
"Kamu ikut nganter juga Desy?" tanya Arum setelah santri yang memberitakannya tadi telah pergi.
"Sepertinya, ayo siap-siap!" Desy yang sudah mendapat informasi jika dia di ajak beperhian sama Umik yang tak lain adalah pengasuh pengasuh pondok pesantren langsung menarik tangan Arum dan mengajaknya untuk bersiap-siap.
Kesempatan untuk ikut Umik bepergian keluar pesantren adalah kesempatan langkah yang tak bisa di dapat oleh semua santri, tapi Desy memang sering menemani Umik berpergian ya meskipun dia tidak bisa bebas seperti pergi keluar sendiri tapi setidaknya dia bisa menghirup udara luar yang terasa begitu segar juga berbeda.
Arum dan Desy kini sudah siap dengan baju terbaik yang mereka miliki juga riasan tipis yang membuat mereka terlihat begitu cantik, tak seperti biasanya.
"Ayo ke ndalem!" Desy benar-benar terlihat bersemangat, setelah selesai bersiap dia langsung menarik kembali tangan Arum dan mengajaknya ke ndalem Umik.
"Woi kalian mau ke mana?" sapa Sinta yang kebetulan akan masuk ke dalam kamar.
"Biasa, mau jalan-jalan sama Umik." Jawaban yang sungguh membuat hati siapapun menjadi iri.
"Enak banget kamu bisa jalan-jalan, Aku boleh ikut gak?" sahut Sinta.
"Ikut aja! tapi kamu ngomong sendiri sama Umik."Jawab Desy membuat Sinta langsung masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi.
"Ishhh kau jahat kali Desy," celetuk Arum.
"Dia udah biasa Aku becandain gitu, tenang aja dia gak bakal marah beneran kok." Ujar Desy sambil terus berjalan meninggalkan asrama menuju ndalemnya Umik.
"Assalamualaikum," ucap keduanya hampir bersamaan.
"Waalaikum salam," sahut Hana yang baru saja menyiapkan keperluan juga membantu Umik bersiap.
"Umik ada di mana Mbak?" tanya Desy.
"Beliau ada di ruang keluarga," jawab Hana dengan senyum yang sering sekali terlihat di wajahnya, sungguh sekalipun Arum tak pernah melihat wajah Hana murung membuatnya merasa begitu tenang saat menatap wajahnya.
"Terima kasih Mbak," sahut Arum.
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang keluarga di mana Umik berada.
"Assalamualaikum Umik," sapa Arum yang langsung mencium punggung tangan Umik dan duduk di sampingnya dan Desy hanya mengikuti apa yang di lakukan Arum.
__ADS_1
"Kalian sudah siap?" tanya Umik.
"Sudah Umik," kini Desy yang menjawab pertanyaan Umik.
"Ya sudah, kalian duduk saja di sini, kita tunggu Pak Marto masih manasin mobil." Ujar Umik yang mendapat anggukan serta senyuman dari keduanya.
"Assalamualaikum Umik," ucap Pak Marto yang baru saja di bicarakan.
"Waalaikum salam," jawab ketiga wanita yang sedang duduk bersebelahan.
"Umik mobilnya sudah siap," Pak Marto memberi tahu jika mobil yang akan mereka gunakan sudah siap untuk di pakai.
"Terima kasih Pak," jawab Umik.
"Sama-sama Umik," jawab Pak Marto sembari berjalan keluar rumah.
"Ayo berangkat!" ajak Umik yang di ikuti Arum dan Desy, keduanya berjalan di belakang Umik mengikuti langkah sang guru menuju mobil yang telah siap.
Saat sampai di halaman rumah terlihat dua mobil terparkir di halaman, keduanya terlihat sama-sama sudah di bersihkan dan di siapkan untuk di pakai.
"Iya Umik," sahut keduanya hampir bersamaan dengan kalimat yang sama.
"Kalian ikut satu mobil sama Umik di mobil yang warna silver, jadi masuklah dulu!" titah Umik yang langsung di laksanakan oleh keduanya.
