
Kepergian sang Ummah menyisakan luka yang cukup mendalam bagi para cucunya, karena Ummah selalu perhatian dan begitu menyayangi semua cucunya, Husein merasa begitu terpukul atas kepergian sang Ummah, selama ini dia hanya sibuk menata hati dan hidupnya sendiri jarang sekali memperhatikan sang Ummah. Penyesalan memang selalu datang di akhir dan saat ini rasa penyesalan itulah yang mengganggu fikiran Husein.
"Kak Husein!" panggil Zahra yang baru saja datang menghampiri Husein yang duduk di kursi yang biasa mereka gunakan untuk bersantai.
Husein hanya diam tak menggubris panggilan Zahra yang tak di dengar olehnya, melihat kediaman Husein membuat Zahra semakin khawatir karena saat ini Husein sedang melamun menatap langit yang mulai terik.
"Kak Husein!" Zahra kembali memanggil Husein dengan intonasi lebih tinggi sambil duduk di kursi yang berada di samping Husein, berjarak satu bangku kosong.
"Zahra," lirih Husein saat dia tersadar setelah mendengar panggilan Zahra.
"Kakak ngapain di sini sendirian?" tanya Zahra dengan ekspresi wajah yang khawatir.
"Kakak hanya menikmati suasana saja," elak Husein.
"Kok sendirian? kenapa tidak bersama yang lain?" Zahra mulai banyak bertanya.
"Tidak apa-apa, terkadang kita butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan fikiran," jawab Husein mencoba menutupi rasa penyesalan yang masih menguasai hatinya.
"Oh, Kakak butuh waktu sendiri, kalau begitu aku akan pergi saja. Dan Kak bisa lanjutkan menyendirinya." Zahra merasa sedikit tak enak hati karena Husein mengatakan ingin menyendiri, dan Zahra berniat untuk meninggalkan Husein. Dia berdiri hendak pergi tapi Husein yang melihat itu langsung mencegahnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Husein dengan ekspresi bingung dan dahi mengkerut.
"Katanya Kakak butuh waktu sendiri, aku pergi dulu biar Kakak bisa menikmati kesendirian Kakak," jawab Zahra dengan senyum yang di paksakan.
"Duduklah! Kakak akan merasa jauh lebih baik jika kamu tetap duduk di situ." Ujar Husein mencoba menahan Zahra yang terlihat akan pergi.
Dengan hati yang di penuhi rasa lega Zahra kembali duduk berniat menemani Husein yang terlihat begitu sedih, meski Husein sudah berusaha untuk menutupi kesedihannya dengan ketegaran tapi tetap saja aura kesedihan yang memancar dari tubuhnya tak bisa dia tutupi.
"Kakak sudah makan?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Sudah," jawab Husein singkat.
"Benarkah? kenapa aku lihat Kakak seperti orang yang belum makan sejak pagi?" Zahra mencoba memancing Husein agar menjawab pertanyaannya dengan jujur karena dia sangat yakin jika Husein pasti belum makan sejak pagi, semua itu terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat dan lesu.
"Dari mana kamu tahu kalau aku belum makan?" tanya Husein yang merasa jika Zahra bisa membaca fikirannya.
"Tuh kan bener, Kakak belum makan," sahut Zahra.
"Tunggu di sini ya Kak! biar aku ambilkan." Pamit Zahra tanpa banyak bertanya lagi dia langsung berdiri melangkah pergi meninggalkan Husein yang kini merasa sedikit terhibur dengan kehadiran Zahra.
"Sepertinya menikah lebih cepat akan jadi lebih baik," gumam Husein menerawang ke atas langit sambil membayangkan sebuah pesta pernikahan yang mewah untuk dirinya dan Zahra.
Sedang Zahra kini sedang mencari Umik untuk menanyakan di mana letak makanannya.
"Umik!" panggil Zahra dengan langkah lebar dia mendekat ke arah Umik yang sedang menyalami para tamu.
"Zahra, ada apa, Nak?" sahut Umik mengalihkan pandangannya menatap ke arah Zahra calon menantunya.
