Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Cantik Sekali


__ADS_3

Arum terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun cream di lengkapi mahkota bertahtakan berlian dan emas putih.


"Cantik sekali," decak kagum para tamu terdengar saling bersautan membuat Arum tertunduk malu.


"Mantanmu cantik ya," bisik Imah di telinga puteranya.


"Ibu jangan sampai ada yang tahu tentang ini, biarkan ini menjadi rahasia di antara kita," bisik balik Huda di telinga Imah.


"Ibu punya satu syarat yang harus kamu penuhi jika ingin rahasia ini tetap aman," ungkap Imah dengan ekspresi wajah serius.


"Ibu mau apa dari aku?" tanya Huda.


"Menikahlah!" titah Imah.


"Apa menikah??" pekik Huda dengan suara agak keras membuat sebagian orang yang ada di sana terkejut memandang ke arah Huda dan Imah yang berada tak jauh dari tempat Arum duduk.


"Pelankan suaramu Huda!" geram Imah yang langsung menjewer telinga Huda.


"Habisnya Ibu kalau ngomong suka ngasal," sahut Huda yang justru acuh dengan tatapan ataupun suara samar-samar para tamu yang membicarakannya.


"Ibu tidak ngasal Nak, bukankah memang sudah waktunya kamu menikah?" ujar Imah.


"Ibu, jodoh itu sudah ada yang ngatur bukan hanya siapa tapi kapan dan di mana jodoh itu akan datang juga sudah tertulis sebelum kita terlahir." Jelas Huda mencoba memberi pengertian pada Imah.


"Kamu benar, Nak, tapi jika jodoh tidak di cari bagaimana dia bisa datang sendiri?" Imah mulai berdebat dengan Huda.


"Ibu yang sabar jika sudah waktunya maka aku akan menikah." Huda mencoba memberi pengertian kepada sang Ibu.


"Sabar itu ada batasnya, Nak," ujar Imah.


"Jika sabar ada batasnya maka itu bukan sabar namanya." sahut Huda.


"Sekali saja, jangan berdebat dengan Ibu!" pinta Imah yang sukses membuat Huda diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Bude lagi bahas apa? kelihatannya kok serius amat," Husein yang baru saja masuk ke dalam tenda pelaminan langsung ikut bergabung ke meja di mana Imah dan Huda sedangduduk memperhatikan tamu yang datang dan sesekali tersenyum menyapa tamu yang mereka kenal.


"Ini lagi bahas pernikahan Kakakmu." Jawaban Imah sukses membuat Huda terkejut dan bingung karenanya.


"Pernikahan? Kakak mau nikah? kapan?" Husein yang mendengar jawaban Imah langsung membrondonginya dengan pertanyaan yang cukup membuat Huda mati gaya, pasalnya Huda masih belum tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diam Kak?" Husein kembali bertanya karena merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh Imah sang bude.


"Aku gak tahu harus jawab apa Dek? calonnya masih belum ada," jawab Huda.


"Halah Kakak kan pinter ganteng pula, soal pekerjaan Kakak juga udah mapan, mana mungkin gak punya calon," sahut Husein seolah tak percaya jika seorang Huda masih tak punya calon.


'Awalnya punya, tapi udah jadi istri Hasan kembaranmu Husein,' batin Huda.


"Belum ketemu jodohnya," jawaban paling simple yang bisa di berikan oleh Huda.


"Kakak bisa aja kalau jawab," sahut Husein.


"Kamu sendiri kenapa belum menikah?" Huda balik bertanya.


"Berarti kamu udah dapet calonnya, kenapa Kakak belum tahu?" Huda mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Husein tak lagi membahas tentang pernikahannya.


"Aku emang belum ngenalin dia ke kakak, nanti bakal aku kenalin kalau waktunya sudah tepat." Jawab Husein yang merasa belum siap untuk mengenalkan Zahra pada Huda.


"Apa dia akan datang ke sini sekarang?" Huda merasa penasaran dengan gadis yang bisa mengambil hati Husein.


