
Ketegangan dan rasa gugup juga menyerang Zahra, bukan hanya Husein yang semalam tidak bisa tidur, Zahra juga merasakan hal yang sama sepertinya. Dia baru bisa memejamkan mata pukul dua dini hari tapi meski begitu tak ada rasa kantuk ataupun lelah menyerang yang ada hanya debaran jantung yang berpacu seperti kuda pacu.
"Zahra, bangun, Nak!" suara sang Mama mengganggu tidur lelap Zahra yang terasa begitu singkat.
"Iya, Ma," sahut Zahra dengan mata yang masih tertutup dia menyahuti panggilan Sang Mama.
"Buka pintunya, Nak!" titah Mama Rina.
"Bentar Ma," sahut Zahra, meski baru terlelap Zahra tetap bangun dan membuka pintu untuk Mama Rina, mengingat hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya membuat rasa kantuk dan lelah yang sempat singgah langsung pergi menghilang entah ke mana.
"Masya allah, kenapa kamu baru bangun, Nak?" tanya Mama Rina merasa aneh melihat Zahra baru bangun dan belum bersiap-siap, padahal acara ijab kabulnya akan di laksanakan pukul delapan pagi. Dan Zahra harus segera bersiap-siap di rias oleh MUA.
"Maaf Ma, Zahra ketiduran," sahut Zahra.
"Sudah jangan di bahas! lebih baik kamu segera ke kamar mandi setelah itu sholat subuh, setengah jam lagi orang yang akan meriasmu datang dan kamu harus siap-siap!" titah Mama Rina.
"Iya, Ma," jawab Zahra.
Sejak kecil Zahra memang pribadi yang lembut dan jarang sekali melawan pada orang tua, dia selalu menurut apa yang di katakan oleh orang tuanya, karena hal itulah Mama Rina begitu menyayangi putrinya.
"Kalau gitu Mamam balik ke depan dulu. Kamu harus segera siap-siap Zahra!" Mama Rina kembali mengingatkan sang Putri yang terkadang memang memiliki sifat teledor. Dan Zahra yanh mendengar perintah dari Mama Rina hanya mengangguk kemudian melangkah menuju kamar mandi dan mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Mama Rina.
Kini Zahra sudah siap tinggal menunggu perias saja, Zahra memang terlihat begitu tenang karena pembawaan dirinya memang kalem, tapi jauh di dalam lubuk hati Zahra sungguh saat ini adalah saat yang paling mendebarkan, bahkan jauh lebih mendebarkan di bandingkan harus menghadapi dosen paling killer di kampusnya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Zahra, dia bangkit dan berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
"Apa Mbak Zahra sudah siap?" tanya sang perias.
"Sudah Mbak," jawab Zahra.
Dengan keahlian yang di miliki sang perias kini Zahra yang dasarnya sudah cantik terlihat jauh lebih cantik. Dia terlihat seperti boneka barbie sangat cantik sempurna.
"Ini kaku Dek?" celetuk Zein yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah semua persiapan di luar selesai.
"Kalau bukan aku siapa lagi Kak?" sahut Zahra.
"Ternyata kalau di dandanin gini kamu kelihatan canti ya Dek," ujar Zein dengan senyum bahagia yang nampak di wajahnya.
"Dari dulu aku sudah cantik kali Kak, cuma Kakak aja yang gak nyadar," Zahra sedikit jengkel dengan sang Kakak yang suka sekali menggodanya.
"Kali ini aku setuju padamu, pantas saja Husein langsung suka pas Kakak kenalin sama kamu," cicit Zein.
"Sebentar lagi acaranya sudah di mulai, apa kamu sudah siap nikah, Dek?" pertanyaan yang sangat terlambat untuk di tanyakan keluar dari bibir Zein.
"Kakak kalau masih ngantuk mending tidur dulu, jangan tanya ke aku." Jawab Zahra sedikut jengkel dengan pertanyaan yang di lontarkan sang Kakak.