"Kamu lurus aja nanti belok kiri di pojok sana dapurnya," Umik menunjukkan arak menuju ke dapur.
"Terima kasih Umik, oh ya Zahra izin ya ambil makanan untuk Kak Husein di dapur," izin Zahra yang merasa sungkan jika harus langsung ke dapur tanpa meminta izin sang pemilik rumah.
"Ambilah, Nak! kamu tidak perlu meminta izin segala anggap saja rumah ini seperti rumahmu juga, lagi pula Umik senang jika kamu perhatian pada Husein putera Umik," sahut Umik tersenyum lembut ke arah Zahra.
"Baiklah, Zahra pergi dulu Umik." Pamit Zahra melenggang pergi meninggalkan Umik yang masih berdiri sembari menyalami para tamu.
Zahra terus melangkah menuju tempat yang sudah di tunjukkan oleh Umik. Hingga dia menemukan dapur set yang di penuhi para pelayan yangs sedang membuat makanan untuk para tamu.
"Maaf, boleh saya ambil makanan?" tanya Zahra dengan ekspresi bingungnya melihat begitu banyak pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Silahkan Non, mari saya tunjukkan tempatnya." Seorang pelayan mengajak Zahra berjalan menuju meja makan di mana ada banyak menu makanan yang sudah tersedia di sana.
"Ini piringnya, silahkan Nona ambil mana yang Nona inginkan." Ucap sang pelayan dengan senyum yang terlihat mengembang.
"Terima kasih Bik," sahut Zahra.
Zahra memilih beberapa menu yang menurutnya akan di sukai oleh Husein, sop ayam lengkap dengan tempe dan sambalnya juga nasi putih telah terisi ke dalam piring, dengan langkah penuh semangat Zahra kembali melangkah menemui Husein yang masih setia duduk di kursi halaman belakang, tempat di mana tadi Zahra meninggalkannya.
"Kak makanlah dulu!" titah Zahra seraya menyodorkan satu piring yang sudah berisi makanan ke arah Husein dan tentu saja Husein menerimanya dengan senyum yang merekah, di sela-sela rasa penyesalannya Husein merasa bersyukur karena memiliki calon istri yang begitu perhatian padanya seperti Zahra.
"Loh, kamu mau ke mana lagi Sayang?" tanya Husein saat melihat Zahra berdiri hendak meninggalkan Husein setelah sepiring makanan yang dia bawa telah ada di genggaman tangan Husein.
"Aku mau buatin teh hangat sama ngambilin air putih untuk Kakak." Jawab Zahra yang membuat Husein merasa semakin bersyukur.
"Khem," suara deheman seorang laki-laki yang begitu familiar di telinga keduanya kini terdengar.
"Loe kenapa sih, selalu saja datang di waktu yang tidak tepat," gerutu Husein saat melihat sahabatnya Zein kini sudah berada di hadapannya.
"Belum halal gak boleh berduaan pamali," sahut Zein tanpa ada rasa bersalah sedikitpun meski dia tahu jika saat ini dia sudah mengganggu waktu Zahra dan Husein.
"Au ah males gue sama Loe," sahut Husein langsung menyantap makanan yang tadi di bawakan oleh Zahra.
"Kamu mau ke mana, Dek?" tanya Zein saat melihat Zahra berdiri hendak pergi.
"Aku mau buat teh sama ngambil air putih Kak," jawab Zahra.
"Sekalian buatin kopi kayak biasanya!" titah Zein yang di angguki oleh Zahra.
"Enak aja nyuruh-nyuruh calon bini gue," celetuk Husein.
__ADS_1
"Dia masih jadi Adek gue kali," sahut Zein yang tak terima mendengar celetukan Zein.
Keduanya seperti tikus dan kucing yang selalu berdebat dan bertengkar setiap kali bertemu, meski begitu persahabatan di antara keduanya tak bisa di abaikan karena meski sering bertengkar mereka saling menyayangi sebagai sahabat.