
Desy berjalan masuk ke dalam pesantren dengan satu bungkus makanan dan satu kotak hadiah yang baru saja dia terima dari Erwin. Senyum di bibirnya tak pernah luntur mengingat betapa manisnya sikap Huda padanya, meski Huda tak ada di sampingnya tapi dia selalu perhatian dan tak sedikitpun mengabaikannya.
"Ciyeee yang baru ketemu calon suami, khem ... khem ...." goda Shinta.
Gosip tentang pernikahan Desy dan Erwin masih saja berhembus meski tidak seramai dulu, tapi masih ada sebagian santri yang menggunjingnya.
"Diem kamu Shinta!" hardik Desy.
"Aduhhh seleemmmm atutttt," ejek Shinta saat mendengar hardikan Desy.
"Husss diem! gak usah banyak komen!" Desy duduk tepat di depan loker setelah menaruh makanan yang tadi dia bawa.
"Kamu dapat hadiah dari mana Desy? mana bungkusnya cantik pula," tanya Shinta saat melihat Desy sedang membolak balikkan hadiah yang dia pegang.
"Ini kiriman dari Mas Huda," jawab Desy singkat dengan nada pelan berharap tak ada yang mendengar, beruntung suasana kamat saat ini sedang sepi, hanya ada mereka berdua yang sedang duduk di depan loker, sesang anggota kamar yang lain berada di luar kamar menikmati hari libur.
"Wahhh enak banget ya jadi kamu, makan di antar setiap pagi dan sore, mana menunya selalu berubah-ubah, enak-enak pulà," ujar Shinta.
"Sabar, nanti kalau jodohmu sudah datang kamu pasti bisa merasakan apa yang aku rasakan." Ujar Desy mencoba membesarkan hati Shinta.
"Sudahlah jangan bahas jodohku yang entah masih nyangkut di mana? yang penting sekarang mending kamu buka deh kotaknya, aku mulai kepo ini," seru Shinta mengalihkan topik pembicaraannya.
"Emang aku mau buka hadiah ini di depan kamu?" sahut Desy.
"Ishhh jangn gitu donk Desy, aku kan juga kepo pengen tahu kamu dapat kiriman apa? sejarah ini kan dari luar negeri, pasti isinya waww," Shinta berucap dengan nada memelas.
"Kamu tahu dari mana kalau kotak hadiah ini dari luar negeri?" tanya Desy penasaran dengan ucapan Shinta yang terdengar sok tahu itu.
"Cuma nebak aja, kan kamu bilang ini kiriman dari Mas Huda, dan yang aku inget kekasihmu itu sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan beasiswanya," Shinta menjabarkan alasannya yang mengatakan jika barang di dalam kotak itu berasal dari luar negeri.
"Kamu benar juga ya, kenapa aku tidak kefikiran?" gumam Desy yang masih bisa di dengar oleh Shinta.
"Sudah jangan terlalu di fikirkan! lebih baik buka aja kotaknya! biar gak penasaran," desak Shinta yang sebenarnya sudah tak sabar ingin tahu isi di dalam kotak.
__ADS_1
"Sabar dikit kenapa sih Shin? kepo bener," seru Desy.
Perlahan Desy membuka kotak cantik berwarna merah hati, meski ukurannya tak terlalu besar, tapi bungkusnya begitu indah.
"Wahhh kalung," Seru Shinta.
Yang mendapat hadiah Desy tapi yang heboh sendiri Shinta, melihat apa yang ada di dalam kotak membuat Desy tercengang kaget, sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian dengan liontin bintang yang berada di dalan bulan terlihat begitu cantik nan indah.
"Indah sekali Desy," sambung Shinta menatap kalung yang saat ini di pegang oleh Desy.
"Kalungnya indah Shin, apa maksud Mas Huda ngirim kalung ini?" lirih Desy dengan ekspresi wajah kaget.
Desy terdiam menatap kalung indah di tangannya, dia masih tertegun heran bercampur kagum melihat keindahan kalung yang ada di tangannya.