"Entahlah, tapi sepertinya dia akan datang bersama orang tuanya." Jawaban Husein semakin membuat Huda bersemangat untuk mengorek informasi tentang gadis yang ingin di nikahi oleh Huda.


"Jika dia datang kamu wajib mengenalkannya padaku!" titah Huda tak terbantahkan.


"Tenang saja Kak, aku pasti akan ngenalin dia ke Kakak." Ujar Husein.


"Aku pegang janjimu." Huda tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapat informasi tentang gadis yang di taksir oleh Husein.

__ADS_1


*********


"Acara sangat ramai ya," ucap Shinta.


"Pasti ramailah Shin, sejarah Umik itu pemilik pesantren ini pasti sangat ramai." Sahut Desy.


"Kalau lihat kayak gini jadi pengen nikah ya," celetuk Shinta.


"Lulus dulu woy! baru nikah," Desy sedikit mengeraskan volumenya bertujuan agar Shinta sadar jika dirinya belum lulus sekolah.


"Emang kenapa kalau nikah sebelum lulus sekolah? zaman sekarang banyak kok yang nikah SMA, jadi gak masalah donk kalau aku juga ikut nikah SMA?" elak Shinta yang merasa jika menikah sebelum lulus sekolah sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa terjadi pada gadis seumurannya.


"Nikah itu gak seindah yang kamu bayangin Shin, akan ada banyak cobaan dan rintangan yang menghadang kalian di sana. Mulai dari perbedaan pendapat hingga perselisihan yang pasti akan terus kalian lalui." Desy menjelaskan bagaimana kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.


"Kenapa kamu bisa tahu sejauh itu tentang kehidupan berumah tangga?" tanya Shinta yang justru penasaran pada Desy yang terdengar begitu mengetahui kehidupan berumah tangga.


"Aku anak pertama sekaligus satu-satunya kedua orang tuaku dan Kamu tentu tahu jika aku bukanlah berasal dari keluarga kaya sepertimu, ada banyak lika liku kehidupan yang sudah aku lalui dan karena itulah aku mengerti bagaimana kehidupan berumah tangga sesungguhnya," Desy menceritakan pengalaman hidup yang mungkin tak akan pernah di lewati oleh Shinta yang notabennya anak terakhir dari keluarga kaya.


"Apa benar seperti itu? kok aku gak tahu ya," ujar Shinta.


"Kamu gak akan pernah tahu, karena kehidupanmu jauh berbeda dengan kehidupan yang aku lalui." Ujar Desy membuat Shinta penasaran dengan kehidupan yang di jalani oleh Desy.


"Apa aku boleh mendengar sedikit cerita tentang kehidupanmu Desy?" tanya Shinta dengan harapan dia bisa belajar sekaligus mendapat ilmu yang bisa di terapkan olehnya.


"Apa yang ingin kamu dengar tentangku?" bukannya menjawab Desy malah balik bertanya.


"Ceritakan saja apa yang telah kamu alami selama ini!" titah Shinta.


"Tak ada yang menarik untuk di ceritakan, tapi setelah mengalami segalanya aku mengerti bahwa kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya tak seindah saat pertama kita menikah dan duduk di pelaminan," Desy yang merasa enggan untuk bercerita menolak halus permintaan Shinta.


"Ayolah Desy, ceritakan sesuatu yang mungkin bisa aku ambil hikmahnya." Desak sinta.


"Aku akan bercerita, tapi tidak untuk saat ini karena perkerjaan kita masih menumpuk." Desy yang merasa tak enak hati jika harus bercerita saat semua orang sibuk akhirnya memilih untuk menolak halus permintaan Shinta dan menjanjikannya di kemudian hari.

__ADS_1


"Baiklah Aku akan menunggu kamu bercerita dan akan menagihnya nanti saat waktunya telah tiba, sekarang lebih baik kita cuci semua perlatan makan yang sudah di pakai dari pada harus terus membahas sesuatu ," ajak Desy.


__ADS_2