Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pulang Untuk Kembali


__ADS_3

Arum terus melangkah menuju asrama dan masuk ke dalam kamarnya, pagi ini terasa begitu ramai karena hampir semua anggota kamar berada di dalam kamar dengan kesibukan mereka masing-masing.


"Assalamualaikum," sapa Arum yang berdiri di depan pintu kamar.


"Waalaikum salam," sahut semua anggota kamar yang langsung menoleh ke arah Arum dan sejenak menghentikan aktifitasnya.


"Arum!" panggil Desy dan Shinta hampir bersamaan.


Keduanya berjalan mendekat ke arah Aeum yang masih berdiri di ambang pintu.


"Apa kamu akan pulang sekarang?" tanya Desy meraih pergelangan tangan Arum dan Shinta mengikuti apa yang di lakukan Desy.


"Iya, jika aku punya salah sama kamu dan juga kamu Shinta," ucap Arum membuat suasana yang tadinya tenang jadi haru.


"Kami juga minta maaf kalau kami punya salah sama kamu Arum." Ujar Desy dan Shinta bersamaan.


"Kami juga Arum, tolong maafin kami ya," semua santri yang ada di kamar ikut meminta maaf pada Arum.


"Iya, aku juga minta maaf jika punya salah, sekalian aku mau pamit mulai hari ini aku gak bisa tinggal di kamar ini lagi." Tutur Arum.


"Jangan pernah lupakan kita ya Arum," cicit Desy.


"Desy, aku hanya pindah tempat tidur tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi aku gak bakalan lupa sama kamu." Sahut Arum.


"Astaghfirullah lupa Aku, kamu kan nikahnya sama Mas Hasan," Shinta yang sejak tadi diam kini ikut menyahuti.


"Yang penting jangan lupa sering-sering mampir ke sini ya," Desy menimpali ucapan Shinta.


"Pasti, aku bakal tetep sering main ke sini selagi ada kesempatan," jawab Arum membuat senyum mereka terlihat karena bahagia.


Ketiganya berjalan mendekat ke arah loker untuk membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang oleh Arum.


"Ambillah satu baju yang kamu inginkan!" titah Arum pada Desy dan Shinta.


"Kamu serius Arum?" tanya Desy.


"Iya, kamu gak lagi bercanda Kan?" Shinta yang tak percaya ikut menanyakan kebenaran perintah yang di berikan pada keduanya.

__ADS_1


"Iya, ambillah!" jawab Arum.


Terlihat binar kebahagiaan terpancar dari wajah kedua sahabat Arum, bagaimana tidak bahagia baju yang di miliki Arum rata-rata baju bermerek dan sebagian besar baju yang di beli di luar negeri. Desy dan Shinta tentu sangat senang menerimanya meskipun baju bekas yang sudah di pakai tapi kondisi bajunya benar-benar masih bagus karena Arum menjadi santri beberapa bulan dan baju yang fia bawa rata-rata baru semua.


"Kalau aku ambil yang ini apa boleh?" tanya Desy memperlihatkan satu gamis berwarna cream dengan model terbaru.


"Ambillah! kalau kamu mau ambil yang mana Shin?" jawab Arum enteng tanpa beban, dia malah terlihat biasa saja meski baju yang di ambil Desy memiliki harga yang cukup mahal.


"Benarkah?" Desy seolah tak percaya jika Arum langsung menyetujui permintaannya tanpa berfikir dua kali.


"Iya, ambillah!" Arum kembali menjawab keraguan Desy dengan senyum ramahnya.


"Aku ambil yang ini saja." Kini giliran Shinta mengambil gamis dengan model terbaru juga tapi dengan warna dan model berbeda dengan baju yang di ambil Desy, Shinta mengambil baju berwarna abu-abu.


"Iya, eh tunggu ambil ini juga!" Arum mengambilkan dua kerudung yang biasa dia pakai berpasangan dengan gamis yang di ambil keduanya.


"Kamu baik banget Arum, terima kasih ya." Ujar kedua sahabat Arum bersamaan.


