Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ilzham Tak Bisa Jauh Dari Uqi


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan hanya ber 'O' riya mendengar jawaban dari Ibu Desy.


"Jadi sekarang kita resmi menjadi calin besan?" tanya Arif memecahkan keheningan yang baru saja tercipta.


"Iya," Jawaban singkat Ayah Desy terdengar.


"Semoga saja tidak hanya menjadi calon, tapi akan terwujud tanpa ada halangan apapun," sahut Imah yang sejak tadi terdiam memperhatikan interaksi yang terjadi.


"Amin," semua orang yang ada di ruang tamu ikut mengamini do'a yang telah di panjatkan oleh Imah.


Awalnya memang terasa begitu canggung hingga lama kelamaan keakraban itu munculdengan sendirinya, keramahan pemilik rumah di tambah kerendahan hati Umik dan keluarga mampu mengikis rasa canggung yang biasa di temui saat pertama kali bertemu.


"Pak Sulaiman, anak saya Huda lusa akan kembali ke Australia untuk melanjutkan beasiswanya, tapi sebelum itu dia ingin memberikan sesuatu sebagai tanda jika Desy sudah resmi menjadi calon istrinya," ujar Arif.


"Tanda bagaimana maksudnya? saya tidak mengerti," respon Ayah Desy.


"Begini Pak, ini ada cincin tolong di berikan ke Desy tapi saya mohon jangan beri tahu apa maksud dan dari siapa cincin ini, dan selama Desy di pesantren saya yang akan menanggung biayanya sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap Desy yang menjadi calon istri saya, tolong Bapak jangan tersinggung dengan apa yang saya ucapkan barusan, sungguh saya hanya ingin menjadi calon suami dan calon menantu yang baik, jika ada yang tidak berkenan mohon maaf," Huda menjelaskan sejelas-jelasnya maksud datu ucapan sang Ayah.


"Apa Pak Sulaiman setuju dengan apa yang di pinta putera saya?" kini Arif yang mulai membuka suara.


"Jika itu yang terbaik saya terima-terima saja, tapi apa boleh saya tahu tepatnya kapan Nak Huda kembali, saya juga tidak ingin menunggu yang tidak pasti," tegas Ayah Desy.


"Sebenarnya saya hanya butuh waktu sepuluh bulan lagi untuk lulus, jadi di bulan ke sebelas tepat satu bulan setelah kepulangan saya akan menyiapkan segalanya tanggal serta resepsi pernikahannya. Menurut Bapak bagaimana? apa rencana saya ini baik atau tidak?" Huda kembali menjelaskan rencana yang ada di kepalanya.


"Baiklah saya setuju dengan rencana yang kamu buat," jawaban yang sungguh memvuat Huda dan yang lain setuju.


"Bapak ini nomor ponsel saya, jika ada apa-apa jangan sungkan anggap saja saya sama seperti Desy, anggap saya seperti putera bapak juga," Huda mengeluarkan kartu nama yang ada di dompetnya dan memberikan pada Pak Sulaiman.


"Jika seperti itu kamu bisa memanggilku Ayah, sama seperti Desy," ujar Pak Sulaiman.

__ADS_1


"Baiklah, Ayah," jawab Huda dengan senyum yang mereka dan mat berbinar karena bahagia mendengar jawaban sang calon mertua.


Kedua keluarga terus berbincang hingga malam semakin larut, Umik dan keluarga termasuk Huda memutuskan untuk berpamitan pulang karena mereka sudah cukup lelah dengan aktifitas hari ini.


Drrrtttrrtt ... drrrddttt ... ddddrrttt ....


Sudah kesekian kali ponsel Umik bergetar menandakan sebuah panggilan masuk.


"Assalamualaikum, ada apa, Bi?" ucap Umik sesaat setelah mengangkat telfon yang ternyata dari Abi Ilzham sang suami.


"Kamu ke mana saja Umik? sejak tadi Abi menunggu Umik di rumah Ayah dan Ibu tapi Umik tidak pulang-pulang." Jawaban Abi cukup membuat Umik terkejut, menunggu di rumah Ayah dan Ibu, apa itu artinya Abi Ilzham menyusulnya.


