
"Abi, Aku pengen pergi ke suatu tempat. Apa Abi mau nganter?" tanya Arum yang baru saja selesai mandi dan berganti baju.
"Emang kamu mau pergi ke mana Syei'?" tanya Hasan.
Sebenarnya Hasan memiliki beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan, tapi mendengar Arum meminta untuk mengantarkannya ke suatu tempat membuat Hasan harus menghentikan pekerjaannya dan meneruskannya nanti.
"Aku pengen pergi ke taman kota." Jawab Arum, sejak balik ke indonesia Arum sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk jalan-jalan atau bahkan hanya menghabiskan waktu di taman kota seperti yang dulu peenah dia lakukan.
"Kamu mau ngapain ke taman kota?" tanya Hasan yang bingung dengan permintaan Arum.
"Jalan-jalan." Jawab Arum singkat.
"Jalan-jalan kok ke taman kota, memangnya di sana ada apa Syei'?" Hasan yang kurang menyukai tempat ramai mencoba mencari alasan agar Arum tak meminta dirinya untuk mengantarnya ke Taman kota.
"Ada semut," jawab Arum jengkel mendengar Hasan yang tak langsung menjawab iya malah bertele-tele dengan berbagai alasan.
"Loh kok semut? kamu marah ya Syei'?" tanya Hasan seolah tak peka dengan apa yang di rasakan oleh Arum.
"Ishhh sudahlah, ngomong sama Abi percuma, lebih baik Aku berangkat bareng temen dari pada dengerin omongan Abi yang berbelit-belit." Ujar Arum yang langsung berdiri dan melenggang pergi menuju nakas tempatnya menyimpan ponsel.
"Syei' ngambek sama suami itu gak baik loh," seru Hasan yang langsung menutup laptopnya dan mengejar Arum masuk ke dalam kamar.
"Aku gak ngambek Bi, hanya malas untuk berdebat, jadi lebih baik Aku berangkat sama teman. Yang penting Aku udah izin sama Abi." Ujar Arum menghentikan langkahnya.
"Memang kapan Abi ngizinin kamu pergi?" tanya Hasan yang kini sudah berada tepat di belakan Arum.
"Loh, Abi gak ngizinin Aku pergi?" Arum kembali bertanya.
__ADS_1
"Abi ngizinin kamu pergi asal perginya sama Abi." Tegas Hasan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? ayo pergi!" ajak Arum yang langsung berbalik arah menghadap ke Hasan dengan wajah berbinar.
"Jangan senang dulu! Abi mau pergi tapi ada syaratnya," Hasan yang merasa memiliki kesempatan langsung mempergunakannya.
"Syarat? kenapa harus pakai syarat segala sih Bi?" keluh Arum.
"Kamu tenang aja, syaratnya gampang kok, dan kamu pasti bisa melakukannya." Jawab Hasan dengan seringai licik di bibirnya.
"Baiklah, syaratnya apa?" Arum yang cukup lama rindu untuk jalan-jalan tak mau mengulur waktu lebih lama.
"Ini!" Hasan menunjuk pipi kanannya membuat Arum memelototkan mata terkejut dengan syarat yang di berikan oleh Hasan.
"Maksudnya Aku harus cium pipi Abi?" tanya Arum memastikan apa yang dia tebak benar atau salah, dan Hasan hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Tapi Bi, Aku ga~" ucapan Arum terpotong karena Hasan langsung menyelanya.
Arum yang mendengar ucapan Hasan hanya bisa diam tanpa bisa membalas ucapannya, karena apa yang di katakan oleh Hasan memang benar adanya.
"Sudah jangan terlalu banyak di fikir! kalau kebanyakan mikir nanti kemaleman loh." Seru Hasan sembari menaik turunkan alisnya.
Arum menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya perlahan mencoba mengumpulkan segala keberaniannya untuk melakukan apa yang Hasan minta, sedang Hasan yang merasa menang banyak hanya bisa tersenyum melihat Arum.
