
Parangteritis adalah destinasy terakhir yang di kunjungi oleh Hasan dan yang lain, di tutup dengan dinner romantis yang mereka lakukan di sebuah restauran terkenal di daerah Jogja, kini mereka bersiap untuk kembali pulang dan menyimpan semua kenangan manis nan indah jauh di dalam lubuk hati mereka.
Perjalanan yang jauh kini telah mereka lewati, kembali pulang ke pesantren dan menjalankan aktifitas seperti biasanya. Seminggu sudah berlalu, saat ini Zahra sedang duduk menikmati indahnya pagi hari di balkon kamarnya, menatap langit yang sedikit tertutup awan mendung menghalangi sinar mentari.
"Bagaimana Dek? apa kamu setuju dengan tawaran Mas semalam?" tanya Husein berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Zahra.
"Kalau Zahra terserah, kalau menurut Mas baik Zahra ikut saja," jawaban seorang Zahra memangselalu membuat hati tentram dan bahagia. Semalam Husein mengajak Zahra untuk pindah rumah, hidup mandiri hanya berdua di sebuah rumah yang sudah di siapkan oleh Husein.
"Bagaimana kalau hati jum'at besok kita pindah?" usul Husein.
Rumah yang di siapkan Huseinberada tak jauh dari lingkungan pesantren, dan juga tak jauh dari satu restauran yang sekarang di urus oleh Husein, dia sengaja memilih rumah itu agar lebih mudah untuk mengurus segalanya.
Husein tak perlu lagi menempuh jarak jauh jika harus ke restauran yang merupakan restauran pusat, dan jika ada apa-apa yang tak di inginkan keluarga Husein busa datang lebih cepat untuk membantunya.
"Boleh, tapi, Mas Husein harus izin dulu sama Papa dan Mama. Bagaimanapun mereka masih tetap orang tuaku, dan akan terasa tidak sopan jika kita pindah tanpa memberitahu mereka," ujar Zahra.
"Aku mengerti, bagaimana kalau kita bicarakan hal ini sekarang?" usul Husein.
Mengingat hari ini adalah hari minggu, Papa dan Mama Zahra akan berkumpul di rumah menghabiskan waktu bersama tanpa ada pekerjaan yang biasa di lakukan oleh Sang Papa.
"Habiskan dulu kopinya, Mas! baru kita turun dan menemui mereka." Ujar Zahra mengingatkan Husein jika kopi yang telah di siapkan oleh Zahra masih banyak.
Husein hanya tersenyum manis dan meminum kopi buatan sang istri sambil menatap wajah ayunya, sungguh pagi yang indah.
"Kapan kira-kira kuta bisa punya baby ya, Dek?" lirih Husein sambil menatap langit mendung yang terbentang di hadapannya.
__ADS_1
"Entahlah Mas, aku sendiri juga tidak tahu Mas, baby itu anugerah dri yang maha kuasa dan kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a," jawab Zahra.
"Kamu benar, mungkin usaha kita kurang maksimal, Dek," ucap Husein tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mungkin, Mas, tapi satu hal yang aku yakini jika hasil tidak akan berhianat dengan usaha yang kita lakukan." Zahra mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya
"Bagaimana kalau sekarang kiat berusaha?" usul Husein serasa tersenyum mesum denga alis yang mulai naik turun.
"Maksudnya, Mas?" Husein sudah tersenyum dengan alis yang naik turun tapi Zahra malah tidak mengerti maksud dari apa yang di usulkan oleh Husein.
"Sudahlah, jangan di bahas! lebih baik kita segera turun ke bawah menemui Papa dan Mama." Seru Husein berdiri mengajak Zahra untuk turun ke lantai satu dan menemui orang tua Zahra.
Mendapat ajakan sang suami Zahra langsung menurut tanpa berdebat kembali, dia juga tak penasaran dengan apa yang di maksud Husein tadi, Zahra merasa jika apa yang di maksud Husein pasti menjurus pada sesuatu yang mesum.
