
"Alhamdulillah, ayo masuk!" ajak Abi Ilzham yang langsung masuk ke dalam rumah sesaat setelah Arif masuk. Sedangkan Umik hanya bisa mengikuti langkah Arif tanpa sepatah katapun.
Jika saat ini Abi Ilzham dan Umik sedang beristirahat, maka keadaan berbeda terjadi di rumah Ummah. Terlihat jelas kesibukan terjadi di rumah Ummah, Hasan dan Husein masih saja terjaga dan duduk di ruang tamu. Meski acara tahlil telah selesai tapi para tamu masih saja ada yang belum pulang.
~
Arum berjalan masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya, sungguh hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, bahkan seharian penuh Arum belum sempat meluruskan punggungnya di atas kasur yang biasa dia gunakan.
"Tumben sekali Umik pergi," lirih Arum sembari meluruskan punggungnya yang terasa kaku setelah seharian penuh beraktifitas.
Seharian ini Arum benar-benar sibuk, mengurus makanan yang di berikan sebagai jamuan saat tahlil dan untuk di bawa pulang para tamu, awalnya Umik membantu tapi karena permintaan Arif membuat Arum harus bekerja sendirian sedangkan Desy yang biasanya membantu kini sudah kembali ke pesantren karen esok dia harus sekolah, di tambah beberapa pelayan yang biasanya membantu sudah ada yang pulang karena ada keluarganya yang sakit.
"Kamu lelah ya Syei'?" pertanyaan yang seharusnya tidak perlu untuk di suarakan terdengar di telinga Arum yang terlihat dengan jelas sedang lelah.
"Banget Bi," jawab Arum tanpa mengalihkan pandangannya yang sejak tadi tertunduk lelah.
Hasan sangat mengerti dengan rasa lelah yang kini di rasakan oleh Arum, sejak pagi Hasan hanya memperhatikan apa yang Arum lakukan tanpa menegur atau melarangnya karena saat itu tugas Umik memang harus di gantikan oleh Arum.
"Bagaimana kalau Abi pijitin?" tawar Hasan, meski sebenarnya Hasan juga merasa lelah tapi rasa tak tega menjalar di hatinya membuat Hasan mengabaikan rasa lelah yang juga dia rasakan.
"Tidak usah Bi, aku tahu Abi juga lelah, lebih baik besok kita pijat ke tukang urut langganan kita saja," tolak Arum yang juga merasa tak tega jika harus meminta Hasan untuk memijitnya sedangkan dia tahu dengan pasti jika Hasan juga merasakan hal yang sama sepertinya.
Hasan yang mendengar jawaban Arum hanya bisa tersenyum bahagia, istrinya itu sungguh pengertian.
"Kalau begitu Abi mandi dulu. Besok pagi kalau Umik dan Abi sudah kembali ke sini kita ke pesantren untuk pijat." Ucap Hasan melangkah pergi menuju kamar mandi sedangkan Arum mencoba memejamkan mata menghilangkan segala rasa lelah yang terasa.
__ADS_1
Malam penuh mimpi kini perlahan pergi berganti pagi yang mulai menampakkan cahayanya, Arum masih saja terlelap dalam mimpi setelah sholat subuh dia kembali membawa diri ke alam mimpi sedangkan Hasan sudah pergi menikmati suasana pegunungan di pagi hari sambil mencari seorang penjual makanan yang bisa dia bawa pulang untuk Arum.
Ternyata hidup di pegunungan seperti saat ini tak semudah yang Hasan bayangkan, sejak tadi dia sudah berkeliling mencari warung atau stand penjual makanan tapu hasilnya nihil, yang ada hanya orang-orang berjalan menuju ladang dan perkebunan dengan topi jerami yang melekat di kepalanya.
"Buk, maaf mengganggu," sapa Hasan menghentikan langkah seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan di depannya.
"Iya, ada apa?" sahut wanita itu sambil menghentikan langkahnya.
