
"Ini makanan untukmu dan teman sekamarmu yang lain." Ibu Desy memberikan satu kantong plastik berwarna hitam berisi makanan yang sudah di masakkan oleh Ibu Desy.
"Apa Ibu bawa oseng pepaya?" tanya Desy.
"Di sana sudah Ibu buatkan masakan kesukaanmu dan Shinta," jawab Ibu Desy.
Shinta sangat menyukai oseng pepaya buatan Ibu Desy, sedang Desy sangat menyukai oseng pokak (Semacam terong berukuran kecil dan bulat) yang di masak bersama ikan asin.
"Ibu pasti buatkan kami nasi jagung," tebak Shinta.
"Kamu benar, Nak, hari ini Ibu khusus masak nasi jagung dan lauk yang pas untuk di makan bersamanya," jawab Ibu Desy.
Shinta memang sudah akrab dengan Ibu Desy, dia sudah seperti saudara, jadi Ibu Desy sedikit tahu apa yang di sukai oleh Shinta.
"Alhamdulillah, makn enk kita hari ini Desy," ujar Shinta.
"Bener banget, bakal lupa diri entar," sahut Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Persahabatan Desy dan Arum sudah seperti saudara, keduanya sering berbagi setiap mendapat rezeki dan saling berbagi duka setiap punya masalah.
"Baiklah, Ibu pulang dulu. Kamu hati-hati di pesantren jaga diru baik-baik!" pesan Ibu Desy sebelum pergi meninggalkan Desy.
"Terima kasih untuk semua yang Ibu dan Ayah berikan, maaf, Desy masih belum bisa beri yang terbaik untuk kalian," jawab Desy.
"Dengan kamu jadi anak yang baik dan penurut sudah cukup untuk kami, selalu do'akan kami di setiap sholat yang kami kerjakan sebagai tanda baktimu, Nak," sahut Ayah Desy.
"Siap Ayah," ucap Desy
"Aku pulang dulu ya Kak." Pamit Vina sembari mencium punggung tangan sang Kakak.
"Jadi anak yang pintar dan nurut ya, Dek, jangan lupa belajar!" pesan Desy sebelum Vina pergi meninggalkan pesantren.
__ADS_1
"Siap Kakakku," sahut Vina.
Kedua orang tua Desy beserta sang adik pergi meninggalkan pesantren untuk kembali pulang. Sedang Desy masih tetap berdiri di tempat tak bergerak sedikitpun, dia masih menatap kepergian keluarganya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
'Kenapa aku masih merasa ganjil ya dengan jawaban Ayah dan Ibu tentang kiriman yang mereka bawakan?' batin Desy sambil terus menatap lurus ke arah Ibu dan Ayahnya pergi.
Sejenak Desy termenung hingga akhirnya dia sadar, hanya rasa syukur yang bisa Desy panjatkan atas apa yang di dapatkan olehnya saat ini, Desy melangkah kembali masuk ke dalam pesantren dan menemui Shinta yang masih setia duduk santai sambil membaca novel yang berhasil dia sembunyikan dari seksi keamanan kamis kemarin.
"Masih belum selesai juga baca novelnya?" tanya Desy sesaat setelah masuk ke dalam kamar dan melihat Shinta duduk bersandar di tembok sambil khusuk membaca novel favoritenya.
"Tinggal dikit Desy, besok juga udah kelar," jawab Shinta.
"Udah di taruh duli novelnya. Mending kita makan dulu." Ajak Desy.
"Kalau di ajak makan aku paling suka, ayo!" jawab Shinta langsung menutup novel yang tadi dia baca dan menaruhnya di tempat tersembunyi kemudian berjalan menghampiri Desy yang sedang memberikan makanan untuk di makan bersama di kamar dan memisahkan makanan yang akan dia makan sendiri untuk nanti sore.
~
"Nanti Bi, aku masih malas," tolak Arum.
Entah mengapa Arum jadi berubah, dia yang biasanya aktif dan suka melakukan pekerjasn kini mudah lelah dan leboh suka berbaring di atas tempat tidur.
