Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Jalan-Jalan Ke Danau


__ADS_3

Pagi pertama di pesantren setelah sekian lama berkelana di negeri orang memberi kesan tersendiri bagi Huda, meski kisah cintanya telah kandas di tengah jalan tapi kewajibannya sebagai mahasiswa belum berakhir.


Huda tetap melakukan aktifitasnya mencoba tegar dan ikhlas menerima segalanya, apalagi setelah mendengar rencana pernikahan Arum yang di percepat membuat Huda semakin yakin untuk melupakan Arum dan mengikhlaskannya.


"Mas Huda!" panggil seorang santri.


"Iya, ada apa?" sahut Huda.


"Mas Hasan mau berangkat kuliah?" tanya Sang Santri.


"Iya, kenapa?" jawab Huda.


"Gak apa-apa Aku cuma mau bareng," ucap sang santri dengan senyum yang mengembang.


"Owalah, oh ya namamu siapa?" Huda yang belum mengenal santri di hadapannya langsung menanyakan namanya.


"Namaku Agil," jawab Sang Santri.


Keduanya langsung berangkat ke kampus memulai hari baru di tempat yang sudah lama dia tinggalkan, dulu Huda sering bermain menghabiskan waktu di pesantren sebelum mendapat beasiswa ke luar negeri.


Berbeda dengan Huda yang memulai awal baru melangkah maju berusaha melupakan semua rasa yang pernah hinggap di hatinya, Arum justru sedang menikmati indahnya danau yang cukup ramai hari ini.


"Wah danaunya indah ya Kak," ujar Arum menatap sekeliling danau yang di penuhi oleh orang yang berolahraga.


"Indah, tapi masih indah ciptaan tuhan yang sedang ku perjuangkan," jawaban Hasan sukses membuat Arum bingung.


"Maksudnya Kak?" tanya Arum mengerutkan dahi bingung.


"Keindahan danau ini tak seindah ciptaan Tuhan yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupku," jawab Hasan dengan senyum melekat dan tatapan lekat yang tertuju pada Arum.


"Kak Hasan ternyata gombal juga ya," celetuk Arum dengan senyum yang nampak malu-malu.


"Tunggu di sini! ada sesuatu yang ingin ku beli." Pamit Hasan yang mendapat anggukan tanda setuju dari Arum.

__ADS_1


Dengan langkah penuh semangat Hasan pergi menuju kedai minuman juga makanan untuk dia makan bersama dengan Arum, sedang Arum menikmati suasana asri yang ada di sekitar danau.


"Jangan melamu! nanti ada setan lewat terus kerasukan Aku yang repot," ucap Hasan yang melihat Arum sedang terdiam bagai patung sedang menatap lurus ke arah danau di mana Da begitu banyak muda mudi yang sedang memadu kasih ataupun hanya menghabiskan waktu untuk berolahraga meski hanya lari-lari kecil di tepi kolam.


"Habis ini kita mau ke mana Kak?" tanya Arum yang sampai saat ini masih belum mengerti ke mana Hasan akan membawanya pergi.


Habis ini kita ke rumah Umma." Jawab Hasan.


"Memangnya ada apa di rumah Ummah sampai Kak Hasan mengajakku ke sana?" Arum yang tak bisa menyembunyikan atau menahan rasa penasarannya pada Hasan karena sejak tadi Hasan bersikap begitu lembut penuh perhatian tak seperti biasanya.


"Tidak ada acara apa-apa, hanya saja kita akan memilih baju pengantin sekaligus foto preweeding." Jawaban Hasan sukses membuat mata Arum membulat sempurna, bagaimana tidak tanpa ada kata atau pun pembicaraan sebelumnya Hasan tiba-tiba ngajak pergi ke rumah Umma yang tak lain adalah nenenk dari Hasan untuk preweeding.


Awalnya Arum begitu kecewa saat tahu Hasan tak membicarakan dulu foto preweeding seperti apa yang akan di gunakan, tapi dengan penuh kesabaran Arum mencoba meyakinkan diri jika ini yang terbaik dan Arum tak ingin ada perselisihan ataupun pertengkaran di antara dia dan Hasan.


