
Semua terlihat baik-baik saja, Zahra sama sekali tak terpengaruh oleh kehadiran maupun penampilan Zidan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Zidan setelah duduk di meja tepat di hadapan Zahra.
"Tidak, saya juga baru sampai," jawab Zahra yang terlihat biasa saja dan tersenyum ramah sebagai sikap profesional yang dia tunjukkan.
"Kamu sudah pesan sesuatu?" tanya Zidan yang terlihat begitu tulus menunjukkan perhatiannya.
"Belum, apa anda ingin pesan sesuatu?" tawar Zahra.
"Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu? kebetulan saya belum sarapan," usul Zidan dengan senyum yang terlihat begitu mempesona.
"Boleh," jawab Zahra yang juga menunjukkan sikap ramahnya.
"Mbak!" Zidan memanggil seorang pelayan untuk membawa menu.
"Iya Mas, mau pesan apa? silahkan di pilih!" Seorang pelayan wanita memberikan menu makanan yang di sediakan di restauran tersebut.
"Saya mau pesan Ayam rica-rica, nasi putih sama cap cay, terus minumnya lemon tea ya mbak," Zidan memilih makanan yang ingin dia makan.
"Kalau Kamu mau makan apa?" Zidan berusaha lebih dekat dengan Zahra dan memanggilnya Kamu, Zidan juga menawarkan Menu makanan untuk Zahra.
"Kalau saya samakan saja," jawab Zahra ramah tapi tetap dalam batasannya.
Zidan terus saja mencoba mendekati Zahra dengan ucapan juga sikap yang di tunjukkannya, tapi apa yang di lakukan oleh Zidan sama sekali tak mempengaruhi Zahra yang masih bersikap ramah tapi tetap pada batasannya.
"Saya pilih yang ini!" Zidan menunjuk sebuah gambar desain baju yang terlihat sangat bagus.
"Ini desain terbaru dengan bahan terbaik juga harga yang paling mahal, apa Mas Zidan mau pilih yang ini?" sungguh menggelikan Zahra justru menanyakan pilihan Zidan karena harga yang terlalu mahal, entah Zahra tak mengerti merek baju yang di pakai Zidan atau justru Zahra tak memperhatikannya sejak tadi.
"Berapapun harganya saya akan bayar, apa perlu saya membayar lunas semuanya sekarang juga?" Zidan yang sedikit jengkel mendengar pertanyaan Zahra seolah Zahra ragu jika Zidan tidak mampu membayarnya.
"Maaf jika ucapan saya menyinggung anda, saya benar-benar tidak bermaksud seperti itu," ucap Zahra dengan wajah yang terlihat menyesal.
"Tidak apa-apa santai saja," ucap Zidan dengan senyum yang kembali mengembang, Zidan menunjukkan kesabaran yang membuat siapapun salut dan empati kepadanya.
Keduanya kembali diam sampai makanan yang mereka pesan datang, dan keduanya makan dengan tenangnya.
Tes kali ini Zahra sudah lolos dan dia benar-benar menunjukkan jika dia adalah gadis yang paling baik dan tepat untuk Husein, sejak pulang dari restaurant senyuman Husein tak pernah luntur membuat semua orang yang ada di sekelilingnya ikut merasakan kebahagiaannya.
Husein
__ADS_1
Assalamualaikum,
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Zahra.
Zahra
Waalaikum salam,
Sebuah notif pesan juga masuk ke dalam ponsel Husein membuatnya tersenyum bahagia terpancar dari wajah Husein.
Husein
Apa kamu sibuk?
Husein kembali mengirim pesan pada Zahra.
Zahra
Tidak, apa ada yang bisa saya bantu?
Zahra membalas pesan Husein secepat Husein mengirim pesan padanya.
Husein
Husein kembali bertanya agar bisa terus mengobrol dengan Zahra meski hanya lewat chat tapi semua itu sudah cukup bagi Husein.
Zahra
Mungkin setengah jam lagi saya sudah pulang.
