
Arum hanya tersenyum menanggapi ucapan Merry kemudian berjalan mengikuti langkah Merry masuk ke dalam butik dan memilih beberapa gaun yang tergantung indah di tempat penyimpanan khusus gaun pengantin.
"Bajunya bagus-bagus," lirih Arum.
"Pilihlah mana yang kamu suka, biar Tante Merry mengukur badanmu dan membuatkan yang pas untukmu!" titah Hasan dengan nada dingin kemudian beranjak pergi meninggalkan Arum sendiri untuk memilih baju sedang Hasan duduk di tempat tunggu.
'Dasar es batu,' gerutu Arum dalam hati.
Saat ini Arum benar-benar merasa lelah menghadapi sikap Hasan yang tiba-tiba dingin dan acuh pada dirinya, Arum yang sudah berada di ujung kesabarannya dan tak bisa menahan lagi langsung berbalik menghampiri Hasan yang duduk dengan santainya sambil menatap layar yang menyala di ponselnya.
"Moodku hilang, lebih baik kita pulang saja." Ucap Arum saat berada tepat di depan Hasan kemudian kembali berjalan tanpa memperdulikan apapun yang ada di sekitarnya.
"Tunggu!" sahut Hasan yang kini di buat bingung dengan sikap Arum yang tiba-tiba berubah, Hasan langsung berjalan lebih cepat dari Arum kemudian berdiri tepat di depannya menghentikan langkah Arum.
"Ada apa?" tanya Hasan, yang tak mendapat. jawaban dari Arum.
Melihat sikap Arum membuat Hasan semakin bingung karena saat ini Arum tak menjawab pertanyaan Hasan tapi malah menatap lekat ke arahnya, seolah ada seribu kata yang ingin di ungkapkan tapi tak mampu di keluarkan.
"Katakan! ada apa?" karena tak mendapat jawaban Hasan kembali bertanya.
"Harusnya Aku yang bertanya seperti itu, ada denganmu?" bukannya menjawab Arum justru melempar pertanyaan ke Hasan.
Hasan yang mendengar pertanyaan Arum sontak langsung mengerutkan dahi dia semakin bingung di buatnya.
"Baiklah, mungkin lebih baik kita bicara dahulu sebelum memilih gaun. Tunggu Aku di sini biar Aku pamit dulu sama Tante Merry." Ujar Hasan sembari melenggang pergi meninggalkan Arum yang diam di tempat tanpa suara.
Hasan berjalan kembali masuk ke tempat Arum memilih baju dan menemui Tante Merry untuk berpamitan sebentar dan akan kembali satu jam mebdatang, dan beruntungnya Tante Merry setuju padahal dia adalah desainer terkenal yang memiliki cukup banyak pekerjaan selain menunggu Hasan, tapi Tante Merry yang mengingat seluruh kebaikan Umik dan keluarga mengurungkan niat untuk menolak permintaan Hasan.
__ADS_1
"Ayo ikut Aku!" ajak Hasan yang di ikuti oleh Arum. Keduanya berjalan menuju sebuah cafe yang berada tepat di depan butik yang tadi di kunjungi.
"Duduklah! kita perlu bicara," ucap Hasan yang sedikit geram melihat Arum tak langsung duduj tapi malah mengedarkan pandangan ke arah sekitar.
Dan Arum yang mendengar suara Hasan seketika langsung duduk tepat di depan Hasan.
"Mbak!" Hasan melambaikan tangan seraya memanggil seorang pelayan restoran agar membawa menu.
"Dua es coklat dan dua brownis dengan toping keju di atasnya." Pesan Hasan.
"Sudah, apa ada yang mau di pesan lagi?" tanya sang pelayan restoran kembali menawarkan menu.
"Kamu mau nambah apa?" tanya Hasan yang kini mengalihkan pandangannya pada Arum yang hanua diam.
"Tidak ada, itu saja sudah cukup," jawab Arum.
"Baiklah, Mbak sementara itu saja," ujar Hasan sambil mengembalikan buku menu yang ada di tangannya.
