Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Salad Untuk Husein


__ADS_3

Siang ini terasa begitu membosankan bagi Zahra, setelah menikah dengan Husein dia hanya bertugas memasak di pagi hari menyiapkan sarapan bagi Husein sang suami, sedang kuliahnya di laksanakan secara online, sungguh hal yang membosankan bagi Zahra diam tanpa melakukan pekerjaan apapun selain melayani sang suami. Husein sengaja meminta Bik Sumik untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah kecuali memasak untuknya.


"Bik Sumik!" panggil Zahra saat melihat Mbok Sumik sedang membersihkan ruang keluarga.


"Iya, Neng, ada apa?" sahut Mbok Sumik menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah Zahra berada.


"Bik, biasanya kalau siang-siang gini Mas Husein suka makan apa?" tanya Zahra dengan ekspresi antusias yang tergambar jelas di wajahnya.


"Kalau di rumah saat libur Mas Husein lebih suka makan buah atau salad, dia jarang sekali makan nasi di siang hari tapi kalau sarapan wajib makan nasi," tutur Bik Sumik.


"Kalau begitu aku ingin buat salad. Apa di kulkas ada bahan untuk membuat salad?" Zahra kembali bertanya, biassnya Zahra tinggal memasak semua bahan yang di sediakan Bik Sumik di atas meja, sebelum memasak Zahra selalu memberitahu menu yang akan dia masak dan Bik Sumik bertugas menyiapkan bahan-bahan yang sudah di sebutkan oleh Zahra. Karena itulah Zahra kurang memperhatikan stok bahan masakan di rumah karena semua stok bahan masakan kini beralih menjadi tugas Bik Sumik.


Husein begitu menjaga dan mewanti-wanti Zahra agar tidak terlalu lelah, semua yang di lakukan Husein bertujuan agar Zahra bisa cepat mengandung, meskipun sampai sekarang masih belum ad tanda-tanda jika Zahra sedang mengandung tapi keduanya terus berusaha tanpa mengenal kata lelah.


"Semuanya sudah tersedia di kulkas Neng, begitu pula dengan buah yang bisa Neng Zahra gunakan untuk salad, semuanya sudah tersedia di sana," tutur Bik Sumik.


Tanpa banyak bertanya lagi Zahra langsung berjalan menuju dapur dan melihat bahan yang bisa dia pakai untuk membuat salad, dan benar saja apa yang di katakan Bik Sumik, ada banyak buah juga bahan membuat salad lainnya di dalam kulkas membuat Zahra bersyukur karena dia tak perlu bersusah payah lagi untuk mencari bahan membuat salad.


"Wah lengkap sekali," gumam Zahra penuh rasa kagum melihat isi kulkas yang ada di dalam dapur yang begitu lengkap, Zahra memang jarang sekali membuka atau melihat isi kulkas yang ada di dapur karena Husein sudah menyiapkan kulkas kecil khusus berisi makanan ringan, camilan atau minuman yang sengaja di letakkan di ruang keluarga agar Zahra tak perlu berjalan terlalu jauh ketika menginginkan sesuatu.


Dengan begitu lihainya Zajra membuat salad buah dengan farmasi lengkap di dalamnya, memberikan yogurt, susu dan mayonaise dengan ukuran yang pas di tambah toping keju dan cokelat yang terlihat begitu serasi berada di atasnya.


"Bik Sumik!" Zahra kembali memanggil Bik Sumik yang masih setia berada di ruang keluarga, karena di memang belum selesai membersihkan ruangan itu.

__ADS_1


"Iya, Neng Zahra, ada yang bisa Bibik bantu?" sahit Bik Sumik.


"Apa Pak Danang masih di sini?" tanya Zahra.


Pak Danang adalah supir pribadi yang di siapkan khusus untuk Zahra jika dia ingin bepergian, tapi Pak Danang tidak selalu stay di rumah, terkadang dia ikut ke restauran atau ke hotel untuk mengantar dan menemani Husein ketika Ifan tak bisa ikut bersamanya.


