
"Dek!" panggil Husein.
"Ada apa Mas?" sahut Zahra meletakkan kembali mukenah dan sajadah yang baru saja dia pakai.
"Malam ini kita di kamar aja ya," pinta Husein.
"Di kamar aja? maksudnya bagaimana Mas?" Zahra kembali bertanya, menatap heran ke arah Husein yang kini tersenyum mesum.
'Grep'
"Malam ini aku ingin menghabiskan waktu hanya bersamamu, Dek," bisik Husein tepat di telinga Zahra membuat sang empu merasa geli.
Zahra yang kini mengerti maksud dari ucapan Husein sang suami hanya bisa diam dengan kepala menunduk malu, mendapat pelukan dari belakang oleh sang suami membuat tubuh Zahra menegang.
"Kita lanjutin yang kemarin ya, Dek," Husein kembali berbisik dan Zahra yang mengerti akan kewajibannya hanya mengangguk sebagai jawaban jika dia menyetujui apa yang di minta oleh Husein.
Tanpa ba bi bu Husein langsung melancarkan aksinya setelah mendapat persetujuan dari Zahra, dan malam ini adalah malam yang begitu indah bagi Husein, sang junior yang sejak kemarin tak dapat menuntaskan hasratnya kini telah terpuaskan, begitu juga dengan Zahra, tak ada lagi rengekan rasa sakit yang ada hanya suara desa**n yang terdengar begitu indah keluar dari bibir Zahra.
Meski malam ini tak ada bintang ataupun bulan yang bersinar menghiasi langit tapi tetap saja terasa begitu indah bagi kedua sejoli yang sedang memadu kasih.
Apa yang di alami oleh Husein jauh berbeda dengan apa yang di alami oleh Hasan, si kembar yang malam ini mendapatkan nasib yang berbeda. Jika Husein dapat menuntaskan apa yang belum bisa di tuntaskan sejak kemarin, maka berbeda dengan Hasan yang harus menahan hasratnya malam ini.
"Abi, bagaimana kalau yang ini? cocok atau tidak?" entah sudah ke berapa kalinya Arum mengganti pakaiannya, sejak tadi Arum mencoba seluruh baju yang dia beli tadi siang. Bukan itu saja Arum juga sedikit memaksa Hasan untuk mencoba baju baru yang dia belikan untuknya.
__ADS_1
"Mau pakai apapun kamu akan tetap terlihat cantuk Syei'," jawab Hasan.
"Abi juga, mau pakai apapun tetap terlihat tampan," sahut Arum.
"Syei', apa kamu tidak mau tidur? atau hanya beristirahat di sampingku?" tanya Hasan menatap heran sang istri, bukannya segera tidur Arum kini malah membuka jendela kamar menatap pemandangan kota jogja dari dalam kamar.
Aku masih belum mengantuk Bi, kalau Abi mau tidur duluan gak apa-apa kok, tidur saja dulu! aku masih mau menikmati pemandangan indah ini," jawaban yang cukup membuat Hasan kecewa.
Arum begitu tak peka malam ini, bukannua dia mengerti jika Hasan ingin menanam benih unggul yang dia miliki agar tumbuh menjadi Hasan junior atau Arum junior yang begitu tampan dan cantik. Tapi Arum malah mengambil ponsel dan melakukan video call dengan sang Kakak, memamerkan jika dirinya kini tengah berlibur di jogja.
Hasan menarik nafas sedalam-dalamnya kemudian menghembuskannya perlahan mencoba mengikhlaskan segalanya dan menerima jika malam ini tak ada jatah cinta untuknya. Hasan langsung merebahkan diri dan mulai memejamkan mata mengalihkan fikirannya dari Arum agar dia bisa tidur dengan nyenyak meski jatah cintanya malam ini gagal.
'Besok pagi, akan ku buat kamu gak bisa jalan seharian,' batin Hasan sebelum dia terlelap jauh dalam mimpi yang penuh fatamorgana.