Setelah memberi perintah Umik berjalan menuju rumah Ilzham yang kini di tempati oleh Hasan.
"Hasan!" panggil Umik saat melihat sang putera sudah ada di depan teras dengan baju yang terlihat begitu rapi.
"Iya Umik," sahut Hasan.
"Ayo berangkat!" ajak Umik.
Awalnya Hasan sudah berada di kantor mengerjakan beberapa tugas kantor yang terlihat sedikit menumpuk di meja, tapi konsentrasinya langsung buyar saat mendengar ponselnya berdering.
Umik menghubungi Hasan dan memberitahukan jika Syafa sang tante akan datang dan Hasan mendapat perintah untuk pulang dan ikut menjemput Syafa.
__ADS_1
Hasan yang mendapat ajakan dari Umik langsung berjalan mengikuti langkah Umim menuju halaman.
"Hasan nyetir mobil Umik ya." Ujar Umik.
"Loh Abi gak ikut Umik?" tanya Hasan yang merasa aneh dengan ucapan sang Umik, pasalnya saat ini Abi Zham ayah Hasan juga ikut mengantar kenapa harus Hasan yang menyetir.
"Sudah jangan terlalu banyak berfikir! lagi pula di sana ada Arum." Ucap Umik kemudian melangkah kembali menuju mobil setelah berhenti sejenak untuk menyahuti ucapan Hasan.
"Kalau kamu gak mau ya sudah Abi saja yang nyetir. Kamu pindah satu mobil sama Pak Marto." Sambung Umik sambil menyeringai.
"Eh tunggu Umik! Hasan ikut satu mobil sama Umik saja." Ujar Hasan yang berjalan lebih cepat untuk menyusul Umik.
Umik yang sengaja mempercepat langkahnya kini tersenyum senang karena mendapat hiburan, entahlah menggoda Hasan yang bersifat dingin adalah hal yang paling menyenangkan bagi Umik, sisi dingin Hasan seolah menghilang entah ke mana saat berhadapan atau membicarakan semua hal tentang Arum.
Hasan yang memang selalu merasakan hal yang berbeda saat berdekatan dengan Arum langsung masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk Umik.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang melewati jalan utama menuju bandara. Suasana di dalam mobil begitu hening seperti tak berpenghuni, Umik sibuk dengan ponsel yangs edang dia mainkan, sedang Hasan fokus menatap ke depan meski terkadang dia juga mencuri pandang melirik Arum yang duduk tepat di tengah. Sedangkan Arum yang tak sadar jika mendapat lirikan dari Hasan hanya menatap lurus ke depan melihat jalanan yang sudah lama tak dia lihat, begitupun dengan Desy yang sedang serius menatap keluar jendela melihat pemandangan yanh jarang sekali bisa dia lihat.
Mobil terus melaju perjalanan menuju bandara begitu jauh, karena letak pesantren Umik memang berada di desa sedang bandara tempatnya menjemput sang Adik berada di kota.
"Hasan kita berhenti dulu di restaurant adikmu, Umik lapar. Sekalian kita jemput dia!" titah sang Umik.
"Baiklah Umik," jawab Hasan yang membelokkan setir menuju sebuah restauran yang ternyata sudah ada di depan mata.
Sebuah bangunan resto yang cukup besar dengan beberapa pengunjung terlihat memadati kursi di dalamnya.
Dari kejauhan terlihat Husein sudah menunggu di kursi yang ada di depan ruangan resto karena sebelumnya Umik memang sudah memberitahu Husein jika dia akan datang.
"Umik!" panggil Husein berjalan mendekat ke arah Umik yang baru saja turun dari mobil.
"Kamu sudah ada di sini?" tanya Umik.
"Iya Umik, setelah dapat kabar dari Umik Husein langsung berangkat ke sini!" Jawab Husein.
Semua anggota rombongan berjalan bersama menuju ruangan khusus yang sudah di siapkan oleh Husein dengan berbagai macam makanan yang di jual di resto yang sudah tertata cantik di meja.
__ADS_1