"Bibik tidak tahu Neng, bagaimana kalau Bibik cek dulu di tempat istirahatnya?" jawab Bik Sumik yang belum melihat batang hidung Danang sejak pagi.


Pak Danang juga memiliki ruangan khusus untuknya beristirahat, meski ruangan itu kecil dan berada di pojok garasi tapi cukup nyaman untuk di tempati karen ada kasur, kipas angin dan televisi di dalamnya, biasnya ruangan itu di pergunakan Pak Danang saat beliau pulang terllu malam setelah mengantar Husein bepergian dan tidak memungkinkan untuk pulang, tapi di hari-hari biasa Pak Danang akan pulang jam lima sore bersama dengan Bik Sumik.


"Ya sudah, Bibik tolong lihat Pak Danang ya. Aku mau ganti baju dan siap-siap dulu." Pamit Zahra melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya untuk bersiap-siap menemui sang suami yang tadi berpamitan pergi ke restauran pusat yang berada tak jauh dari rumah Zahra saat ini.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Zahra yang sedang merapikan kerudungnya. "Iya tunggu sebentar!" sahut Zahra berjalan mendekat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.


"Pak Danang ada Neng, dan Bibik sudah beritahukan kalau Neng Zahra akan pergi. Sekarang beliau sedang siap-siap." Jawab Bik Sumik.


"Bik Sumik sangat pengertian, terima kasih ya," ujar Zahra.


"Sama-sama, Neng," sahut Bik Sumik kemudian melenggang pergi meninggalkan Zahra yang kembali masuk untuk mengambil tas selempang yang tadi sudah dia siapkan.


Hari ini Zahra ingin memberi kejutan untuk Husein dengan membawakan salad ke tempatnya bekerja. Dengan penuh semangat Zahra keluar dari kamar menuju ruang keluarga untuk mengambil salad yang dia simpan di kulkas tadi sebelum ke kamar dan menemui Pak Danang dan memintanya untuk mengantar ke tempat Husein bekerja.

__ADS_1


"Permisi Mbak," sapa Zahra pada salah satu kariyawan yang ada di restauran sang suami yang terlihat sedikit padat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" sahut pelayan wanita yang terlihat masih remaja dengan senyum yang mengembabg di wajahnya.


"Saya mau bertemu dengan Mas Husein, apa anda bisa mengantar saya ke ruangannya?" Zahra memberitahukan tujuannya datang.


"Maaf sebelumnya, apa anda sudah membuat janji dengan beliau?" tanya pelayan itu.


"Belum, saya istrinya dan ingin bertemu dengannya. Apa saya harus membuat janji?" Zahra mulai sedikit kesal dengan sikap pelayan yang ada di hadapannya meski Zahra tahu jika apa yang di lakukan pelayan itu memang wajar.


"Maaf, saya tidak bisa langsung percaya jika anda istri dari Pak Husein, bisakah anda memberikan buktinya?" Sang pelayan itu tetap tak memberi izin sekalipun Zahra sudah memberitahukan siapa dirinya.


"Mas Husein!" panggil Zahra saat melihat sang suami keluar dari ruangan yang sepertinya dapur.


Husein yang melihat sang istri berdiri tak jauh darinya langsung berjalan mendekat dengan senyum yang mengembang.


"Kamu sudah lama di sini, Dek?" sahut Husein mengulurkan tangan yang di sambut oleh Zahra.


Melihat Husein yang mengenal Zahra membuat sang pelayan terdiam membatu dengan ekspresi terkejut bercampur takut karena dia tak percaya jika Zahra istri dari Husein pemilik restauran yang berarti atasannya.


"Belum Mas, aku baru nyampek kok," jawab Zahra dengan senyum yang terlihat begitu manis.


"Ayo ke ruanganku!" ajak Husein.

__ADS_1


"Mas duluan aja! aku mau pesen sesuatu sama pelayan ini." Sahut Zahra yang semakin membuat pelayan di hadapannya tampak pucat.


"Baiklah, Mas tunggu di dalam." Husein melenggang pergi meninggalkan Zahra yang masih berdiri di tempat.


__ADS_2