Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Makan Sore Bareng Desy


__ADS_3

Dengan langkh lebar Huda beranjak dari tempatnya berdiri melenggang pergi meninggalkan kamar menuju halaman pesantren mencari motor yang biasa terparkir di pojok halaman pesantren.


'Tumben motornya gak ada,' batin Huda saat melihat motor matic yang di sediakan Umik untuk keperluan pesantren kini tidak lagi di tempatnya begitu pula dengan kontak motor yang biasanya tergantung cantik di tembok tepat di samping motor terparkir juga tak ada, keadaan seperti ini sukses membuat Huda kebingungan.


"Kenapa hari ini ada banyak rintangan untuk makan bareng Desy?" gumam Huda.


Tapi Huda tetaplah Huda, dia termasuk orang yang pantang menyerah dan akan terus berusaha demi sesuatu yang dia inginkan. Huda yang tak kehabisan akal langsung menyalakan ponselnya dan melihat aplikasi penjual makanan yang siap untuk di antar ke rumah lewat gojek.


Tangan Huda berselancar indah di atas layar ponsel yang tengah menyala. Melihat satu persatu makanan yang tersedia di sana dan pilihan Huda jatuh pada menu masakan padang yang terlihat begitu menggiurkan.


Menu makanan sudah di temukan dan sudah di pesan, sekarang tinggal menunggu dan bersiap untuk menunggu makanan datang. Huda berjalan masuk ke dalam kamar membersihkan diri dan bersiap bertemu Desy gadis pujaan hatinya.


"Alhamdulillah sudah siap, sekarang tinggal nunggu makanannya dateng," gumam Husein sambil duduk di atas kursi yang ada si sudur ruangan menatap jam tangan yang sudah menunjukkan setengah empat sore.


Sepuluh menit kemudian makanan yang di pesan oleh Huda telah datang dan dengan langkah lebar Huda pergi meninggalkan kamar menuju tempat yang sudah dia sepakati bersama Desy.


Dari kejauhan terlihat Desy sedang mengangkat jemuran seperti yang biasa dia lakukan, dan Huda yang sudah beberapa kali bertemu. Desy di halaman belakang sudah sangat mengerti jika jam setengah empat adalah waktu untuk Desy mengangkat baju-baju milik keluarga Umik.


"Ngangkat jemurannya di lanjut nanti saja, lebih baik sekarang kita makan dulu." Suara yang kini sudah sangat di hafal oleh Desy terdengar di telinganya, suara laki-laki yang perlahan masuk ke dalam relung hatinya sejak awal mereka bertemu, tapi rasa malu dan minder membentengi diri Desy untuk rusak tidak jatuh terlalu dalam sebelum Desy memastikan jika Huda dan keluarganya mau menerimanya apa adanya.


"Mas Huda," sahut Desy menoleh ke ke arah Huda yang kini berjalan menuju sepasang kursi dan satu meja bundar yang biasa di pakai Huda saat mereka makan bersama.

__ADS_1


"Sudah waktunya makan, tinggal dulu jemurannya." Titah Huda yang langsung di turuti oleh Desy.


"Mas Huda apa tidak akan jadi masalah jika setiap hari kita makan bersama seperti ini?" tanya Desy dengan ekspresi penuh kekhawatiran.


Sebenarnya Desy merasa senang jika di ajak makan seperti sekarang apalagi setiap hari, lumayan untuk menghemat biaya di pesantren, tapi di sisi lain Desy merasa takut jika apa yang terjadi saat ini akan menimbulkan masalah.


"Memangnya masalah apa yang akan terjadi jika kita makan bersama seperti ini?" bukannya menjawab Huda malah balik bertanya.


"Aku cuma takut jika ada santri yang tahu dan tersebar gosip yang tidak-tidak," jawab Desy mengungkapkan seluruh kekhawatiran yang ada dalam hatinya.