"Ini sudah jam sepuluh lebih, dan kamu masih belum makan apapun, apa kamu gak kasihan sama calon anak kita?" Hasan masih berusaha membujuk sang istri.
Sejak kejadian muntah-muntah kemarin Arum kini berada di rumah Hasan sendiri, karena dia merasa tak enak hati pada Umik yang terus-terusan mondar-mandir merawatnya, padahal Arum hanya merasa lemas tidak sedang sakit tapi Umik memperlakukannya seperti orang sakit.
Arum merasa bahagia dan penuh rasa syukur memiliki mertua seperti Umik, tapi di sisi lain dia tak ingin terlalu merepotkannya.
"Arum, jika kamu malas tak apa, tapi ingatlah jika sekarang kamu makan dan minum bukan cuma untuk dirimu saja, tapi juga untuk bayi yang sedang tumbuh dalam rahimmu Syei'," tutur Hasan dengan suara lembut selembut sutera mencoba memberi pengertian pada bumil yang sedang malas melakukan aktifitas apapun.
Tanpa menjawab atau mendebat ucapan Hasan, Arum yang sejak tadi diam kini duduk dan meminum susu yang di buatkan oleh Hasan.
__ADS_1
"Terima kasih, Syei'," tutur Hasan seraya mengusap pelan kepala Arum.
"Maaf, Bi," lirih Arum merasa sedih karena apa yang di katakan Hasan benar adanya.
"Sudah, jangan minta maaf! kamu tidak salah, yang penting sekarang kamu mau makan itu yang terpenting buat Abi," ucap Abi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Syei', tadi pagi aku masak bubur ayam khusus untukmu, apa kamu mau mencobanya?" tawar Hasan.
"Boleh Bi, mana bubur ayamnya?" Arum menerima tawaran Hasan dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
"Tunggu sebentar! biar Abi ambilkan." Pamit Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih duduk di tempatnya.
Hasan terlihat bersemangat memanaskan bubur dan kuah yang dia buat tadi pagi kemudian menaruhnya di mangkuk dan membawa bubur hangat ke kamar agar Arum bisa makan.
"Syei', ayo buka mulut! biar Abi suapi." Pinta Hasan yang kini sudah duduk di sebelah Arum sambil memegang satu mangkuk bubur buatannya sendiri.
"Emmm, bubur ayam buatan Abi benar-benar enak, aku suka Bi," puji Arum dengan mata berbinar setelah merasakan bubur ayam yang di bawakan oleh sang suami.
"Alhamdulillah kalau kamu suka Syei'," sahut Hasan yang tersenyum bahagia melihat ekspresi dan pujian Hasan.
Satu persatu suapan masuk ke dalam mulut Arum, dengan penuh semangat Arum mengunyah dan menikmati setiap suap bubur yang di berikan oleh Hasan. Entah mengapa masakan Hasan terasa begitu nikmat apalagi jika di suapi seperti ini, rasanya benar-benar tak tertandingi nikmatnya.
"Abi, kurang," rengek Arum, setelah melihat satu mangkuk bubur ayam di tangan Hasan telah tandas tak tersisa sedikitpun.
Ting tong ... ting tong ....
Suara bel pintu rumah terdengar, mengalihkan perhatian sepasang suami istri yang sedang duduk di kamar setelah menghabiskan bubur ayam.
"Bi, ada tamu, lebih baik Abi buka saja pintunya dan temui tamu yang datang, aku mau ambil sendiri buburnya." Ujar Arum setelah memakan satu mangkuk bubur ayam, kini Arum merasa lebih kuat dan bersemangat untuk makan lagi.
"Apa kamu sudah kuat jalan Syei'? atau perlu Abi panggilkan Mbak Hana untuk menemani dan mengambilkan bubur untukmu?" tawar Hasan dengan wajah khawatir, pasalnya sejak kejadian kemarin Arum terlihat lemas dan pucat.
__ADS_1
"Abi pergilah! aku sudah lebih kuat sekarang," jawab Arum dengan senyum sumringahnya agar Hasan tak lagi mengkhawatirkannya, karena saat ini Arum memang merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.