Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Persiapan Pertunangan


__ADS_3

"Huda Maaf, mungkin takdir tak berpihak pada kita dan Aku ingin mengatakan jika~"


Tut ... tut ... tut ... tut ....


Suara panjang ponsel terdengar menandakan jika sambungan telfon sudah terputus, meski kecewa Arum tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan kehendak juga takdir yang tuhan berikan.


Langkah kaki Arum kini bergerak menuju ruang tamu berkumpul dengan seluruh keluarga besar dari sang Bunda, semuanya terlihat begitu antusias menanti hari esok di mana salah satu anggotanya akan melangsungkan acara pertunangan yang begitu mereka tunggu.


Hari ini terlewati begitu saja, waktu terasa begitu cepat berlalu meninggalkan Arum yang masih saja bimbang dengan apa yang sudah dia putuskan.


**********


Pagi ini adalah pagi paling ribut juga sibuk di rumah Oma Arum, ada banyak saudara sedang hilir mudik mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


"Bunda," panggil Arum yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Iya Sayang, ada apa?" tanya Bunda Arum dengan senyum yang merekah di bibirnya, kebahagiaan dan kelegaan tergambar jelas di wajah bunda Fia.


Fia begitu bahagia setelah mendengar persetujuan Arum yang menerima pinangan Hasan calon mantu idaman baginya.


"Bunda, apa Ayah tidak datang?" tanya Arum yang tak melihat sang Ayah sejak kemarin.


"Ayahmu sudah datang dari semalam, tapi masih tidur. Mungkin kecapek'an soalnya tadi malem nyampeknya malem banget," jawab Fia dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.


"Alhamdulillah kalau Ayah sudah sampai," ujar Arum dengan ekspresi wajah leganya.


Semakin siang kesibukan semakin terlihat, ada banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan mengingat acara pertunangan akan di langsungkan setelah sholat maghrib.

__ADS_1


Suasana sibuk terlihat di dalam tumah dan halaman mansion, tapi kesibukan yang terlihat berbanding terbalik dengan keadaan yang terjadi di dalam kamar Arum.


Arum berbaring termenung menatap langit-langit kamar, tubuhnya memang sedang diam tak bergerak, tapi fikirannya melayang jauh ke tempat di mana seorang laki-laki yang masih berstatus pacarnya berada.


"Bagaimana jika Huda tahu berita ini dari orang lain? apa yang harus Aku jelaskan?" lirih Arum memikirkan bagaimana perasaan Huda saat dia tahu kebenarannya.


Arum terus memikirkan Huda hingga dia pun tak sadar dan terseret ke dunia mimpi yang penuh dengan fatamorgana.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengusik tidur nyenyak Arum, dia menggeliat pelan mencoba mengumpulkan kesadaran agar dapat bangun dari tidurnya.


"Iya, sebentar," sahut Arum berjalan sedikit sempoyongan karena baru saja terbangun.


"Nak, sudah sore lebih baik kamu sholat setelah itu siap-siap!" titah Bunda Fia yang di tanggapi dengan anggukan oleh Arum.


Apa yang Arum sedang rasakan juga fikirkan berbanding terbalik dengan apa yang sedang Hasan rasakan, hari ini dia terlihat begitu berseri-seri dengan setelan jas yang semakin membuatnya terlihat tampan juga mapan Hasan kini sudah siap untuk berangkat ke rumah Arum sang gadis pujaan hatinya.


"Sayang, ini masih sore kamu sudah siap aja," ujar Umik sambil tersenyum lucu melihat puteranya sudah siap dengan setelan jas yang memang sudah di disiapkannya.


Hasan sungguh terlihat lucu membuat Umik tertawa kecil mengingat tingkah Hasan waktu kecil, dia akan bangun sebelum subuh hanya demi memakai baju baru yang sudah Umik siapkan.


Dan Hasan akan berada di garda terdepan saat sholat Ied akan di laksanakan, tapi Hasan akan kembali bersembunyi di dalam kamar setelah mengambil satu toples makaroni pedas dan saat para tamu berdatangan.


Hasan memang kurang suka dengan keramaian, dia merasa begitu risih saat banyak tamu yang mencubit pipi gemulnya juga berebut menggendongnya. Tapi hari ini sedikit berbeda dengan dulu, Hasan tetap terlihat bersemangat meski nanti akan ada banyak orang di sana tapi Hasan tetap bersemangat dan Umik sangat yakin jika itu semua terjadi juga karena perasaan cinta yang di miliki Hasan untuk Arum.


"Mama habis ketawa kok senyum-senyum sendiri," ujar Hasan setelah dia lumayan lama terdiam.

__ADS_1


"Gak apa-apa, lebih baik kamu makan dulu dari pada nanti kamu pingsan gara-gara belum makan," usul Umik yang mengerti jika puteranya itu belum makan sejak pagi.


"Astaghfirullah, Hasan lupa Umik kalau Hasan belum makan sejak tadi." Sahut Hasan menepuk pelan jidatnya.


Umik hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Hasan yang benar-benar lucu.


Sungguh cinta memang buta membuat siapapun yang merasakannya jadi buta dan berubah seketika, tapi perubahan yang terjadi pada Hasan sungguh membuat Umik bahagia, Hasan yang sejak kecil terkenal penyendiri kini mulai mau bertegur sapa dengan yang lain.


Seperti saat ini Hasan yang sudah makan berjalan ke ruang tamu untuk berkumpul dengan saudara yang ikut jadi saksi di hari pertunangannya di ruang tamu.


"Abi, Paman Arif ke mana kok tidak terlihat?" tanya Hasan yang sama sekali tak melihat batang hidung Arif yang notabennya kakak kandung Umiknya.


"Pamanmu sedang menjemput Sepupumu yang baru pulang dari luar negeri." Jawab Abi.


"Om Hasan, Aly mau ice cream!" rengek Ali yang baru saja datang dari arah ruang tengah dan langsung menarik celana Hasan.


"Sayang, sebentar lagi kita akan berangkat ke rumah tante. Jadi makan ice creamnya besok saja ya." Jawab Hasan.


"Aly mau sekarang Om," Aly kembali merengek dengan wajah memelas juga mata yang berkaca-kaca.


"Aly Sayang, hari ini Aly tahan dulu makan ice creamnya karena di tempat tante nanti akan ada banyak makanan lezat," Hasan masih berusaha membujuk Aly agar dia tak merengek lagi untuk di belikan ice cream, mengingat Aly sudah berganti baju baru jadi tidak mungkin jika Aly makan ice cream karena Aly selalu ceroboh saat makan.


Aly sejenak terdiam kemudian kembali mendongak menatap Hasan yang masih setia menampakkan wajah sendu nya mencoba meyakinkan Aly sang keponakan kecil tapi bersifat besar.


"Baiklah, kalau begitu nanti Aly mau makan yang banyak di sana dan Om juga Mommy jangan sampai mengganggu atau melarang Aly." Jawab Aly yang langsung berjalan menjauh meninggalkan para orang tua yang masih setia duduk di tempa.


"Wahh sudah pintar ngerayu anak kecil, kamu kayaknya sudah siap untuk punya seirang anak," sahut Firman yang notabennya suami dari Adik Abinya.

__ADS_1


Hasan hanya tersenyum kikuk mendapat pujian dari Om nya itu, semua orang tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Hasan, sungguh pemandangan yangs edikit langkah bagi keluarganya karena biasanya Hasan jarang sekali tersenyum apalagi berbicara, dia lebih suka diam dan menyibukkan diri dengan ponsel yang sekarang entah di mana berada.


__ADS_2