
"Maaf Bi," hanya satu kata yang keluar dari bibir Arum dan satu kata penuh makna yang di ucapkan oleh Arum membuat Hasan semakin bingung.
"Maaf untuk apa Syei'? jelaskan padaku!" sahit Hasan dengan ekspresi wajah seriusnya.
"Aku gak bisa jelaskan padamu Bi, Maaf," sekali lagi ucapan Arum membuat Hasan semakin bingung sekaligus penasaran.
"Jangan membuatku berfikir buruk tentang perubahanmu ini Syei'. Lebih baik kamu ceritakan saja! apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" desak Hasan yang sekarang mulai tak sabar mendengar penjelasan Arum tentang apa yang terjadi padanya. Fikiran Hasan benar-benar di buat melayang jauh dengan segala kemungkinan yang dia kira telah terjadi, bahkan kemungkinan terburukpun sekarang mulai bersarang di benaknya.
"Aku sendiri juga gak tahu Bi, kenapa Aku jadi malas ngomong sama Abi, dan Aku juga gak tahu kenapa perasaan jengkel ini hinggap dan tak mau pergi." Arum yang mengerti jika suaminya saat ini sedang bergikir negatif tentang perubahan sikapnya berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi apa yang terjadi memang tak bisa di jelaskan oleh Arum.
Entah itu rasa cemburu atau apa? Arum masih belum bisa memastikan dan menjelaskannya pada Hasan.
"Apa Aku melakukan kesalahan?" tanya Hasan dan Arum hanya menggeleng menjawab pertanyaan Hasan.
"Atau Kamu yang melakukan kesalahan?" Hasan mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.
"Tidak juga Bi, kita berdua sama-sama tidak punya kesalahan ataupun masalah, hanya saja setelah bertemu Cindy waktu itu Aku merasakan sesuatu yang tak biasa terjadi padaku Bi." Jujur Arum yang sukses membuat Hasan tercengang karenanya, tapi sedetik kemudian sebuah senyum kebahagiaan terlihat merekah di bibir Hasan.
Mendengar kejujuran Arum membuat Hasan mengerti jika perlahan tapi pasti dia mulai masuk ke dalam hati Arum, dengan begitu Hasan yakin sebentar lagi dia pasti bisa mendapatkan Arum seutuhnya.
"Abi kok senyum-senyum gitu sih?" tanya Arum yang merasa aneh dengan sikap Hasan yang tiba-tiba tersenyum bahagia setelah mendengar penjelasannya.
"Aku bahagia Syei'," jawab Hasan dengan mata berbinar menatap penuh cinta ke arah Arum.
__ADS_1
"Bahagia kenapa? apa Abi baru menang tender?"Arum krmbali bertanya karena rasa penasarannya masih belum terjawab.
"Lebih dari itu, rasa bahagiaku lebih dari sekedar menang tender. Bagiku ini adalah salah satu dari kebahagian terbesar yang pernah Aku dapatkan dan Aku berharap kebahagiaan ini akan terus ada karenamu." Ujar Hasan yang membuat Arum semakin bingung.
"Bi, jelasin kenapa sih, Abi bahagia karena apa? Apa karena Abi sudah bertemu dengan Cindy?" Arum mulai menerka-nerka.
"Bukan, Abi bahagia karena perlahan tapi pasti kamu mulai menerima Abi." Hasan yang merasa begitu bahagia langsung memeluk Arum yang justru terpaku di tempat tanpa bisa menolak. Kini hati dan fikirannya tak lagi sejalan, fikirannya menolak tapi hatinya merasa bahagia karena pelukan Hasan terasa begitu menenangkan juga menghangatkan.
"Bi," lirih Arum.
"Maaf, Abi kelepasan lagi," ujar Hasan dengan senyum yang terlihat begitu manis.
Arum hanya tersenyum menanggapi ucapan Hasan dan sikap Arum membuat Hasan semakin bahagia.
**********
"Baiklah, dengarkan baik-baik dan jaga rahasia ini!" ujar Desy dan Shinta hanya mengangguk mengikuti langkah Desy duduk di bawah jemuran.