"Sama-sama," jawab Arum.


Setelah membereskan semua barang-barangnya Arum berdiri mengambil satu kantong plastik hitam dari dalam tas selempang yang dia simpan. Kemudian memanggil semua anggita kamar dan membagikan satu gantungan kunci bergambarkan foto bersama yang pernah mereka lakukan beberapa minggu yang lalu.


Arum berencana membagikan gantungan kunci itu saat dia berpamitan pulang kemarin dan Steve yang membawakannya tapi rencana itu gagal karena Hasan yang sedang sakit.


"Terima kasih Mbak Arum," satu persatu ucapan terima kasih terdengar yang ditanggapi dengan senyuman juga anggukan kepala oleh Arum.


"Aku pamit ya, semoga kalian bisa cepat menyusul." Ujar Arum.


"Amin," sahut sebagian santri yang sudah waktunya menikah tapi masih menunggu jodohnya.


"Aminn!!" suara lantang Shinta terdengar.


"Ishhh kau ini, sekolah belum lulus udah mau nikah aja," tegur Desy yang di balas dengan cengiran oleh Shinta.


"Gak apa-apa kali aja dapet calon yang baik plus tajir, setia dan ganteng kayak oppa-oppa korea bakal aku simpen tu calon sampek aku lulus dan aku bakal langsung nikah sama dia saat surat kelulusan sudah aku dapatkan." Jawab Shinta sambil menerawang je atas menandakan jika di sedang berkhayal.


"Halah, khayalanmu ketinggian Non. Entar kalau udah jatuh baru tahu rasa kamu." Desy mengusap kasar wajah Shinta yang sedang menerawang membayangkan Oppa korea yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Alu hanya berkhayal tak berharap sungguhan," kilah Shinta yang langsung menyambar koper milik Arum dan membantunya untuk membawa koper itu keluar pesantren.


Ketiganya berjalan beriringan dengan Arum yang berada di tengah di apit oleh kedua sahabatnya.


"Loh dia siapa?" tanya Shinta saat melihat Steve yang tak lain adalah Kakak Arum.


"Dia kakakku, memangnya kenapa?" jawab Arum.


"Kamu serius?" Shinta seolah tak percaya jika yang di lihatnya adalah Kakak Arum.


"Ngapain bohong sama kamu Shin? gak ada untungnya juga," sahut Arum.


"Baiklah Aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik di pesantren ya." Pamit Arum melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


"Hati-hati di jalan!" seru Shinta.


Arum berjalan mendekati sang Kakak meninggalkan pesantren yang beberapa bulan terakhir dia tempati.


"Kamu udah siap Dek?" tanya Steve saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Siap untuk apa Kak?" Arum menyahuti pertanyaan sang Kakak dengan pertanyaan.


"Siap untuk nikah," Steve sungguh terdengar lucu di telinga Arum.


"Kakak lupa kalau aku sebenarnya sudah menikah, jadi untuk apa Kakak tanya lagi aku siap atau tidak? sudah terlambat Kak," Arum menjelaskan jika pertanyaan sang Kakak sudah terlambat untuk di tanyakan.


"Astaga kakak lupa Dek," cicit Steve.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang semakin menjauh dari pesantren yang akan menjadi rumah Arum setelah menikah nanti.


"Kamu sudah makan Dek?" sambung Steve.


"Belum, aku laper Kak," jawab Arum.


"Bagaimana kalau kita nyari makan dulu?" usul Steve.


"Boleh Kak, kita sarapan tempe dan lele penyet di tempat yang dulu ya." Ajak Arum.

__ADS_1


"Kamu masih saja tetap seperti dulu Dek, gak berubah," sahut Steve.


"Emangnya aku apaan pakek berubah segala, aku gak berubah Kak tetap Arum yang dulu hanya saja usiaku yang semakin bertambah tapi wajah dan sifatku tetap seperti dulu, Arum yang imut nan ngangenin." Jawaban Arum sukses membuat Steve geleng kepala karena kenarsisan sang Adik masih saja melekat tak pernah mau hilang.


__ADS_2