Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Tunggu Aku


__ADS_3

"Pasti, aku pasti pulang Dek, karena tulang rusukku sudah menunggu jadi aku harus pulang." Jawaban Huda membuat Husein tersenyum mendengarnya, tapi hal berbeda di tunjukkan oleh Desy. Dia terlihat bingung dengan jawaban Huda.


'Tulang rusuk, apa Mas Huda sudah punya calon istri?' batin Desy.


"Makanya Kak cepet lulus biar bisa cepet halalin calon Kakak ipar," seru Husein semakin membuat Desy bingung.


"Dek, maaf ya aku gak bisa dateng ke acara nikahanmu awal bulan depan," ucap Huda.


"Santai aja kak, aku ngerti kok jadi Kakak gak usah fikirkan soal itu," jawaban yang membuat Huda merasa begitu lega.


"Tapi jangan lupa kadonya!" sambung Husein.


"Kamu tunggu aja kado spesial dari Kakak!" sahut Huda sambil melirik Desy yang hanya diam mematung seperti orang yanh sedang memikirkan sesuatu.


Saat semua orang sedang sibuk berbincang satu sama lain Huda mulai mendekat ke arah Desy.


"Desy!" lirih Huda mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Iya, Mas Huda," sahut Desy.


"Aku akan pergi. Apa kamu gak mau ngucapin selamat tinggal atau kata perpisahan lainnya." Ujar Huda.


"Mas Huda semoga selamat sampai tujuan dan hati-hati di jalan!" Desy yang bingung harus berkata apa hanya mampu mengatakan sebuah kata sederhana.


"Apa hanya itu saja?" tanya Huda membuat Desy bingung dengan tanggapan yang Huda berikan.


"Maksudnya?" Desy balik bertanya karena dia sendiri sangat bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Huda.


"Apa tidak ada kata atau pesan lain untukku?" Huda memperjelas pertanyaannya.


Desy masih saja diam tak menjawab ucapan Huda, dia masih merasa bingung dengan apa yang harus di ucapkannya.


"Sudahlah, jika memang tidak ada aku ingin berpesan satu hal padamu, tunggu aku!" ujar Huda seraya tersenyum manis ke arah Desy kemudian kembali bergabung ke keluarga yang lain karena pesawat yang akan di tumpanginya akan segera lepas landas.

__ADS_1


"Desy!" tegur Umik saat melihat Desy hanya diam menatap lurus ke depan tanpa bergerak ataupun berkedip.


"Eh, Iya Umik," sahut Desy sesaat setelah sadar dari lamunannya.


"Ayo pergi!" ajak Umik menggandeng tangan Desy yang sebenarnya masih belum sadar seutuhnya.


"Ke mana Umik?" tanya Desy yang masih belum sadar sepenuhnya.


"Pulang Desy, apa kamu mau nginep di bandara?" jawab Umik membuat Desy menyadari jika Huda sudah masuk ke bagian pemberangkatan dan kini tinggallah dia dan keluarga Huda yang lain dan bersiap untuk kembali pulang.


Desy yang mendengar jawaban Umik hanya bisa menunduk malu, menyembunyikan wajahnya. Dengan langkah pelan Desy mengikuti setiap langkah Umik keluar dari Bandara dan masuk ke dalam mobil.


"Husein! kita mampir dulu di warung makan biasanya ya!" pinta Umik pada Husein yang saat ini menjadi soprinya.


"Baik, Umik," jawab Husein.


Sejak kepergian Huda dan pesan yang dia sampaikan Desy benar-benar tak bisa mengalihkan fikirannya dari Huda, ada banyak tanya yang bersemayam dalam benaknya.


Desy hanya bisa mengikuti apa yang Umik katakan tanpa menolak ataupun mendebatnya, meski sebenarnya saat ini dia ingin segera kembali ke pesantren menikmati setiap rasa yang berkecambuk dalam dirinya.


Umik ternyata mengajak Desy makan bersama keluarga besarnya yang berarti juga bersama kedua orang tua Huda.