"Apa Abi nyusulin Umik?" tanya Umik.


"Iya, Abi nyusul Umik," sungguh jawaban yang begitu mengejutkan, bagaimana bisa Abi Ilzham meninggalkan rumah Ummah untuk menyusul Umik.


"Abi nyusul Umik setelah acara tahlil, dan sekarang di sana ada Hasan sama istrinya juga ada Husein, jadi kamu tidak usah khawatir." Lagi-lagi Abi Ilzham bertindak seenaknya, tapi Umik tak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya.


"Umik baru saja pulang Bi, sebentar lagi pasti nyampek, Abi tunggu saja." Ujar Umik.


"Baiklah, hati-hati di jalan!" sahut Abi Ilzham kemudiam menutup sambungan telfonnya.


"Tadi Abi Ilzham ya yang telfon Umik?" tebak Huda yang sejak tadi diam memperhatikan sang Umik yang duduk di sampingnya.


"Kamu bener Huda, tadi Abi yang telfon," jawab Umik dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Biar Kakak tebak, suami bucinmu itu pasti sudah ada di rumah nungguin kamu pulang," tebak Arif yang ternyata juga memperhatikan sang Adik.


"Kakak kok bisa tahu?" tanya Umik heran.

__ADS_1


"Sudah bukan rahasia lagi Dek, Ilzham gak bakal bisa tidur kalau gak ada kamu, lagi pula kejadian seperti ini bukan pertama kalinya bukan," jawab Arif.


Ilzham memang sering sekali nyusulin Uqi saat dia izin menginap di rumah sang Ibu, dulu bahkan Ilzham pernah ninggalin jadwal pengajiannya demi nyusulin Uqi menginap di rumah Ibu.


Ilzham juga pernah membawa Uqi yang sedang hamil ke luar kota dengan segala persiapan yang bisa membuat kepala pusing, bagaimana tidak Ilzham sampai mencari dokter kandungan yang terbaik di luar kpta untuk bersiap-siap dua puluh empat jam jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada Uqi yang terpaksa ikut keluar kota untuk menemani Ilzham mengurus masalah yang terjadi di sana.


"Apa kamu masih ingat dengan segala hal yang suami kamu lakuin biar bisa terus berada di dekatmu?" sambung Arif.


"Aku masih ingat kak, Abi Ilzham memang seperti itu," jawab Uqi.


"Itu tandanya suamimu sangat menyayangimu Dek, dan kamu patut bersyukur karenanya," sahut Imah yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kini mulai berkomentar.


"Kak Imah benar, Abi Ilzham memang anugerah terindah yang tuhan berikan untukku, dan aku bersyukur karenanya," ucap Umik.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang hingga mereka sampai di halaman rumah orang tua mereka, rumah yang masih terlihat sederhana meski kini sedikit lebih luas karena perbaikan yang sempat di lakukan oleh Arif tapi tak mengubah model rumahnya hanya bertambah panjang ke belakang.


"Alhamdulillah sampai juga," lirih Umik turun dari dalam mobil, dan Abi Ilzham adalah orang pertama yang Umim lihat, Ilzham memang sengaja menunggu Uqi di teras dengan secangkir kopi dan gorengan yang sempat di berikan oleb Ibu Uqi.


Sebenarnya Ibu Uqi sudah menyuruh Ilzham menunggu di dalam rumah, tapi dengan tegas dan lembut Ilzham menolaknya.


"Abi kenapa berada di luar?" Umik langsung bertanya sambil menghampiri Ilzham yang terlihat santai menikmati suasana di luar rumah.


"Aku nungguin kamu sambil nikmati suasana di luar yang ternyata menyenangkan juga," jawab Ilzham masih dengan gaya santainya, padahal sebenarnya sejak tadi Ilzham sangat khawatir bercampur gelisah menunggu Umik pulang.


"Kamu sudah lama nunggu di sini, Dek?" tanya Arif saat berada tepat di dekat Ilzham dan Uqi.


"Lumayan kak, bagaimana pinangannya? apa sukses?" kini giliran Ilzham yang bertanya.


"Alhamdulillah sukses," jawab Arif singkat.

__ADS_1


__ADS_2