurang. Mereka tetap akrab seperti saat masih muda.
"Fi, anakku meminta agar Aku meminang Arum." Jawab Umik.
"Seriously???" sahut Fia girang.
"Kamu fikir Aku sedang bercanda?" jawab Umik.
"Santai donk Uqi," ucap Fia, yang sebenarnya juga merasa begitu bahagia tapi tak se heboh Umik.
"Santai? Fi, Aku lagi seneng banget ka.u bilang santai." Umik sedikit emosi mendengar ucapan Fia yang terdengar biasa saja tak menunjukkan ekspresi bahagia setelah mendengar penuturan Umik.
"Aku bahagia Uqi, oh iya kapan kita resmikan?" tanya Fia dengan penuh semangat.
"Tunggu dulu, jangan minggu depan! biar Aku rundingkan sama suamiku setelah itu Aku akan kabari kamu hasilnya." Jawab Fia.
Rifki memang sangat sibuk, jadi butuh rencana yang matang untuk mengadakan sebuah acara. Apalagi acara pertunangan maka butuh perencanaan yang matang.
"Baiklah, Aku tunggu kabar darimu," ucap Umik.
"Siap Zeyenk, assalamualaikum," pamit Fia
"Waalaikum salam," jawab Umik sambil menutup saluran telfon.
Flashback of ....
Hasan yang mendengar pertanyaan Umik langsung bertanya,
"Umik, bagaimana kelanjutan niatan Hasan yang ingin meminang Arum?" tanya Hasan dengan wajah penuh harap.
"Sabarlah Nak! besok Bundanya Arum akan memberi kabar kapan pastinya kita bisa datang ke rumah mereka untuk meminang Arum." Jawab Umik.
"Jika kalian berjodoh, pasti akan bersatu." Sahut Abi yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kedua orang yang paling di sayangi sedang berbincang.
__ADS_1
"Abimu benar Nak," ucap Umik membenarkan ucapan Abi.
"Baiklah Umik Aku akan bersabar untuk menunggunya." Jawab Hasan.
Waktu terus berjalan matahari yang sejak tadi bertahta di atas langit perlahan turun ke peraduan, menampilkan cahaya senja yang terlihat begitu indah.
Arum yang sudah siap berperang di dapur dengan peralatan lengkap, celemek juga sarung tangan anti panas.
"Mbak Hana, kita mau masak apa hari ini?" tanya Arum yang kini berdiri di samping Hana.
"Mas Hasan suka sekali makanan khas kampung," jawab Hana dengan senyum yang mengembang.
"Maksudnya makanan khas kampung gimana ya Mbak?" tanya Arum yang justru tak mengerti maksud Hana.
Hasan pernah ikut tinggal di desa bersama Ummah dan Buya, saat di sana Hasan sering di buatkan makanan khas orang kampung. Seperti pucuk daun singkong di rebus dan di makan sama sambal terasi, ikannya tempe, terong goreng plus ikan asin nasinya nasi jagung.
"Makanan khas kampung itu makanan yang biasa tersedia di kampung, seperti nasi jagung ikan asin, tempe goreng sama sambal terasi dan pucuk daun singkong yang sudah di rebus sebagai lalapan." Jelas Hana.
"Ohh, ajari Aku masak yang tadi Mbak bilang ya." Pinta Arum yang di balas senyuman dan anggukan oleh Hana.
Hana menjelaskan satu per satu bahan masakan yang akan di masak, mulai dari daun singkong sampai ke ikan asin.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Arum sambil mengelap tangannya yang masih basah.
"Alhamdulillah," Hana juga mengucapkan syukur.
"Terima kasih ya Mbak sudah ngajari Aku cara masak." Ucap Arum.
"Iya sama-sama," jawab Mbak Hana.
"Assalamualaikum," ucap Hasan yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam," jawab Arum dan Hana hampir bersamaan.
"Arum!" panggil Hasan.
"Iya, Kak," jawab Arum.
"Apa kamu sudah selesai memasak?" tanya Hasan.
"Sudah Kak," jawab Arum.
"Kembalilah ke pesantren untuk ganti baju daan mandi, setelah itu kembali ke sini!" titah Hasan.
"Untuk apa ke sini lagi Kak?" tanya Arum yang bingung mendengar perintah Hasan.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya! lakukan saja!" ujar Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih mematung di tempatnya.
'Aneh,' batin Arum yang kini ikut pergi meninggalkan dapur menuju asrama.