Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Are You Kidding?


__ADS_3

Arum memperlihatkan uang dollar Australia yang masih belum sempat dia tukarkan, di antara uang dollar yang dia bawa hanya ada satu mata uang indonesia yang terselip, itu pun hanya lima puluh ribu rupiah. Sedangkan total belanjaan Arum yang harus dia bayar sebesar sembilan puluh lima ribu, Arum dan Desy masih saja terlihat bingung.


"Kamu bawa uang gak Des?" tanya Arum yang berharap Desy membawa uang yang bisa dia pinjam.


"Enggak Arum," jawab Desy penuh penyesalan, Desy tadi langsung menarik tangan Arum dan tak berfikir untuk membawa uang, karena Desy memang berbiat hanya mengantarkan Arum untuk membeli mie instan. Dia tak menyangka jika Arum akan membeli banyak barang dan salah ambil uang.


"Mas," lirih Arum menampakkan wajah melas penuh harap.


"Iya, Mbak," jawab sang kasir.


"Mas saya tadi salah bawa uang, apa boleh saya membayarnya dengan ini?" tanya Arum menyodorkan uang kertas dollar Australia yang tadi dia bawa. uang yang di sodorkan Arum sebesar 20 dollar Australia dan jika di tukar akan menjadi 1065800000 IDR.


"Maaf Mbak, saya gak nerima uang mainan." Jawab sang kasir tersenyum miris menatap ke arah Arum.


"What?? mainan??" Arum tercengang mendengar penuturan sang kasir yang menyatakan bahwa uang yang sedang di ulurkan ke hadapannya adalah uang mainan.


Uang dollar Australia memang memiliki warna dan gambar yang berbeda dengan uang rupiah yang di gunakan di indonesia, santri yang saat ini menjadi kasir memang orang desa yang tak pernah tahu mata uang Australia juga tidak pernah ke sana. Jadi sang kasir merasa lucu karena beranggapan jika uang yang di sodorkan Arum adalah uang palsu.


"Are you kidding?" tanya Arum dengan raut wajah sedikit jengkel karena uang yang di sodorkan saat ini nilainya jauh lebih banyak dari total barang yang seharusnya dia bayar jika uang itu di tukarkan, malah di bilang uang mainan.


"Saya sedang tidak bercanda Mbak," jawab Sang kasir mantap.


"Kamu tahu bahasa inggris tapi kamu gak tahu uang yang akan Aku berikan ini?" Arum mengernyit menatap heran pada pemuda yang sekarang masih berdebat dengannya.


Keadaan Arum yang acuh tak acuh pada sekitar berbanding terbalik dengan Desy yang justru menunduk malu tak berani mendongakkan wajahnya karena saat ini mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung supermarket.

__ADS_1


"Arum sudah ya, biar Aku ke kamar ambil uang dulu. Nanti Aku balik lagi ke sini untuk membayar sisa uangnya." Desy memberi usulan berharap perdebatan yang berujung jadi pusat perhatian itu segera berakhir.


Arum hanya bisa diam mematung setelah sejenak menganggukkan kepala, Desy pergi meninggalkan Arum yang masih setia berdiri di depan kasir.


"Makanya Mbak kalau uangnya kurang jangan sok-sok'an belanja banyak." Ujar salah seorang santri yang baru saja berjalan ke kasir.


"Apa loe bilang? sok-sok'an?" Arum yang tidak terima dan merasa di hina langsung berjalan mendekat ke arah santriwati yang tadi menghinanya.


"Iya, sok punya banyak uang padahal aslinya~" Santriwati yang menghina Arum tak melanjutkan ucapannya malah memandang remeh ke arah Arum.


"Gue gak perlu sok-sok'an sama cewek kampung kayak loe!! jangankan belanjaan ini. Gue juga sanggup beli rumah loe sama seluruh isinya termasuk harga diri loe May." Arum memang tak pernah terlihat kasar, dia selalu ramaj dan ceria. Tapi satu hal yang tak di ketahui oleh beberapa orang di pesantren, sifat keras Arum saat merasa terancam atau teraniaya. Dia yang ramah dan ceria akan berubah menjadi singa betina yang akan murka saat merasa anaknya terusik.


"Songong amat loe! bayar Sembilan puluh lima ribu aja kagak sanggup apalagi beli rumah sama harga diri gue. Dasar tukang halu." Cibir Maya, seorang santri yang memang menaruh benci pada Arum sejak pertama kali mereka bertemu.


"Arum!!" teriak Hasan dengan tatapan tajam yang mengarah ke Arum, karena saat ini Arum sedang menunjuk jari telunjuknya ke arah Maya berdiri.


Seketika suasana yang tadi ramai mendadak tenang dan hening setelah suara bariton Hasan menggema di supermarket.


"Kak Hasan," lirih Arum hampir bersamaan dengan Maya yang kini ikut mematung menatap ke arah Hasan.


"Mas Hasan," lirih Maya.


"Apa yang kamu lakuin Arum?" tanya Hasan dengan nada sedikit membentak.


"Kakak tanya aja pada santri Kakak itu!" Arum melirik Maya yang masih tersenyum dengan senyuman remeh.

__ADS_1


"Mas Hasan harus dengerin Aku! Arum ini belanja banyak barang tapi uangnya gak cukup untuk bayar. Bukannya minta maaf dan mengembalikan barang yang gak sanggup di bayar ehh malah ngasih uang mainan ke kasir." Maya menjelaskan semua yang terjadi tapi sudah di beri bumbu penyedap rasa agar terdengar lebih dramatis.


"Apa bener seperti itu?" tanya Hasan seolah percaya dengan apa yang di jelaskan Maya dan terkesan seperti mencurigai Arum.


"Dasar santri Kakak aja yang kampungan, gak tahu jika uang yang Aku sodorkan adalah uang asli." Bela Arum yang tak mau kalah dengan ucapan Maya.


"Arum! jaga bicaramu!" Hasan menghardik Arum yang sedang membela dirinya.


"Cukup Kak Hasan! karena beberapa santri di sini kurang cerdas maka Aku akan bayar makanan yang ku ambil tadi padamu. Ini lima puluh dollar Australia, Aku rasa uang ini jauh lebih cukup untuk membayar belanjaanku. Jika nanti kurang Ayah dan bundaku akan mengirim uang sebagai ganti ruginya." Arun menyerahkan paksa selembar uang yang tadi di pegangnya.


Arum yang emosi langsung menarik tangan Hasan dan meletakkan selembar uang yang tadi dia bawa di telapak tangan Hasan.


Arum tak menyadari apapun, baginya saat ini hanya ada emosi. Sedang Hasan yang mendapat serangan tiba-tiba hanya diam mematung merasakan sentuhan lembut tangan kecil yang begitu dia dambakan


"Bye," Arum berjalan keluar supermarket dengan hentakan kaki, pergi jauh meninggalkan Hasan dan Maya yang masih diam di tempat tanpa ada yang beranjak dan berkomentar.


"Arum!!" teriak Desy setelah melihat Arum datang dari arah luar pesantren dengan langkah lebar, terlihat di wajahnya emosi yang .asih belum memudar.


"Loh kok udah bisa keluar?" tanya Desy yang bingung dengan sikap yang di tunjukkan Arum.


"Udah gak usah di fikirin! mending kita langsung berangkat!" ajak Arum yang langsung menyeret Desy kembali masuk ke dalam kamarnya menemui teman yang lain.


"Assalamualaikum," ucap Arum dan Desy yang baru saja sampai di kamar.


"Waalaikum salam," sahut Fifi dan Sinta yang memang menunggu Arum.

__ADS_1


__ADS_2