Zahra menjawab pertanyaan Husein dengan jawaban yang singkat padat dan jelas.
Husein
Kalau saya jemput dan saya antar pulang bagaimana? apa kamu bersedia?
Husein masih berusaha untuk mengenal lebih dekat seorang Zahra dan berharap dia mau menerimanya.
Zahra
Boleh,
__ADS_1
Satu kata tapi berjuta rasa, kata yang di kirim oleh Zahra memang sederhana bahkan sangat sederhana tapi memiliki banyak sekali makna.
Husein
Baiklah, setengah jam lagi Aku jemput.
Balas Husein yang masih kekeh memakai bahasa Aku kamu meski Zahra memanggilnya dengan sebutan Saya anda. Tanda centang dua yang berarti pesan telah terkirim sudah terlihat bahkan warnanya juga sudah berubah menjadi biru yang berarti sudah di baca, tapi sepertinya Zahra tak berniat untuk membalasnya.
Keadaan berbeda terjadi di ruang kerja Zahra yang berada di dalam butik, Husein yang sedang bahagia sangat berbeda dengan Zahra yang justru menghentikan sejenak pekerjaannya, Zahra yang baru saja membuka satu pesan dari Husein kini berdiri perlahan melangkahkan kaki untuk berdiri di depan jendela menatap suasana luar yang terlihat sepi.
Fikirannya melayang mengingat kata-kata sang Kakak yang tak lain adalah Zein, Zahra mau mencoba membuka hati juga berusaha untuk mengenal Husein lebih dalam karena desakan sang Kakak.
"Semoga saja teman kakak adalah orang baik yang di siapkan tuhan untuk menggantikannya," lirih Zahra sambil terus menatap keluar jendela.
Sebenarnya Zahra memiliki pengalaman buruk tentang laki-laki yang membuatnya menutup diri juga membentengi diri dari makhluk yang namanya laki-laki, pengalaman pahit yang tak akan pernah dia lupakan dan. akan menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupnya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga yang artinya waktu pulang telah tiba, tapi Zahra masih saja enjoy menikmati suasana sepi di luar jendela hingga sebuah ketukan pintu mengejutkannya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu menyadarkan Zahra yanh sedang melamun.
"Masuklah!" titah Zahra sambil berjalan kembali duduk di kursi kerjanya.
"Assalamualaikum, apa kamu sudah siap?" tanya Husein seraya masuk ke dalam ruangan tanpa di perintah.
"Tunggu sebentar," Zahra yang sudah membuat janji dengan Husein langsung berkemas memasukkan beberapa barang yang akan dia bawa pulang.
"Ayo berangkat!" ajak Zahra yang sudaj selesai berkemas kemudian berdiri untuk mengajak Husein yang terlihat melamun menatap lekat ke arahnya.
"Ayo!" sahut husein dengan semangat yang berkobar.
Keduanya berjalan beriringan keluar dari butik membuat siapapun yang melihatnya jadi berfikir jika keduanya tengah memiliki hubungan khusus. Zahra dan Husein terlihat begitu serasi saat berjalan beriringan keluar dari butik membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri.
"Masuklah!" Husein membukakan pintu mobil mempersilahkan Zahra masuk kemudian di susul dirinya yang ikut masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di sebelah Zahra meski ada jarak di antara keduanya.
"Fan, jalan!" Husein yang begitu mengerti tentang batasan-batasan seorang muslim yang bukan muhrim membuat Husein selalu menahan hasratnya untuk berada lebih dekat dengan Zahra.
Dan Zahra hanya tersenyum tipis melihat sikap Husrin yang begitu menjaga dirinya.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Husein basa basi mengusir keheningan yang tercipta di dalam mobil.
__ADS_1
"Alhamdulillah lancar Mas," jawab Zahra dengan senyum yang membuat Husein semakin tertarik padanya.
Setelah pertanyaan terucap dan telah di jawab suasana mobil kembali hening, Husein benar-benar di buat mati gaya oleh kehadiran Zahra di sampingnya.