Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Makan Bersama Keluarga Besar Arum


__ADS_3

"Astaghfirullah Abi, kita sudah di tungguin sama yang lain, ayo cepatlah ganti baju!" sahut Arum yang masih setia menutup mata.


"Buka dulu! jangan di tutupi seperti itu matanya!" Hasan masih saja kekeh dengan apa yang dia inginkan.


"Baiklah!" mengalah adalah kunci keharmonisan keluarga yangs selalu di ajarkan oleh sang Bunda.


Perlahan Arum menjauhkan tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya dan menatap lurus ke arah Hasan yang sedang tersenyum senang karena dia merasa jika saat ini dialah pemenangnya.


"Nah, gitu donk Syei', lihat punya suami sendiri juga gak bakal dosa kok malah dapat pahala apalagi kalau sampai megang bisa di pastikan surga untukmu." Cerocos Hasan dengan senyum menggodanya.


"Aku tahu Abi, tapi kamu juga harus tahu jika ini yang pertama bagiku makanya aku harus menyesuaikan diri dulu." Ujar Arum seraya duduk di atas sajadah tanpa menoleh lagi ke arah Hasan yang asyik mengganti baju di hadapan Arum.


Hasan memang memakai handuk yang terlihat hanya di lilitkan saja, tapi di dalam handuk itu dia memakai bokser. Dengan secepat kilat Hasan memakai bajunya kemudian menyusul Arum untuk menjadi imam.


"Wah pengantin barunya baru dateng, sini Nak gabung!" ucap saudara Arum.


"Terima kasih Bibik," sahut Arum dan Hasan hanya tersenyum kemudian ikut duduk di samping Arum.


"Makanlah!" titah Oma yang kini terlihat berbeda, Oma nampak lebih ceria dengan ekspresi wajah berbinar bahagia.


Semua keluarga telah berkumpul dan memperkenalkan diri masing-masing setelah makan bersama. Kini sebagian besar keluarga Arum sedang menikmati sejenak waktu luang sebelum sore tiba, di mana akan ada banyak tamu dan kesibukan yang akan terjadi nanti.


"Gak usah tegang gitu Dek! keluargaku santai kok orangnya," celetuk Steve yang melihat Hasan terdiam mematung memperhatikan saudara-saudara yang lain.


"Iya, Kak," sahut Hasan dengan senyum yang mengembang.


Cukup lama Hasan dan Arum bercengkrama bersama keluarganya hingga waktu menunjukkan pukul dua siang, Arum yang harus segera di rias kini kembali ke kamar bersama dengan Hasan.


"Kak kami masuk kamar dulu ya. Punggungku capek mau istirahat bentar." Pamit Arum yang di angguki oleh Steve.

__ADS_1


"Ayo Bi!" ajak Arum menggandeng tangan Hasan untuk ikut bersamanya dan Hasan hanya diam mengikuti langkah Arum tanpa memprotesnya.


"Acaranya di mulai jam berapa Syei'?" tanya Hasan.


"Entahlah Bi, tapi biasanya acara resepsi seperti ini di mulai ba'da ashar sekitar jam empat sore Bi," Arum memberitahukan kebiasaan di mulainya acara resepsi di tempatnya.


"Oh," jawab Hasan sambil merangkak naik ke tempat tidur dan merebahkan diri di sana.


"Loh Abi mau tidur?" tanya Arum.


"Jam empat masih cukup lama Syei', sebentar lagi MUA juga bakal dateng make up'in kamu. Jadi Abi istirahat saja dulu nanti kalau kamu sudah selesai jangan lupa bangunkan Abi!" titah Hasan kemudian melanjutkan tidur siang yang sempat tertunda.


"Baiklah, Abi istirahat saja nanti biar Arum yang bangunkan." Jawaban Arum membuat Hasan langsung tidur tanpa peduli apapun yang ada di sekitarnya. Yang Hasan utamakan saat ini hanya istirahat mengumpulkan tenaga untuk berperang nanti malam.


********


Desy begitu sibuk hari ini, mulai membantu Hana memasak di dapur hingga menghias barang pernikahan.


"Iya, Umik,' jawab Arum berjalan mendekat ke arah Umik yang sibuk menunjuk beberapa gorden untuk di turunkan dan di cuci.


