
Arum dan Hasan duduk di jok bagian tengah mobil sedang Husein dan Zahra duduk di jok bagian belakang, sedangkan di jok bagian depan di isi oleh Ifan dan Pak Marto sebagai supir.
Sepanjang perjalanan yang terjadi hanyalah kemesraan kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara, dan sikap kedua pasangan itu sukses membuat jiwa jomblo Ifan berteriak juga kerinduan Marto pada Hana sang istri semakin menyesakkan dada.
Kedua laki-laki yang berada di jik depan hanya bisa mengusap dada pelan menguatkan diri dari cobaan yang terlihat di dekat mereka. Hingga mobil sampai di tempat tujuan.
"Mas Hasan kita sudah sampai di hotel." Ucap Pak Marto dengan nada suara agak tinggi mencoba membangunkan Hasan sang majikan yang terlihat begitu terlelap dengan posisi yang cukup membuat jiwa seorang jomblo meronta.
"Iya, Pak," sahut Hasan yang sebenarnya tidak terlelap dia hanya memejamkan mata menikmati pelukan hangat yang di berikan oleh Arum.
"Syei', ayo bangun! kita sudah sampai," bisik Hasan tepat di telinga Arum membuat sang empu menggeliat sambil mengumpulkan kesadaran untuk bangun dan membuka mata.
"Sudah sampai ya Bi," lirih Arum.
"Dek, bangun! kita sudah sampai," Hasan mencoba membangunkan Husein, dia menggoyangkan bahu Husein agar dia segera bangun.
"Iya, Kak," sahut Husein
Hasan dan yang lain memilih Hotel terbaik yang dekat dengan malioboro, sungguh hal yang paling menguntungkan bagi Arum dan Zahra.
"Ifan sama Pak Marto ini kunci kamar kalian." Ujar Hasan memberikan dua kunci kamar yang bersebelahan dengan kamar yang di tempati keduanya.
"Baik, Mas Hasan terima kasih," ujar Pak Marto daan Ifan.
Malam ini terasa begitu melelahkan setelah menempuh sepuluh jam perjalanan, meskipun terkadang mereka lebih sering berhenti dan mampir di beberapa tempat juga terkadang tidur tetap saja rasa lelah itu tak pergi.
Arum langsung masuk dan meletakkan tas yang dia bawa di atas nakas sedang kopernya tengah di urus oleh Hasan, tanpa ba bi bu Arum langsung merebahkan diri di atas kasur.
"Syei', kamu udah tidur?" tanya Hasan berjalan mendekat ke arah Arum yang sudah lelap dan telah sampai di dunia antah berantah.
"Syei'!" sekali lagi Hasan mencoba membangunkan sang istri tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Huft, dia terlelap, alamat gak dapat jatah malam ini," gumam Hasan, terlihat setitik kekecewaan di mata Hasan.
__ADS_1
Hasan yang telah di tinggal terlebih dahulu memilih untuk keluar dari kamar hotel mencari udara segar beserta kopi dengan tujuan meringankan kepalanya yang sedikit berdenyut akibat hasrat yang tak tersalurkan.
Apa yang di alami Hasan juga terjadi pada Husein, Zahra yang kelelahan langsung tertidur di atas kasur sesaat setelah masuk ke dalam kamar hotel dan hal itu cukup membuat Husein frustasi pasalnya sejak kemarin dia belum mencapai puncak bersama dengan Zahra.
"Kak Hasan, kamu di sini juga?" tegur Husein saat melihat sang Kakak duduk di sebuah taman yang berada di belakang hotel.
"Iya, kamu pasti di tinggal tidur sama istrimu," tebak Hasan.
"Kok Kamu tahu Kak?" tanya Husein sambil duduk di samping Hasan.
"Kita senasib," jawab Hasan.
"Ha ha ha ha, ternyata bukan cuma aku saja yang ngalamin hal menyebalkan seperti ini, Kakak juga," tawa Husein terdengar begitu menggelegar.