Jika Hasan telah tertidur begitu lelap, maka berbeda dengan Arum yang kini batu saja selesai melakukan video call bersama dengan Steve sang Kakak.
Sebenarnya malam ini Arum ingin memberi kejutan pada Hasan, tafi siang dia membeli baju dinas malam yang terlihat begitu indah dan menghabiskan malam bersama dengan Hasan, tapi mengobrol dengan Steve membuat Arum lupa waktu, dia menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol.
"Meski kejutannya gagal tidak masalah, aku akan tetap memakai baju yang sudah ku beli tadi malam ini," gumam Arum sambil mengambil satu set baju dinas yang dia simpan di dalam lemari.
"Bagus juga," sambung Arum seraya berputar di depan cermin, kini Arum memakai baju dinas malam berwarna merah muda terang, baju dinas yang begitu tipis dan yang pasti Hasan akan terkejut saat melihatnya.
"Abi pasti akan sangat terkejut jika melihat aku memakai baju ini besok pagi," lirih Arum beranjak pergi naik ke atas kasur dan bergabung dengan Hasan.
__ADS_1
Waktu di malam hari akan terasa begitu singkat bagi mereka yang terlelap dalam dunia mimpi yang di penuhi fatamorgana, keindahan bersifat sementara yang terlihat begitu nyata, membuai siapapun yang sedang mengalaminya, begitu pula dengan Hasan, kali ini dia bermimpi dengan mimpi indah, menghabiskan malam bersama Arum sang istri. Seperti itulah mimpi, terkadang apa yang kita fikirkan sebelum tidur terbawa ke dunia mimpi dan kali ini Hasan pun mengalaminya, dia tengah berkelana di dunia mimpi menghabiskan malam bersama Arum sang istri. Menanam benih bibit unggul dalam ladang milik istrinya, semuanya tampak begitu nyata hingga suara Arum terdengar.
"Abi, bangun!" arum mencoba membangunkan sang suami yang sejak tadi terlihat begitu lelap dalam mimpinya.
"Mmmm," Hasan hanya bergumam sambil menggeliat merasa ada yang mengganggu tidurnya.
"Abi, ayo bangun! sudah subuh," Arum menaikkan satu oktaf suaranya dan mengguncang sedikit lebih keras bahu Hasan agar dia segera bangun.
Hasan yang merasa mimpinya mulai menghilang dan dia mulai terbangun sedikit membuka mata, sungguh pemandangan indah di pagi hari, mata Hasan seketika melebar saat melihat lipatan dua gunung kembar terpampang nyata di hadapannya, bagaimana tidak terlihat jika Arum sedikut menundukkan badan dengan baju dinas malam yang memang sengaja belum dia ganti untuk mengejutkan Hasan.
'Grep'
Tanpa basa basi Hasan langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya menikmati gunung kembar yang kini mendarat indah di atas dadanya.
"Masih subuh kamu sudah menggodaku Syei'," bisik Hasan tepat di telinga Arum
"Siapa juga yang mau menggodamu Bi? aku hanya ingin membangunkanmu saja," sahut Arum dengan ekspresi biasa saja.
"Sejak kapan kamu punya baju seperti ini?" tanya Hasan dengan tangan yang sudah bertamasya ke segala arah.
"Sejak kemarin, kenapa memang? Abi tidak suka?" sahut Arum sedikit menjauhkan badannya dari diri Hasan menyangga badannya sendiri dengan kedua tangannya, kini posisi Arum seperti mengukung Hasan membuat Hasan semakin bergairah.
Tatapan Hasan lurus mengarah ke gunung kembar yang kin semakin jelas terlihat menggantung di atasnya membuat Hasan tak lagi bisa berbicara, dia langsung membalikkan badan merubah posisi agar Arum berada di bawahnya.
__ADS_1
"Abi stop! jangan di terusin!" cegah Arum menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang sang suami.
"Kenapa Syei'?" tanya Hasan yang langsung mematung di atas Arum menatap aneh ke arah istrinya yang tiba-tiba menghentikannya dengan dahi mengkerut Hasan bertanya.