"Ceritakan! kenapa kamu tiba-tiba ngajak pulang dan tidak jadi memilih gaun?" Hasan yang sejak tadi juga menahan diri kini bertanya.
"Semua karena kamu Kak," jawab Arum jujur.
"Karena Aku?" tanya Hasan dengan ekspresi terkejut bercampur bingung.
"Iya!! Karena sikap Kakak yang tiba-tiba berubah tanpa Aku tahu sebabnya." Arum mulai berargumen, sejak kecil Arum memang selalu blak-blakan tentang apa yang dia rasakan kecuali jika perasaan yang dia rasakan bisa menyakiti orang lain maka Arum akan menyimpannya sampai akhir hidupnya.
"Perasaan Aku tidak berubah, Aku tetap seperti sebelum-sebelumnya." Elak Hasan yang membuat Arum geram.
__ADS_1
"Kakak bersikap dingin padaku sejak tadi, katakan jika ada sesuatu yang mengganjal jangan pernah pendam sendiri dan bersikap dingin padaku Kak, bukankah Aku yang kau pilih untuk menjadi teman hidupmu? maka jadilah teman yang baik. Jika ada sikapku atau apapun yang membuat Kakak tak nyaman katakan jangan hanya diam kemudian bersikap dingin padaku." Arum yang sejak tadi diam menahan diri kini sudah tak bisa menahannya, semua yang ada di otak dan hatinya langsung keluar tanpa bisa di cegah.
Hasan yang mendengar semua keluhan yang Arum rasakan kini terdiam mematung menatap lekat ke arah Arum.
"Maaf," lirih Hasan yang kini sadar dengan apa yang sudah dia lakukan.
Arum memang selalu menang dalam berdebat ataupun berargumen sejak dulu, kini kemahirannya itu mampu mengalahkan kerasnya Hasan.
"Maaf untuk apa? katakan saja jika Aku melakukan kesalahan. Bukankah dalam sebuah hubungan apalagi rumah tangga, seorang wanita atau istri itu menjadi pakaian untuk suaminya dan begitu pun sebaliknya. Katakan jika sikapku tak baik agar Aku bisa memperbaikinya." Ucapan Arum sukses membuat Hasan mati gaya.
"Maaf jika sikapku tiba-tiba berubah dingin padamu, tapi satu hal yang harus kamu tahu tentangku ...." Hasan terlihat ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja Kak! dengan mengatakan segalanya maka tak akan ada istilah kesalah fahaman dalam suatu hubungan." Arum yang sebenarnya tegas dalam hal yang serius membuat Hasan sukses terkejut pasalnya saat ini pertama kalinya Hasan melihat sisi lain dari Arum.
"Aku tipe laki-laki yang mudah cemburu," ucap Hasan yang membuat Arum langsung membulatkan mata lebar.
"Jangan bilang Kakak cemburu karena ucapan Huda tadi pagi?" tebak Arum sambil memperhatika ekspresi wajah Hasan yang kini diam menunduk tanpa jawaban.
Arum menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, fikirannya melayang jauh ke hari-hari yang akan datang. Setelah mendengar pengakuan Hasan membuat Arum membayangkan banyak hal yang mengerikan, keposesifan seorang pasangan yang sebenarnya paling Arum hindari sejak dulu.
"Arum!" panggil Hasan yang melihat Arum terdiam tanpa ada reaksi.
"Eh, i~iya Kak," sahut Arum.
"Are you okey?" tanya Hasan yang merasa takut jika Arum tak bisa menerima dirinya yang pencemburu itu.
"Oh I'm fine," jawab Arum yang bertepatan dengan datangnya pesanan yang sudah mereka pesan.
__ADS_1
"Makanlah dulu! kata orang-orang cokelat bisa membuat hati bahagia dan bisa mengembalikan mood seseorang yang hilang." Ujar Hasan yang di balas dengan senyuman manis dari Arum.
Arum merasa jika dirinya benar-benar berada do posisi yang lumayan sulit mengingat begitu banyaknya sahabat dan teman laki-laki yanh di milikinya, jika Hasan pencemburu apa yang harus dia lakukan? menjauh atau tetap seperti biasa tetap berkomunikasi dengan mereka.