Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kedatangan Umik Dan Keluarga Huda


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Umik lembut.


Uqi yang dulu kini jauh berbeda dengan Uqi yang saat ini berdiri di depan pintu, jika dulu Uqi gemar sekali berteriak kini suaranya merdu dan lembut selembut sutra.


"Waalaikum salam," sahut Ibu Uqi.


"Masya allah, anakku Ibu sangat merindukanmu," sambungnya sambil memeluk sang putri. cukup lama Uqi yang kini akrab di panggil Umik tidak bisa mengunjungi sang Ibu dan Ayah. Bukan karena dia tak mau hanya saja Umik terlalu sibuk mengurusi pesantren yang kini di pasrahkan padanya dan suami.


"Uqi juga kangen sama Ibu, bagaimana kabar Ibu? kata Kak Arif Ibu tidak enak badan," ucap Uqi berjalan beriringan menuju ruang tamu.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Nak, apalagi bisa bertemu denganmu rasanya Ibu langsung sehat," jawab Ibu Uqi.


"Maafkan aku Bu," lirih Umik dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Maaf untuk apa, Nak?" sahut Ibu yang bingung dengan permintaan maaf Umik padanya.


Selama ini Umik hanya bisa mengutus orang untuk menengok keadaan orang tuanya, dan memberikan beberapa barang yang di perlukan mereka tak lupa juga Umik selalu mengirim jatah berupa uang untuk kedua orang tuanya, sedangkan dirinya sendiri hanya busa berkunjung sesekali entah itu satu bulan sekali atau bisa beberapa kali tergantung dengan keadaan yang terjadi di pesantren, begitu pula dengan Hasan dan Husein mereka selalu menyempatkan mampir meski sedang sibuk.


"Maaf jika Uqi tidak bisa sering-sering menjenguk Ibu," lirih Uqi menampakkan wajah penuh penyesalan ke arah sang Ibu.


"Sudah, jangan meminta maaf! Ibu mengerti posisi dan keadaanmu sekarang, Ibu hanya bisa berdo'a semoga kamu selalu sehat dan bahagia," Ibu Uqi mencoba membesarkan hati sang anak, betapapun rindunya dia pada Uqi tapi sekarang semua berbeda, Uqi sudah punya tanggung jawab sendiri untuk mengurus rumah tangganya dan pesantren yang di percayakan mertuanya.


"Terima kasih sudah mau mengerti Bu," ucap Uqi sambil memeluk sang Ibu mencoba menyalurkan segala perasaan yang tumbuh di hatinya.


"Kenapa kalian pelukan sendiri tidak ajak-ajak?" seloroh Arif yang baru saja sampai di ruang tamu.


"Diem kau Kak! gak tahu apa aku masih rindu sama Ibu," Umik semakin mempererat pelukannya sambil menyandarkan kepala di bahu sang Ibu.


"Ayah apa kita jadi berangkat sekarang?" suara Huda mengejutkan Umik yang sedang asyik bermanja ria di bahu sang Ibu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kamu ngagetin aja Huda," cicit Umik melepas pelukannya dan mulai duduk dengan tegas, meski bagaimanapun terkadang seseorang yang sudah dewasa juga membutuhkan bahu untuk bersandar dan tubuh untuk di peluk, merindukan kasih sayang di masa kecil juga hal yang wajar terjadi pada setiap manusia.


"Jadi, apa kamu sudah tahu alamatnya?" tanya Arif pada sang putera yang hari ini terlihat begitu berbinar.


"Saya sudah tahu alamatnya Ayah, kita tinggal berangkat saja." Jawaban Huda membuat Arif tersenyum lebar, puteranya benar-bebar pejuang cinta yang berjuang dengan sungguh-sungguh.


"Bagaimana Yah? jadi berangkat sekarang?" kali ini Imah yang baru datang mulai menyahut.


"Jadi, ini kita mau berangkat." Jawab Arif masih dengan senyum bahagianya.