"Kok di suruh tidur sih jawabannya?" keluh Zein yang tak mengerti dengan jawaban yang di berikan oleh Zahra.
"Kalau aku gak siap gak mungkin sekarang aku udah di make up kayak gini kak, lagian siap gak siap aku harus siap kalau aku sampai berubah fikiran yang pusing juga Kakak sendiri," jelas Zahra membuat Zein tersenyum lucu mengingat pertanyaannya sungguh tak masuk akal.
"Kamu bener juga Dek, sudahlah Kakak keluar dulu mau lihat kali aja Husein udah datang." Pamit Zein melenggang pergi keluar dari kamar Zahra.
"Dasar Kak Zein, kalau ngomong suka ngada-ngada," gumam Zhra seraya menggelengkan kepala bingung melihat tingkah sang Kakak.
__ADS_1
~
Jika para rombongan wanita sibuk merias diri untuk bersiap-siap mengantar Husein, berbeda dengan calon pengantin dan sang Kakak yang masih betah di kamar, entah sudah berapa kali Husein mengucapkan kalimat ijab kabul agar nanti dia bisa mengucapkannya dengan lancar dan sekali tarikan nafas.
"Udah Dek, kamu udah lancar kok, entar pasti langsung sah tanpa harus mengulang, lebih baik sekarang kuta keluar dan temui saudara yang lain dan cepat halalin Zahra." Ajak Hasan merasa cukup bosan mendengar kalimat ijab kabul di ucapkan berkali-kali oleh sang Adik.
Mendengar ajakan sang Kakak Husein menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan mencoba mengatur detak jantungnya agar tak terlalu gugup dan tetap terlihat tenang meskipun kegugupan itu tak bisa dia hilangkan.
"Ayo Kak! aku sudah siap," Husein kini sudah yakin dengan dirinya dia berjalan mendahului Hasan keluar dari kamar dengan langkah yang terlihat begitu tenang, padahal hati dan jantungnya benar-benar tak bisa di tenangkan.
"Nah gitu, santai aja, gak perlu tegang dan gugup!" seru Hasan.
"Halah kayak dirinya gak gugup aja waktu mau ngucapin ijab kabul dulu." Seloroh Husein membuat Hasan tersenyum lucu jika mengingatnya.
Keduanya berjalan keluar dari kamar menuju halaman di mana semua rombongan sudah siap berangkat mengantar sang calon pengantin. Hasan dan Husein duduk berdampingan di jok bagian tengah mereka terlihat sama tapi berbeda. Susana di dalam mobil begitu tenang dan hening hingga sampai di halaman rumah Zahra.
Halaman rumah yang biasanya sepi kini terlihat begotu ramai dengan para tamu dan saudara Zahra, begitu juga dengan ruang tamu yang sudah di hias sedemikian rupa membuat suasana semakin meriah, Hasan dan Husein berjalan beriringan bak pinang di belah dua wajah mereka yang kembar memberi kesan tersendiri bagi para tamu dan saudara yang hadir, dan Arum hanya bisa menampakkan senyum bahagianya, dia berjalan tepat di samping Hasan.
"Wah mempelainya kembar ini yang mana yang mau menikah?"
"Bener, jadi bingung bedainnya ya,"
Cuitan beberapa tamu undangan terdengar di telinga, tapi hal itu tak membuat sang mempelai merasa terganggu, dia tetap saja berjalan dengan gagahnya masuk ke dalam ruang tamu untuk mengucapkan ijab kabul.
Husein duduk tegak tepat di depan penghulu dan di dampingi oleh kedua orang tuanya yang duduk di sebelah kanan dan kedua orangtua Zahra yang duduk di sebelah kiri. Sedangkan Hasan dan Arum duduk tepat di belakang Husein.
Dengan satu tarikan nafas Husein mengucapkan kalimat ijab kabul yang membuat status Husein dan Zahra berubah, kini keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri karena kata SAH telah terdengar menggema di ruangan.
__ADS_1