"Maaf Arum," lirih Hasan yang melihat raut wajah Arum yang tak sedap di pandang, meski dengan susah payah Arum berusaha meyakinkan dan menekan perasaannya agar tak ada pertengkaran, tapi ekspresi wajah Arum tak bisa berbohong.


Di wajah Arum tergambar jelas kekecewaan yang tak terungkapkan, dan Hasan yang mengerti akan hal itu memilih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf jika sebelumnya Aku tak menjelaskan atau menceritakan padamu rencana foto preweeding yang akan kita jalani," Hasan menjelaskan tujuannya meminta maaf pada Arum.


"Tidak apa-apa Kak," jawab Arum.


"Sebenarnya Aku sendiri juga tak tahu akan seperti apa konsep preweeding yang akan kita lakukan sebentar lagi, dan Aku juga tak tahu sejak kapan persiapan preweeding ini telah di lakukan," Hasan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Terus siapa yang menyiapkan semuanya?" tanya Arum yang kini malah penasaran siapa yang menyiapkan segalanya.


"Sebenarnya yang menyiapkan semuanya itu Ummah dan Umik, Aku hanya mendapat perintah untuk mengajakmu ke sana." Jawab Hasan dan Arum hanya manggut-manggut tanda mengerti dengan apa yang telah Hasan ceritakan.


"Jika memang seperti itu, apa tidak lebih baik kita berangkat sekarang?" tanya Arum yang merasa takut jika Ummah dan yang lain sedang menunghu kehadiran ke duanya.


"Tenang saja acara fotonya di lakukan nanti setelah sholat dzhuhur, kita masih punya waktu beberapa jam untuk menikmati suasana indah di danau," ujar Hasan menatap lekat ke arah Arum yang menikmati indahnya suasana danau.


"Di sini begitu indah dan asri Kak," ujar Arum menatap sekeliling danau yang begitu indah san cukup ramai.

__ADS_1


"Iya indah," sahut Hasan.


Arum menikmati indahnya pemandangan di temani segelas es degan dan gorengan tempe yang Hasan tahu jika tempe adalah makanan kesukaannya.


Pagi indah penuh makna, Hasan dan Arum menikmati suasana indah di danau duduk berdampingan dan mengobrol ringan dengan tujuan agar saling mengenal satu sama lain.


"Apa kamu pernah punya kekasih sebelumnya?" tanya Hasan.


"Ukhuk, ukhuk," Arum yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Hasan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hasan yang langsung panik melihat Arum tersedak.


"Khem, Aku baik kok tenang saja," jawab Arum.


Keduanya terdiam tanpa ada jawaban, Arum masih sibuk menyiapkan jawaban apa yang akan dia katakan sedang Hasan sibuk berfikir apakah Arum memiliki kekasih sehingga dia tak bisa menjawab malah tersedak saat Hasan mengutarakan pertanyaannya.


"Kak Hasan Aku pergi ke toilet dulu ya." Pamit Arum.


"Hati-hati!" jawab Hasan.


Setelah mendapat jawaban Arum langsung melangkah menjauh dari Hasan, tapi baru sebentar Arum melangkah langsung berhenti dan melangkah kembali mendekat ke arah Hasan.


"Ada apa?" tanya Hasan yang bingung melihat Arum justru berjalan kembali ke arahnya.


"Toiletnya di mana Kak?" tanya Arum sambil cengengesan.


"Ayo Aku antar!" ajak Hasan berjalan mendahului Arum.


"Kak pelan-pelan jalannya," rengek Arum yang tak sanggup mengimbangi langkah Hasan yang memang lebar dan cepat.


"Maaf," sahut Hasan menperpelan langkah kakinya menuju toilet yang Arum cari.


"Masuklah! Aku tunggu kamu di sini." titah Hasan setelah sampai di depan toilet dengan jarak aman agar tak di sangka macam-macam oleh orang.

__ADS_1


__ADS_2