
"Abi, besok kita bawa apa saja?" tanya Arum.
Saat ini Arum sedang mengemas barang yang akan mereka bawa besok ke dalam koper. Arum terlihat begitu bersemangat mempersiapkan segalanya, dua koper telah tertata rapi di hadapannya dan sudah siap untuk di isi.
"Sini, biar Abi bantuin!" Hasan berjalan mendekat ke arah Arum yang tengah duduk lesehan di depan lemari dengan dua koper cukup besar di sampingnya.
Hasan mengambil beberapa baju dan dua setel baju kantor yang akan dia pakai. Dan Hasan mengambil tiga baju dinas malam milik sang istri dan memasukkannya ke dalam koper yang berbeda.
"Loh Abi, kenapa bawa baju dinas sebanyak itu?" tanya Arum merasa aneh dengan baju dinas yang Hasan masukkan ke dalam kopernya.
"Bukankah tujuan kita ke Jogja untuk bulan madu, apa salahnya jika kamu bawa baju dinas lebih dari satu," jawab Hasan enteng dan seenaknya sendiri.
"Ya ampun Abi, aku juga ingin jalan-jalan bukan cuma dinas di atas ranjang saja," keluh Arum.
"Iya, nanti di sana kita pasti jalan-jalan. Tapi setelah kamu menunaikan tugas dinas yang aku berikan," Hasan berucap sambil tersenyum menggoda Hasan.
"Dasar mesum! fikiran Abi gak pernah jauh dari ranjang," seru Arum menepuk pelan lengan sang suami yang justru semakin tertawa karenanya.
"Semua itu juga gara-gara kamu Syei'," ujar Hasan menyalahkan Arum.
"Kok gara-gara aku sih, Bi?" Arum justru bingung dengan ucapan Hasan.
"Gara-gara kamu, siapa suruh bikin aku kecanduan jadi pengen ngulang terus," jawab Hasan.
"Ishhh, bukan aku yang bikin Abi kecanduan tapi emang dasar Abinya sendiri yang doyan," sarkas Arum.
"Ngomongin candu Abi kadi pengen Syei'," ucap Hasan seraya menaik turunkan alisnya menggoda Arum.
"Bi, kita sedang nyiapin barang buat besok. Kalau Abi main sekarang semua ini gak bakal selesai," keluh Arum yang kini sangat mengerti dengan watak sang suami yang tidak pernah puas dengan satu kali permainan.
Ting ... tong ... ting ... tong ....
Suara bel rumah menyita perhatian dua sejoli yang tengah asyik mengemas baju dan beberapa barang yang akan mereka bawa besok.
"Bi, ada tamu, tapi kok tumben ya mencet bel segala?" tanya Arum saat mendengar bel rumah di pencet.
__ADS_1
Biasanya hanya tamu jauh atau orang kantor yang membunyikan bel rumah, tapi kalau keluarga atau kerabat dekat mereka lebih sering mengetuk pintu.
"Biar Abi yang bukain. Kamu lanjutin aja berkemasnya!" titah Hasan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Arum yang masih melanjutkan mengemas baju setelah melihat Arum mengangguk sebagai jawaban.
'Ceklek'
"Assalamualaikum, Kak," suara Husein terdengar begitu renyah dan bersemangat, dia sedang berdiri dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Waalaikum salam, Husein, masuklah!" sahut Hasan.
"Ini aku aja yang di suruh masuk? apa bidadariku gak di suruh masuk juga?" celetuk Husein membuat Zahra tertunduk malu mendengar Husein memanggilnya bidadari.
"Zahra, masuklah!" ucap Hasan sembari membuka lebar pintu ruang tamu agar kedua tamunya bisa masuk.
"Kalian duduk dulu! biar aku panggilkan Arum." Sambung Hasan berjalan masuk ke dalam kamar memberitahu jika Husein datang berkunjung bersama sang istri.
"Syei'!" panggil Hasan.
"Iya, Bi, ada apa?" sahut Arum sejenak menghentikan kegiatannya memasukkan baju ke dalam koper dan mengalihkan pandangannya ke arah Hasan berdiri.
