Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sarapan Bertiga


__ADS_3

'Yes bisa makan bareng calon istri,' batin Hasan bersorak mendengar Umik menyurih Arum sarapan terlebih dahulu sebelum kembali ke pesantren.


"Umik tidak ikut makan bersama di sini?" tanya Arum yang merasa heran melihat Umik yang sudah berkemas akan pergi.


"Umik mau ke rumah Ummah takut kesiangan, jadi kamu makan saja!" jawab Umik dengan senyum mengembang sembari mengusap lembut kepala Arum yang tertutup rapi oleh kerudung.


Arum hanya bisa tersenyum tanpa bisa protes ataupun bertanya lebih banyak hal pada Umik, bagi Arum menjalankan apa yang di perintahkan Umik sama saja menjalankan perintah sang Bunda.


"Kalau begitu Umik berangkat dulu. Kalian hati-hati di rumah!" pesan Umik sebelum melangkah perhi meninggalkan Hasan dan Arum.


"Umik juga hati-hati di jalan," sahut Arum sembari menarik tangan Umik dan mencium punggung tangannya.


"Iya, Umik berangkat dulu Assalamualaikum." Pamit Umik setelah Hasan juga ikut mencium punggung tangannya.


"Waalaikum salam," jawab Keduanya hampir bersamaan.


Suasana dapur berubah jadi sepi, saat ini hanya ada Arum dan Hasan yang duduk di kursi meja makan. Meskipun pintu dapur yang sejurus dengan pondok putri terbuka tetap saja tak mengubah suasana sepi yang tiba-tiba tercipta.


Awalnya hanya ada kehrningan hingga datanglah Huda yang selalu sarapan pagi di rumah Umik dan akan makan siang juga sore di pesantren.


"Assalamualaikum," sapa Huda sesaat setelah sampai di dapur, awalnya Huda sejenak diam mematung melihat Arum dan Hasan yang hanya berdua dan duduk dengan posisi saling berhadapan, Huda merasa jika ini bukan waktu yang tepat untuknya datang, tapi Huda yang sudah terlanjur sampai di dapur hanya bisa melanjutkan apa yang tasi dia rencanakan yaitu sarapan bersama.


"Waalaikum salam," sahut Arum dan Hasan hampir bersamaan.


"Kok sepi? yang lain ke mana?" tanya Huda mengalihkan perasaan canggung yang menyelimuti hatinya.


"Umik dan Abi le rumah Ummah dan Husein entahlah mungkin dia ada urusan di luar," jawab Hasan santai, padahal hatinya sedang merasa sedikit terusik dengan kedatangan Huda yang cukup mengganggu momen dia yang seharusnya sarapan berdua dengan Arum.

__ADS_1


"Kak Hasan mau makan yang mana?" Arum yang begitu memahami sifat Hasan meski dia belum lama menghabiskan waktu bersama langsung menawarinya makan.


"Ambilkan apa saja!" jawab Hasan dengan senyum yang terlihat begitu manis, sifatnya sungguh jauh berbeda dengan sifat yang selama ini di kenal banyak orang, Hasan yang dingin seolah berubah seratus delapan puluh derajat di hadapan Arum.


'Aku pasti bisa melupakanmu Arum,' batin Huda yang merasa sedikit tersakiti dengan sikap Arum yang begitu perhatian padanya.


Dengan telaten Arum mengambilkan beberapa menu makanan untuk Hasan yang di sambut dengan senyuman manis dari Hasan.


"Terima kasih Sayang," ucap Hasan seolah sengaja menegaskan jika saat ini Arum adalah miliknya sedang Huda hanya bisa bersabar mendengar ucapan Hasan.


Jika Hasan sedang merasa bahagia maka hal sebaliknya terjadi pada Husein, kini Husein sedang duduk di sofa menatap ponsel yang memperlihatkan wajah Ayu seorang gadis berhijab, senyum yang begitu indah di tambah keimutan yang terpancar.


"Mas Husein mau sarapan apa?" tanya Ifan yang kini sudah resmi menjadi asisten pribadinya.