"Bagaimana kalau kita langsung berangkat saja? sebelum kemaleman." Usul Umik berdiri memberitahukan jika saat ini dirinya sudah siap untuk berangkat.


"Kita berangkat dulu Bu, minta do'anya," pamit Arif meraih tangan sang Ibu di ikuti Uqi dan Huda melakukan hal yang sama.


"Hati-hati!" jawaban singkat sang Ibu.


Huda berangkat ke rumah Desy bersama dengan kedua irang tuanya dan juga Uqi, farmasi yang cukup lengkap untuk membicarakan hal baik. Rumah Desy ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Nenek Huda, untuk sampai di rumah Desy hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.


"Apa ini rumahnya?" tanya Arif seolah tak percaya dengan pilihan sang putera.


"Benar Ayah," jawab Arif.


Rumah yang terlihat begitu sederhana bahkan ada cat yang mengelupas di sudut tembok dengan halaman yang hanya cukup untuk parkir satu mobil dan satu sepeda motor. Kesan pertama yang membuat hati Arif tersentuh, ternyata anaknya sama sekali tak memandang harta dalam memilih calon istri.


"Tunggu apa lagi? ayo turun!" ajak Umik. Kini Umik terlihat buru-buru ingin segera masuk dan memberi kabar pada penghuni rumah jika dirinya dan rombongan telah datang.


Semua anggota keluarga turun, Imah yang sejak tadi diam kini mulai memperhatikan keadaan sekitar, meski rumahnya sederhana dan tak terlalu luas tapi begitu bersih dan rindang oleh beberapa pohon yang di tanam di depan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Arif mencoba mencari penghuni rumah.

__ADS_1


"Waalaikum salam, maaf ada apa ya?" tanya sang pemilik rumah yang terlihat jelas bingung melihat siapa yang membuka pintu.


"Ini saya dan keluarga Bu," sahut Umik yang sejak tadi berada di belakang punggung Arif.


"Masya allah Umik, maaf saya tidak tahu jika Umik yang datang, silahkan masuk!" ucap pemilik rumah yang tak lain adalah Ibu Desy.


"Tidak apa-apa," sahut Umik berjalan masuk ke dalam rumah Desy.


Di salam rumah hanya ada satu set kursi usang dan mejanya tak ada lagi hiasan lain yang menghiasi dindingnya, lantai rumah Desy juga masih terbuat dari semen tak ada keramik ataupun yang lain.


"Maaf Umik dan yang lain keadaan rumahnya memang berantakan," ucap Ibu Desy.


"Sama saja Bu, tidak perlu berkata seperti itu." Jawab Umik.


"Assalamualaikum, Bu," sapa seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikum salam, masuk Pak!" sahut Ibu mempersilahkan sang suami masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini Bu?" seorang pria paruh baya itu Ayah dari Desy.


"Ini ada Umik dan keluarganya berkunjung, Umik dan yang lain perkenalan ini Ayah Desy," Ibu Desy mencoba mengenalkan suaminya kelada tamu yang lain.


"Perkenalkan Pak, saya Uqi biasa di panggil Umik oleh para santri istri dari Abi Ilzham dan ini Kakak beserta keponakan saya." Umik memperkenalkan Kakaknya pada orang tua Desy.


Ayah Desy memang sudah kenal dengan Umik tapi tidak dengan yang lain, Ayah Desy duduk dengan gusar mendapat tamu seperti Umik dan keluarganya, rasa gugup dan malu terus menyusup ke dalam dirinya, Ayah Desy baru saja pulang dari masjid dengan memaki baju kokoh di badannya.


"Saya Sulaiman Ayahnya Desy, santri dati Umik Uqi," Ayah Desy memperkenalkan diri.


"Maaf sebelumnya ada apa ya? apa putri kami membuat kesalahan?" Ayah Desy kembali bertanya dengan ekspresi khawatir yang terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2