Sebenarnya Arum bisa saja langsung pergi tanpa memperdulikan syarat yang Hasan berikan, hanya saja Arum tak ingin menjadi istri yang durhaka. Meski dia awwam dalam hukum islam tapi sedikit banyak dia tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dia kerjakan.
"Baiklah, tapi tutup dulu mata Abi! baru Aku mau melakukan syarat yang Abi minta." Ujar Arum.
__ADS_1
"Gak mau, Abi maunya kamu melakukannya langsung tanpa harus menutup mata." Tolak Hasan membuat Arum harus mengalah dan menuruti apa yang di inginkan Arum agar mereka segera berangkat sebelum waktu semakin malam.
Arum merasa begitu malu dan gugup, pasalnya ini pertama kalinya dia mencium pipi seorang pria kecuali pipi sang kakak dan Ayahnya.
'Cup'
Arum yang hendak menciup pipi Hasan kini malah salah sasaran karena saat dia ingin mencium Hasan, dia malah berbalik melihat ke arah Arum yang membuat Arum sukses mencium bibirnya.
Keduanya kembali terdiam tapi tidak dengan Hasan yang merasa menang banyak juga memiliki kesempatan untuk merasakan bibir yang sejak kemarin menggoda untuk di cicipi itu. Hasan langsung memegang belakang kepala Arum dan memperdalam ciumannya, menikmati setiap inci bibir ranum Arum, meski Arum hanya diam tak membalas tapi Hasan tak mempermasalahkannya, bagi Hasan dengan Arum tak memberontak dan hanya diam saja sudah cukup memberi isyarat jika dirinya mengizinkan Hasan untuk melakukan apa yang saat ini dia lakukan.
Arum yang merasakan sentuhan lembut namun penuh gairah dari sang suami merasakan hal yang berbeda dan asing, karena ini yang pertama bagi Arum. Ciuman pertamanya di renggut oleh suaminya sendiri, dalam hati Arum ingin rasanya dia memberontak dan melawan Hasan agar berhenti tapi akal sehatnya kembali menyadarkan Arum jika apa yang di lakulan oleh Hasan adalah hal yang wajar karena Hasan adalah suaminya dan apa yang ada pada diri Arum sudah sah juga halal bagi Hasan.
"Hah ... hah ... hah ...." Arum yang kehabisan nafas langsung melepaskan diri secara paksa dan Hasan yang sadar jika Arum sudah kehabisan nafas hanya bisa diam sembari mengelap bibir Arum yang terlihat basah karena ulahnya.
"Maaf, Abi kelepasan," ujarnya enteng, dan Arum hanya bisa menggeleng pelan sebahai tanda jika dia tidak marah.
"Kamu tidak marah?" sambung Hasan.
"Tidak Bi," jawab Arum singkat sambil menundukkan kepala menutupi wajahnya yang mungkin sekarang sudah merah seperti kepiting rebus karena merasa malu dan sedikit jengkel dengan serangan tiba-tiba yang di lakukan oleh Hasan.
"Kalau begitu boleh donk Abi melakukannya sekali lagi?" tanya Hasan yang merasa begitu gemas dengan sikap Arum yang malu-malu dengan pipi yang merah merona seperti itu.
"Kalau Abi mau melakukannya lagi terus kita kapan berangkatnya?" sela Arum yang mulai merasa jengkel.
'Ini yang namanya di kasih hati minta jantung,' batin Arum jengkel.
"Aku hanya bercanda, sudah sana siap-siap! Aku tunggu di mobil." Titah Hasan yang langsung berjalan berjalan mengambil kunci yang ada di atas nakas kemudian melenggang pergi meninggalkan Arum, tapi tak sampai satu menit Hasan pergi dia kembali mengejutkan Arum yang sedang memperbaiki hijabnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Abi ngagetin aja," spontan Arum dan Hasan hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Arum.
"Kenapa Abi balik lagi? apa ada masalah?" tanya Arum yang melihat Hasan justru kembali masuk kamar dan membuka lemari untuk berganti baju.