"Diem kau, Dek! jangan berisik!" sarkas Hasan merasa terganggu dengan tawa yang keluar dari bibir Husein.
Keduanya menikmati gemerlap bintang yang bersinar begitu terang malam ini, langit malam di kota Jogja terasa begitu indah meski tanpa pasangan di samping mereka, Hasan dan Husein mulai bercerita mengenang setiap kejadian di masa lalu di selingi tawa yang terkadang terdengar merdu.
"Emmmm," lenguhan Arum terdengar begitu merdu dan menggoda di telinga Hasan yang sudah bangun setengah jam yang lalu.
"Abi," lirih Arum saat melihat sang suami tidur dengan posisi miring menghadap ke arahnya.
"Sudah subuh Syei', ayo bangun!" titah Hasan.
Sejak tadi Hasan menggoda Arum mentoel-toel pipinya agar sang istri segera bangun dari tidurnya.
"Iya, Bi," sahut Arum berdiri melenggang pergi menuju kamar mandi mengambil air wudhu' dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Abi nanti berangkat jam berapa?" tanya Arum.
"Jam setengah tujuh Syei'," jawab Hasan singkat sambil mengecek beberapa berkas yang akan dia bawa nanti.
"Pulangnya jam berapa Bi?" Arum kembali bertanya.
__ADS_1
"Kalau itu aku gak tahu Syei', tapi aku usahain pulang cepet." Jawab Hasan.
"Kamu mau ke mana Syei'?" kali ini Hasanlah yang bertanya saat melihat Arum hendak pergi meninggalkan kamar.
"Aku mau cari makan Bi," jawab Arum.
"Tidak perlu keluar, sebentar lagi makanannya bakal ada yang nganter. Tadi udah aku pesenin." Cegah Hasan.
"Bi," lirih Arum berjalan mendekat ke arah Hasan dan duduk tepat di sampingnya.
"Ada apa?" sahut Hasan dengan nada lembut, sejenak dia menyingkirkan berkas yang ada di pangkuannya.
"Emm, jika nanti aku pergi jalan-jalan sama Zahra kira-kira boleh gak?" Arum bertanya dengan nada lembut dengan tangan yang melingkar indah di lengan Hasan dan kepala yang di sandarkan di bahunya.
"Memangnya kamu tahu daerah sini?" Hasan menjawab pertanyaan Arum dengan sebuah pertanyaan.
"Abi lupa kalau ada google yang serba tahu, lagi pula malioboro dekat dari sini kok Bi," Arum masih berusaha untuk membujuk Hasan.
"Baiklah, tapi kamu harus kasih aku hadiah sekarang!" ujar Hasan.
"Hadiah apa Bi? dan kenapa juga aku harus kasih hadiah? apa Abi ulang tahun?" Arum menatap bingung ke arah Hasan yang justru tersenyum mesum ke arahnya.
Arum hanya bisa terdiam bingung dengan apa yang di maksud oleh Hasan, sedang Hasan tak mau membuang-buang waktu lagi dia langsung melahap habis bibir Arum yang berada tak jauh dari bibirnya.
"Ab mmmm" suara Arum terbungkam oleh bibir Hasan yang sudah menempel dan bermain di sana.
Awalnya hanya ci***n biasa hingga akhirnya ci**an Hasan semakin menuntut, Arum yang awalnya duduk tegak kini mulai terbaring di atas kasur mengimbangi permainan Hasan yang semakin menuntutnya. bukan hanya bibir yang mulai menuntut, tangan Hasan juga mulai bertamasya ke tempat-tempat yang menjadi favoritnya hingga membuat suara indah terdengar keluar dari bibir Arum.
Piama panjang milik Arum kini mulai terbuka, terlihatlah gunung kembar yang indah nan menantang menjembul di sela-sela baju membuat gairah Hasan semakin membara, tangan Hasan semakin bersemangat berjelajah di sana.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu membuyarkan dua sejoli yang tengah memadu kasih, "Bi, ada tamu," lirih Arum setelah Hasan melepas ci***annya.
__ADS_1