"Apa di sekitar sini tidak ada penjual makanan?" tanya Hasan.
"Kalau di sekitar sini tidak ada, kalau kamu mau nyari penjual makanan kamu bisa pergi ke ujung jalan yang ada di sana." Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah jalan raya yang jauh lebih besar dan terlihat seperti pertigaan.
"Terima kasih sudah di beri tahu," ucap Hasan dengan senyum ramah yang dia tunjukkan.
"Sama-sama," jawabnya kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena Hasan mencegahnya.
Kali ini Hasan ingin membelikan ketan duren, makanan khas dan favorite di tempat sang Ummah, dengan penuh semangat Hasan berlari-lari kecil menuju ujung jalan yang katanya terdapat penjual makanan.
Dan benar saja tak jauh dari tempat yang di tunjukkan terdapat sebuah warung kecil yang cukup ramai, di dalamnya ada banyak menu makanan yang bisa di pilih dan Hasan menjatuhkan pilihannya pada menu ketan duren beserta nasi pecel khas daerah rumah Umik.
"Syei'!" panggil Hasan yang baru saja sampai di kamar dengan dua kantong plastik penuh berisi makanan dan teh hangat juga susu sapi di tangannya.
Tak ada sahutan sedikitpun saat Hasan memanggil sang istri, Hasan juga tak melihat Arum di atas tempat tidur seketika rasa panik menjalar di tubuhnya, dengan langkah lebar Hasan berjalan mencari Arum di setiap sudut kamar tapi nihil tak ada Arum di sana, hingga tempat terkahir yaitu balkon.
Hasan mendengus kesal melihat sang istri sedang asyik mendengarkan lagu dengan earphone yang bertengger indah di telinganya, Arum memejamkan mata menikmati sinar mentari pagi yang mulai terasa hangat dengan tidur kursi santai yang panjang seukuran badan Arum.
__ADS_1
"Syei'!" sekali lagi Hasan memanggil Arum tapi kali ini panggilan Hasan di barengi dengan colekan di bahu.
"Eh, Abi," ucap Arum tanpa rasa bersalah sedikitpun karena dia memang tidak tahu jika Hasan sang suami mencarinya sejak tadi.
"Kamu ngapain di sini Syei'?" tanya Hasan sambil duduk di dekat Arum.
"Aku lagi nikmati suasana pagi dan sinar mentari Bi, ada apa?" tanya Arum polos.
"Sudahlah, ini aku belikan makanan lengkap dengan susu sapi kesukaanmu." Hasan menyodorkan dua kantong plastik ke arah Arum.
"Waah Abi bawa makanan apa ini?" sambut Arum mengambil alih kantong plastik yang di sodorkan oleh Hasan.
"Ini apa Bi?" tanya Arum yang merasa asing dengan makanan yang dia keluarkan.
"Itu ketan duren, coba saja dulu!" jawab Hasan mengambilkan ketan duren dan menyuapinya.
"Ayo buka mulut! aaaa," Hasan memberikan satu bungkus ketan duren dan mendekatkannya ke mulut Arum.
"Mmmmm, enak banget Bi, sini aku makan sendiri Bi." Arum mengambil alih ketan duren yang ada di tangan Hasan dengan penuh semangat kemudian melahapnyahingga tandas tak tersisa.
"Kamu lapar atau makanannya memang enak Syei'?" tanya Hasan dengan ekspresi wajah bingung melihat Arum memakan ketan duren dengan lahap.
"Dua-duanya Bi, ini enak banget loh, Abi beli di mana?" tanya Arum dengan mulut yang masih terisi penuh oleh ketan duren.
"Kalau enak habiskan saja!" jawaban yang tak di harapkan oleh Arum muncul dari bibir Hasan.
__ADS_1
"Abi, buka mulutnya!" kini giliran Arum yang menyuapi Hasan yang sejak tadi hanya diam menatapnya.