Tugas Ifan bukan hanya membantu menyelesaikan pekerjaan Husein di kantor, tapi Ifan juga bertugas membantu keperluan pribadi sang majikan sebelum dia menikah dan Ifan juga harus siap kapanpun Husein butuhkan.


'Ternyata kerja jadi asisten itu cukup sulit, Aku gak tahu apa makanan kesukaan Mas Husein dan sekarang Aku di suruh beli sarapan tapi gak di kasih tahu makanan apa yang harus Aku beli, huft ....' batin Ifan terus saja mengomel mengingat perintah yang membingungkan dari majikan barunya itu.


'Bahaimana kalau Mas Husein tidak menyukai menu makanan yang Aku suka? kalau sampai dia alergi, argghhhh ...' Ifan kembali memikirkan hal terburuk yang akan terjadi hingga muncullah sebuah ide dari benaknya.


Ifan merogoh ponsel yang baru kemarin di belikan oleh Husein, dengan gerakan lincah Ifan menscrall beberapa nomor di kontak ponselnya hingga tangannya terhenti di kontak yang bertuliskan Mbak Hana.


Satu masalah telah selesai, kini Ifan sudah mengeti makanan apa yang harus dia beli membuat rasa lega muncul di hatinya, terlihat jelas perasaan lega itu dari senyuman yang muncul di wajah Ifan.


Drama sarapan pagi telah usai, dan Ifan merasa begitu lega karena majikannya bukan seorang majikan yang suka pilih-pilih makanan membuat pekerjaan Ifan tak terlalu berat.


"Assalamualaikum Mas Husein," ucap seorang laki-laki yang kemarin mendapat tugas menguji Zahra, gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.

__ADS_1


"Waalaikum salam, duduklah!" titah Husein setelah melihat Zidan berdiri di hadapannya.


"Bagaimana rencana hari ini? apa kamu sudah siap?" tanya Husein pada intinya.


Ekspresi tegas yang saat ini terlihat sungguh membuat siapapun terkejut, mengingat Husein yang ramah juga selengek'an tiba-tiba beraura dingin dan tegas.


"Siap, Mas Husein tenang saja Aku sudah siapkan semuanya dan Mas Husein tinggal tunggu dan lihat prosesnya," jawaban Zidan membuat hati Husein menjadi tenang.


"Bagus, Aku tunggu hasilnya!" jawaban yang sungguh tak menggambarkan kepribadian Husein.


"Baiklah! kalau begitu Aku permisi lebih dulu. nanti Mas Husein bisa lihat prosesnya seperti biasa," pamit Zidan.


"Baiklah, semoga berhasil," untaian harapan terdengar begitu merdu di telinga Husein.


"Semoga," sahut Husein.


"Sekrang kita mau ke mana Mas Husein?" tanya Ifan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar tanpa bisa memprotes.


"Kita ke cafe xxx sesuai janji yang sudah di buat oleh Zidan dan Zahra." Jawab Husein sambil berdiri masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Perjalanan menuju cafe menghabiskan waktu setengah jam, Husein rela meninggalkan pekerjaannya beberapa hari demi mengetahui seperti apa gadis yang menarik hatinya.


Sesaat setelah sampai di restauran Husein yang berpenampilan biasa saja sangat kontras dengan penampilan Zidan yang terlihat begitu tampan dan mempesona, di tambah dengan mobil lamborgini yang dia pakai membuat penampilannya semakin sempurna.


Semua mata gadis yang ada di restauran langsung tertuju pada Zidan saat dia baru saja masuk ke dalam restauran, tapi anehnya Zahra justru terlihat biasa saja, Zahra bahkan cenderung mengabaikan kedatangan Zidan dia justru melirik sejenak kemudian kembali fokus meneliti setiap lembar kertas yang ada di atas mejanya tanpa memperdulikan Zidan yang sedang jadi pusat perhatian sebagian banyak gadis yang ada di restauran.


Sikap Zahra benar-benar membuat Husein semakin yakin hingga sebuah senyuman muncul di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2