"Di ruang tamu ada Husein dan istrinya, temui mereka dulu baru lanjutin berkemas!" jawab Hasan.
"Abi temani mereka dulu! aku mau menyiapkan minum dan cemilan untuk mereka." Pesan Arum berjalan berbelok menuju dapur.
"Kalau begitu Abi tunggu di ruang tamu." Jawab Hasan melenggang pergi menuju ruang tamu.
"Loh, Kakak Ipar ke mana Kak? kok gak ikut juga," tanya Husein merasa aneh karena sang Kakak keluar seorang diri.
"Dia sedang buatin minum, bentar lagi juga nyusul." Jawab Hasan dengan wajah datar.
Hasan memang selalu bersikap dingin pada siapapun, tapi akan sangat manja dan banyak bicara jika bersama dengan Arum.
"Wahhh pengantin baru, ayo silahkan di minum dulu!" ucap Arum meletakkan dua gelas es teh dan dua cangkir kopi lengkap dengan dua toples camilan.
"Kalian juga masih pengantin baru," sahut Husein.
__ADS_1
"Baru apa Husein? kita sudah cukup lama menikah yang baru itu kalian." Arum menanggapi ucapan Husein
"Baru bisa bulan madu," jawab Husein.
"Bulan madu? kamu tahu dari mana?" tanya Arum merasa aneh dengan ucapan Husein.
"Garing kau, Dek," berbeda dengan Arum, Hasan justru tak terlalu menanggapi ucapan Husein.
"Aku baru aja di kasih tahu sama Kak Hasan, makanya aku main ke sini, mau ngajak bareng," jawab Husein sedang Zahra hanya diam tak berbicara, maklum anggota baru, dia hanya diam mendengarkan percakapan suami dan kakaknya.
"Bareng bagaimana maksudmu, Dek?" kali ini Hasan yang bertanya, dia begitu antusias saat mendengar kata bulan madu.
"Aku juga. mau bulan madu Kak, bagaimana kalau ke Jogjanya kita bareng?" usul Husein.
"Kamu bilang gak bisa berangkat ke sana, kenapa sekarang tiba-tiba mau berangkat?" Hasan kembali bertanya karena merasa aneh dengan adeknya itu. Sebelumnya Husein menolak keras pekerjaan di Jogja dengan alasan ingin menikmati masa-masa jadi pengantin baru, tapi sekarang dia malah datang dan ngajak bareng.
"Aku bilang gak bisa ngurusi kerjaan di sana Kak, bukan gak bisa datang ke sana," Husein menjelaskan maksud dari ucapannya.
"Maksudnya apa, Dek?" tanya Hasan yang belum mengerti dengan ucapan Husein.
"Aku ke sana cuma mau honey moon Kak, bukan mau ngurusi kerjaan," jelas Husein sukses membuat Hasan terkejut.
"Enak banget kamu, Dek, aku yang kerja kamu yang honey moon." Sarkas Hasan.
"Ayolah Kak, sekali ini aja," sahut Husein dengan ekspresi wajah memelas.
"Enggak! enak aja, kamu fikir cuma kamu aja yang mau honey moon," debat Husein.
"Sudah jangan berdebat! bagaimana kalau Abi dan Husein ngurusi kerjaan bareng biar cepet selesai. Biar aku dan Eh tunggu! aku belum berkenalan secara resmi sama istri Husein," ujar Arum.
"Kenalin aku Arum," Arum mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Sejak pertama Husein bertemu dengan Zahra hingga keduanya resmi menjadi suami istri Arum tidak pernah berkenalan ataupun banyak berbincang dengan Zahra.
"Aku Zahra Kak," sahut Zahra sambil menjabat tangan Arum yang menggantung di hadapannya.
__ADS_1
"Bagaimana Bi, Husein, apa kalian setuju dengan usulanku?" tanya Arum.
Hasan dan Husein sama-sama terdiam tanpa ada yang berbicara satu patah katapun, hanya kesunyian yang tercipta tak ada yang menjawab, keduanya terlihat masih berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Arum.