"Desy, di dalamnya ada surat, apa kamu gak ingin baca?" celetuk Shinta saat melihat satu kertas putih yang terlipat rapi di dasar kotak.
"Surat?" spontan Desy menaruh kembali kalung yang dia pegang kemudian mengambil surat yang masih terlipat rapi di tempatnya.
Dear Desyku tersayang ,
Mungkin saat surat ini sampai padamu hari masih pagi,
Di Pagi yang indah ini ingin aku menyampaikan sejuta rindu yang tidak bisa lagi ku tahan.
Aku merindukan senyummu, suaramu, tawa dan kehadiranmu.
Meski aku berada di tempat yang jauh, tapi hatiku tetap berada di dekatmu.
Dear Desyku terkasih,
Jutaan kata ingin aku sampaikan, ribuan kalimat ingin aku jabarkan, demi ungkapkan apa yang aku rasakan saat ini.
Di tengah kerinduan yang terus saja menyiksa, aku menemukan kalung ini.
__ADS_1
Kalung berlian berliontinkan bulan dan bintang,
Aku memilih kalung ini karena aku berharap kamu bisa menjadi bintang yang terus bersinar, tapi kamu akan tetap memikirkanku dimanapun kamu berada, karena aku akan menjadi bulan yang akan selalu melindungimu apapun yang terjadi.
Desy, pakailah kalung itu! agar kau selalu mengingatku dalam hatimu, sama seperti liontin yang ada di sana, berada dekat dengan detak jantungmu, maka aku juga berharap jika diriku juga selalu berada di sana.
Tunggu aku kembali! jangan pernah berpaling ataupun meninggalkanku!
Karena aku pasti akan kembali untukmu.
Bersabarlah menantiku yang masih berjuang di sini.
...Salam Rindu dari bawah langit Australia...
...Huda...
Senyum bahagia terlukis indah di wajah Desy setelah membaca sepucuk surat dari Huda, hatinya begitu berbunga-bunga mengingat setiap kata yang tertulis di dalamnya. Sungguh pagi yang begitu indah bagi Desy, dia benar-benar tak menyangka jika akan mendapatkan hadiah sekaligus surat cinta yang di penuhi kata-kata manis dari Huda.
"Tunggu! aku jadi bingung dengan hubungan kalian," beo Shinta yang mengejutkan Desy.
"Bingung kenapa Shin?" sahut Desy dengan ekspresi wajah penasaran setelah mendengar suara Shinta.
"Sebenarnya hubungan kalian ini apa sih? pacar bukan, tunangan bukan, calon istri apalagi, tapi kata-katanya udah kayak calon pengantin yang lagi kasmaran ya?" Shinta mengungkapkan rasa heran yang ada di benaknya.
"Kamu bener juga, aku sendiri juga bingung dengan hubunganku dan Mas Huda di sebut apa, tapi aku tidak peduli, yang aku tahu saat ini aku akan menunggunya kembali." Jawab Desy sambil kembali menatap kalung yang ada di kotak.
"Kamu mau menunggu untuk apa, Desy?" tanya Shinta sedikit bingung dengan jawaban Desy, menunggu sesuatu yang tak pasti bukanlah hal yang baik.
"Entahlah, jika Mas Huda memang takdirku, maka aku yakin kita akan bersatu suatu saat nanti," ujar Desy dengan ekspresi penuh harap yang tergambar jelas di wajahnya.
"jika Mas Huda bukan takdirmu bagaimana? apa kamu tidak akan merasa bahwa penantianmu akan sia-sia," ucap Shinta mencoba mempengaruhi pemikiran Desy.
"Tidak akan ada yang sia-sia di dunia ini Shinta, jika memang Mas Huda bukan takdirku, aku yakin akan ada orang lain yang jauh lebih baik untukku," jawab Desy tak terbantahkan, membuat Shinta terdiam dan tak lagi mendebatnya.
__ADS_1