Zahra berjalan mengekor di belakang Husein menuruni setiap tangga menuju ruang keluarga. Biasanya keluarga Zahra akan berkumpul di sana setiap hari sabtu dan minggu, karena di dua hari itulah Papa juga Zein sang Kakak sedang libur.
"Zein, sudah, jangan terus menerus menggoda adikmu!" Mama Rina mengingatkan Zein yang sekarang memiliki hobi baru yaitu menggoda sang adik.
"Blweee," Zajra menjulurkan lidah mengejek Sang Kakak yang dapat teguran dari Mama Rina.
"Ishhh Mama gak asyik ah," sahut Zein.
"Pagi Ma, Pa," sapa Husein ikut duduk bergabung bersama keluarga Zahra yang lain.
"Pagi," sahut Papa Zahra sejenak mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang sejak tadi dia tatap ke arah Husein dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Pagi, duduklah, Nak!" berbeda dengan sang Papa jawaban Mama Rina jauh lebih panjang dan ramah.
Husein langsung duduk di samping Zahra dengan senyum yang juga mengembang menandakan betapa bahagianya dia hari ini, Zahra memang gadis yang tepat untuk di jadikan istri, tanpa ada perdebatan dia langsung menyetujui apapun yang di minta oleh Husein.
"Ma, Pa, Kak Zein!" Zahra memanggil setiap anggota keluarga yang duduk di hadapan mereka mencoba mencari perhatian mereka.
"Ada apa, Nak?" sahut Mama Rina mewakili sang Ayah dan Kak Zein yang bingung dengan panggilan juga tatapan setius dari Zahra.
"Ada yang mau di omongin sama Mas Husein," jawab Zahra tak langsung menjawab pertanyaan sang Mama karena menurutnya Husein jauh lebih berhak untuk berbicara pada keluarganya karena saat ini Huseinlah kepala kwluarga dalam rumah tangganya.
"Kamu mau ngomong apa Husein? apa ada masalah?" seloroh Zein yang tak sabar menunggu Husein berbicara.
"Begini Zein, Pa, Ma, aku bermaksud mengajak Zahra pindah dan tinggal di rumah yang sudah ku siapkan sejak lama, apa kalian menyetujui rencanaku ini?" Husein mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Apa yang kamu maksud rumah yang pernah kamu tunjukin ke aku dulu?" sela Zein.
Zein memang sahabat dekat dari Husein, dulu Hasan serong mengajak sahabatnya untuk bermain atau sekedar berkunjung ke rumah yang dia beli dengan hasil kerjanya sendiri.
Zein pernah beberapa kali di ajak main bahkan menginap di rumah itu oleh Husein, dan Huseinselalu bilang jika rumah itu dia siapkan khusus untuk calon istri yang akan menjadi ratu dalam rumah itu.
"Iya, aku ingin mengajak Zahra pindah dan tinggal di rumah itu Kak," jawab Husein, kini panggilannya pada sangsahabat telah berubah menjadi Kakak karena dia memang menikahi Adik dari Zein.
"Kalau pindahnya ke sana aku setuju," jawab Zein mendahului jawaban Mama dan Papanya.
"Kenapa kamu langsung setuju tanpa minta pendapat Papa, Zein?" tanya Papa Zahra.
__ADS_1
"Rumah di sana itu sangat nyaman Pa, Husein juga sudah melengkapi semua kebutuhan rumah tangga di dalamnya termasuk pembantu yang selama ini membersihkan rumah itu sebelum Husein menikah, lagi pula aku yakin Husein bisa memperlakukan Zahra dengan baik di sana," jawab Zein membuat keinginan Husein lebih mudah tercapai tanpa haris menjelaskannya panjang lebar.
"Kalau menurut Zahra bagaimana? apa Zahra mau ikut tinggal di sana bareng Husein?" sahut Mama Rina.