"Duduklah!" titah Imah saat melihat Desy hanua berdiri di samping Umik yang sejak tadi sudah duduk.


"Duduk di sini?" tanya Desy ragu sambil menunjuk satu kursi kosong di samping Umik.


"Iya, duduklah!" Imah kembalu memerintahkan Desy untuk duduk.


"Tidak apa-apa, kamu duduk saja di samping Umik." Sahut Umik yang mengerti jika Desy masih sungkan untuk duduk di sampingnya.


Terlihat keraguan di wajah Desy tapi meskipun begitu dia tetap mengikuti apa yang di perintahkan oleh Umik dan Imah, semua irang telah memesan makanan yang ingin mereka makan tinggal Desy yang belum memesan apapun, sejak tadi dia hanya diam menundukkan kepala, sungguh rasanya begitu tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga Umik, bukannya Desy tak menyukainya hanya saja dalam lubuk hatinya yang paling dalam Desy merasa tak pantas berada di antara mereka.


"Desy!" suara lembut Imah terdengar masuk menerobos ke dalam gendang telinga.

__ADS_1


"Iya, Neng," sahut Desy dengan posisi kepala yang masih menunduk.


"Pesanlah! kamu mau makan yang mana?" ujar Imah.


"Saya makan apa saja, terserah Neng Imah," jawab Desy membuat Imah tersenyum.


"Benar terserah padaku? apa kamu tidak menginginkan salah satu dari menu yang di sediakan?" Imah kembali bertanya meyakinkan Desy dengan jawaban yang dia katakan.


"Iya, Neng, saya akan memakan apapun yang Neng Imah pilihkan." Jawab Desy meyakinkan Imah jika dia sudah pas dengan pilihannya.


"Baiklah, kalau begitu kamu lebih suka mana makan menu berbahan mie dia siang hari seperti ini atau makan nasi?" Imah kembali menanyakan makanan apa yang di sukai oleh Desy.


"Saya tidak pernah pilih-pilih soal makanan Neng, yang penting kenyang," jawaban Desy saat ini benar-benar membuat Imah yakin jika Huda memilih gadis yang tepat.


Seorang gadis yang tak banyak keinginan dan bisa memakan apa yang ada adalah gadis yang bisa membuat kehidupan rumah tangganya nanti menjadi tenang dan tentram, karena dia bisa menerima apapun yang terjadi dan bisa menerima bagaimanapun keadaan suaminya nanti, karena dalam hidup berumah tangga tidak selalu mulus dan jaya, akan ada saatnya kita berada di titik terendah sebuah perjalanan hidup dan di situlah ujian terberat dalam rumah tangga yang harus bisa di lewati dengan penuh keikhlasan juga kesabaran.


"Baiklah, aku akan memesankan menu untukmu." Ujar Imah sambil melihat beberapa menu yang ada di buku menu.


"Mbak saya pesan satu porsi bebek kremes dan minimnya es jeruk, terus aku juga mau Satu porsi bebek panggang untuk di bungkus nanti." Imah memesan dua porsi makanan sekaligus dan Desy hanya diam dengan kepala yang masih menunduk tanpa berkomentar.


"Kamu sudah berapa lama jadi santri Desy?" Imah mengambil kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis yang akan menjadi menantunya itu.


"Sudah dua tahun lebih Neng," jawab Desy.


"Kamu kelas berapa sekarang?" Imah kembali memberi Desy pertanyaan.


"Saya kelas tiga, Neng," jawab Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Berarti sebentar lagi lulus, terus rencanamu ke depan apa?" Imah semakin bersemangat untuk terus bertanya.


"Kalau saya mengikuti takdir saja Neng, tapi kalau punya kesempatan saya ingin kuliah dan melanjutkan pendidikan Saya." Jawab Desy.


Imah hanya tersenyum bahagia melihat dan mendengar setiap jawaban yang keluar dati bibir Desy, dan Imah yakin jika Desy memang baik untuk Huda.

__ADS_1


__ADS_2