"Bantu Huda menurunkan Gorden itu!" titah Umik.


Saat ini Huda sedang berdiri indah di atas kursi melepas aatu persatu pengait gorden yang ada di pintu tengah penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Desy ambil gordennya dari bawah!" titah Hasan yang mulai melepas satu persatu pengait gordennya.


"Baik, Mas Huda," sahut Arum yang langsung mengambil alih gorden yang jatuh.


Dengan sedikit kesusahan Desy mengambil gorden yang sudah terjatuh di lantai. Sedang Umik yang memberinya perintah justru pergi meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Berat ya?" tanya Huda.


"Lumayan berat," jawab Desy.


Gorden Umik memang tergolong berat dan berbahan dasar kain tebal yang cukup berat untuk di bawa.


"Kumpulkan saja di pojok sana! biar aku yang akan menatanya nanti." Titah Huda yang tiba-tiba merasa tak tega melihat Desy kesusahan membawa gorden yang cukup berat itu.


"Baik, Mas Huda," Desy tak lagi ingin mendebat Huda dia hanya memilih menuruti semua yang di perintahkan olehnya. Hingga dia ingat tentang sebungkus nasi yang di berikan oleh Huda.


"Mas Huda," lirih Desy membuat sang empu langsung menoleh ke arahnya dan menghentikan aktifitas yang sedang dia lakukan yaitu melepas satu persatu pengait gorden.


"Ada apa Desy?" tanya Hasan yang masih berdiri di tempat tapi tangannya sudah berhenti tak lagi beraktifitas dan pandangannya juga berubah. Kini Huda beralih menatap Desy yang berdiri di bawahnya.


"Terima kasih atas nasi bungkus yang Mas Huda berikan waktu itu, hanya saja ada yang mengganjal di benakku kenapa Mas Huda repot-repot membungkuskannya untukku? padahal kita sudah makan di sana," tanya Desy dengan ekspresi penuh harap, entah apa yang di harapkannya Desy sendiri tak pernah tahu.


"Aku lagi pengen aja beliin kamu, emangnya kenapa? kamu gak suka?" tanya Huda dengan ekspresi wajah cemas.


"Enggak aku suka, hanya saja~" Desy tak meneruskan ucapannya.


"Hanya kenapa?" Huda terus mendesak Desy untuk bicara.


"Aku hanya tak ingin terbawa perasaan dengan sikap baik Mas Huda, jadi alangkah baiknya stop memberiku sesuatu," jawab Desy sambil menunduk malu. Sedangkan Huda malah tersenyum, entah mengapa mendengar pengakuan Desy barusan membuat hati Huda senang. Bahkan dia berencana untuk terus memberi perhatian pada gadis yang terlihat polos di hadapannya itu.


"Bagus donk kalau kamu terbawa perasaan," jawaban yang sangat tak di harapkan dari Desy.


Desy langsung menatap heran Huda yang masih bersikap santai sambil menatapnya sejak tadi.


"Mas Huda, saya berbicara seperti ini karena saya tak ingin patah hati kedua kalinya, jadi saya mohon jangan terlalu perhatian ataupun terlalu dekat pada saya jika tak ada rasa lbih yang tumbuh di hatimu!" tegas Desy, entah dari mana ketegasan itu muncul yang Desy tahu saat ini dia harus bisa menjauhi Huda sebelum ada benih cinta yang tumbuh di hatinya dan sebelum rasa sakit yang dulu pernah dia rasakan kembali menghampiri hidupnya.

__ADS_1


Desy merasa begitu jengkel dengan sikap Huda, dia seolah sengaja mencoba menarik perhatian Desy tanpa berniat memiliki hubungan lebih selain hubungan antar teman, tapi Huda memberinya perhatian yang tak di berikannya pada santri lain.


Bukan Desy gede rasa tapi apa yang di berikan padanya tak di berikan pula pada santri lain, sedangkan Desy hanya manusia biasa yang pernah merasakan sakit hati dan berada di pesantren adalah salah satu caranya mengobati rasa sakit yang dia rasakan. Jadi jika Huda memberinya perhatian lebih maka hati Desy akan berpaling padanya.


__ADS_2