Sore hari sepulang sekolah diniah adalah waktu yang tepat untuk sejenak bersantai dari rutinitas yang di lakukan sejak pagi, Desy dan Shinta kini duduk di bawah jemuran setelah mandi dan makan sore, mereka duduk berhadapan dengan satu botol air mineral dan sebungkus makanan ringan berukuran sedang mereka letakkan di tengah.
"Kado kemaren itu dari Mas Huda," ucap Desy dengan nada lirih yang hanya mampu di dengar oleh keduanya.
"Ukhuk, ukhuk, ukhuk," Shinta yang mendengar ucapan Desy sukses langsung tersedak.
__ADS_1
"Ishh pelan-pelan minumnya." Desy langsung mengusap punggung Shinta yang masih tebatuk-batuk.
"Kamu serius?" tanya Shinta dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi apa yang Aku katakan memang itu yang sebenarnya." Desy yang tak mau ambil pusing tak ingin memaksa Shinta untuk percaya padanya.
"Gimana ceritanya kamu bisa dapat hadiah dari Mas Huda?" Shinta mulai kepo dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai Desy bisa dapat kado dari Huda.
"Sebenarnya Aku beberapa kali ketemu dan bicara sama Mas Huda, dan kemarin waktu ke butik mengantar Umik kebetulan Mas Huda yang mengantar. Dan di sana Aku kembali mengobrol dengan Mas Huda, bahkan dia memintaku untuk memilihkan baju untuk adiknya." Desy menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ekspresi ragu terlihat di wajah Shinta.
"Apa mungkin Mas Huda punya rasa ya sama kamu?" tebak Shinta.
"Hahahaha," bukannya menanggapi serius ucapan Shinta, Desy justru tertawa lepas mendengar penuturan Shinta.
"Kamu kok ketawa sih, emang ada yang lucu dari perkataanku?" tanya Shinta dengan ekspresi bingungnya melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Desy.
"Ucapanmu lucu, tapi bukan lucu lagi ini sudah sangat lucu." Jawab Desy dengan sedikit tawa yang tersisa.
"Kok lucu sih?" keluh Shinta yang merasa aneh dengan tanggapan yang di berikan oleh Desy.
"Ya luculah, kamu fikir aja! Mas Huda itu keponakan Umik pemilik pesantren ini, mana mungkin dia bisa jatuh cinta sama hadis biasa yang kecantikannya standard kayak Aku," ujar Desy yang merasa jika dirinya tidak mungkin di cintai oleh Huda yang notabennya keponakan Umik, Desy merasa jika dirinya tidak pantas jika bersanding dengan Huda.
"Hey jangan bilang begitu! apa kamu lupa dari mana Umik berasal?" Shinta mencoba mengingatkan Desy tentang siapa Umik sebelum menikah dengan Abi Ilzham, hampir semua penghuni pesantren tahu dari mana Umik berasal.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi apa mungkin Aku punya keberuntungan seperti Umik?" Desy masih saja ragu mengingat dirinya yang berasal dari keluarga sederhana bisa bersanding dengan seorang Huda yang bukan hanya seorang keponakan pemilik pesantren tapi Huda juga di kenal sebagai putera dari pengusaha bengkel juga restauran terkenal. Ditambah lagi prestasi yang banyak di ukir oleh Huda, selain beasiswa Huda juga memiliki sederet prestasi yang bisa membuat orang menganga karena kagum.
"Ingatlah Desy! di dunia ini tak sda yang mustahil jika Allah sudah berkehendak dan takdir tak pernah pilih-pilih kemana dan pada siapa dia berpihak. Maka jangan pernah pesimis! lagi pula cinta itu tak pernah memandang karena perasaan cinta itu datangnya dari Allah dan kita sebagai seorang hamba kita hanya bisa menerima tanpa bisa menolak ataupun memilih ke mana cinta itu akan berlabuh." Ucapan Shinta memang benar adanya dan Desy hanya bisa diam membisu tanpa bisa membalas ataupun mendebat apa yang di katakan oleh Shinta.