Bukannya ikut khawatir Huda justru tersenyum lucu ke arah Desy, saat ini Desy benar-benar terlihat lucu di mata Huda.


"Mas Huda kok malah ketawa sih," keluh Desy merasa sedikit jengkel dengan senyum yang muncul di bibir Huda.


"Aku sedang khawatir Mas Huda, bukan sedang melawak," ketus Desy, kali ini dia merasa jengkel dengan apa yang di ucapkan oleh Huda.


"Jangan tersinggung, aku merasa jika kamu ini lucu karena sebenarnya tak akan ada yang tahu jika kita sering makan bersama seperti ini jika kamu ataupun aku tidak menceritakan pada orang lain," Huda menjelaskan alasan dirinya yang menganggap jika kekhawatiran yang di rasakan Desy terlihat lucu.


"Mas Huda enak tak ada yang tanya, kalau aku kan beda," Desy masih belum puas mengutarakan segala yang ada dalam hatinya.


"Tanya seperti apa maksudnya?" Huda tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Desy.

__ADS_1


"Mas Huda tinggal di asrama atau kamar yang terpisah dari yang lain, sedang aku santri biasa yang tinggal bersama santri yang lain. Otomatis ada banyak pertanyaan yang muncul dari teman sekamarku ketika aku yang biasanya makan bersama mereka kini sama sekali tak terlihat ke kantin, apalagi Shinta sahabatku sudah dua kali dia bertanya tentang alasanku yang tak pernah makan bersama dengannya lagi," Desy menceritakan kesulitan yang dia rasakan sejak Huda mengajaknya makan bersama. Huda yang mendengar cerita Desy kini mulai memikirkan alasan yang tepat untuk Desy agar sahabatnya itu tak curiga juga tak bertanya lagi.


"Kenapa kamu harus bingung Desy? kamu tinggal bilang saja kalau Kamu dapat jatah makan dari keluarga Umik di rumahnya mudah bukan," ujar Huda memberi solusi untuk masalah yang di alami oleh Desy.


"Aku takut dosa jika berbohong Mas Huda, dan lidahku pasti akan keluh saat mengatakan sebuah kebohongan," sahut Desy.


"Kamu tak sepenuhnya berbohong Desy, karena apa yang kamu katakan ada benarnya," Huda mencoba meyakinkan Desy jika apa yang dia ajarkan bukanlah sebuah kebohongan.


"Maksud Mas Huda apa?" tanya Desy yang bingung dengan apa yang di katakan oleh Huda.


"Bukankah aku juga termasuk keluarga Umik, dan kamu mendapat makanan dariku di rumah Umik juga, jadi kamu tidak berbohong pada sahabatmu hanya saja kamu tak menceritakan secara detail keluarga Umik yang mana yang memberimu jatah makanan," Huda kembali menjelaskan jika alasan yang dia sarankan tak sepenuhnya bohong.


"Mas Huda bener juga," lirih Desy yang merasa jika ucapan Huda ada benarnya juga.


"Sudahlah jangan di fikirkan lagi, kita makan saja!" Huda memberikan satu bungkus nasi padang yang tadi dia bawa ke arah Desy.


"Mas Huda, apa aku tidak merepotkan jika kita makan bersama seperti ini?" Desy kembali bertanya, perasaannya tiba-tiba tak enak.


"Sudah jangan memikirkan hal yang tidak-tidak! kamu makan saja apa yang ada soal yang lain serahkan padaku!" jawab Huda yang kini membuka bungkusan nasi yang tadi dia bawa dan mulai memakannya.


Keduanya makan dengan nikmatnya di temani suasana sore hari yang terasa begitu syahdu, sungguh kenangan yang tak akan pernah di lupakan oleh keduanya dan akan Huda bawa saat nanti waktunya telah tiba.

__ADS_1


"Minumlah!" Huda menyodorkan satu botol air mineral ke arah Desy dan di terima dengan senang hati oleh Desy.


__ADS_2