
Arum sebenarnya hanya mencari alasan agar dirinya bisa mengobrol bebas dengan Desy dan menunjukkan wajah Desy pada Huda, kini Arum berjalan menuju dapur dan mulai mencari posisi yang tepat agar ponsel yang tengah menyala san terlihat wajah Huda tak sampai di lihat oleh Desy.
"Pantas atau tidak itu terserah padaku sekarang Desy, karena di sini hanya ada aku dan kamu jadi gak usah memikirkan hal lain, lagi pula aku memanggilmu karena ingin mengobrol dan bercanda seperti dulu tanpa harus ada sekat status," ucap Arum.
Desy masih setia berdiri di hadapan Arum yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
"Kenapa berdiri saja? duduklah! aku ambilkan minum dan camilan. Kita ngobrol kayak dulu." titah Arum yang langsung di turuti oleh Desy.
Posisi Desy duduk sangat pas berada di depan ponsel Arum yang tengah menyala tanpa di sadari oleh Desy, saat ini Arum tengah melakukan video call dengan Huda tapi memakai camera belakang, jadi bukan wajah Arum yang terlihat melainkan wajah Desy yang sedang duduk manis di kursi meja makan, jangan tanyakan bagaiman hati Huda dan ekspresi wajahnya, karena saat ini Huda merasa begitu bahagia dan lega karena bisa mengobati rasa rindunya pada sang gadis pujaan hati, melihat wajahnya saja sudah bisa membuat jantung Huda berdebar dengan kencangnya, apa lagi jika Huda bisa mendengar suara dan senyumnya bisa di pastikan malam ini Huda akan tidur nyenyak di temani senyum Desy yang akan terus terngiang di kepalanya.
"Terima Kasih, Adik iparku," satu chat singkat masuk ke dalam ponsel Arum.
Setelah tadi Arum mengobrol dan bercanda cukup lama dengan Desy yang di saksikan Huda, kini Arum duduk santai di atas tempat tidur bersandar pada kepala ranjang.
"Syei', kamu dapat pesan," beritahu Hasan yang kini memiliki hobi baru, yaitu mengutak atik ponsel Arum yang justru sama sekali tak lagi peduli pada benda pipih yang kini berada dalam genggamannya.
"Dari siapa Bi?" tanya Arum penasaran, sejak menjadi santri Arum sudah memberitahukan semua yang pernah dia kenal untuk tidak menghubunginya dulu sebelum Arum menghubungi.
"Dari mantan kamu," jawaban Hasan sontak membuat Arum terkejut, reflek saja dia menoleh ke arah Hasan dan berjalan sedikit lebih cepat untuk melihat mantan yang mana yang di maksud oleh sang suami.
"Mantan siapa Bi?" sahut Arum berjalan cepat mendekat ke arah Hasan.
"Hayo, mantan kamu ada berapa? kok bisa sepanik itu?" tanya Hasan dengan nada menggoda.
"Lupa aku Bi, bukannya mantan itu untuk di lupakan? jadi ngapain di ingat-ingat lagi, apalagi sekarang aku sudah punya Abi yang paling tampan ini," Arum tak ingin ada pertengkaran ataupun perselisihan, dari pada membahas mantan yang ujungnya akan menghasilkan pertengkaran lebih baik memuji sang suami.
__ADS_1
"Kamu gak lagi menggodaku, Kan, Syei'?" Hasan mulai terpancing dengan ucapan manis dan sikap agresif yang Arum tunjukkan.
"Mana ada, aku gak pernah ya godain Abi," elak Arum sambil duduk di pangkuan Hasan dan sesekali mengendus-endus tepat di samping lehernya.
"Syei', hentikan!" Mendapat perlakuan agresif seperti yang di lakukan Arum saat ini membuat Hasan bingung, pasalnya sang junior yang tengah lelap dalam tidurnya kini mulai terusik.
"Baiklah, hari ini cukup sampai di sini, aku mau istirahat saja, hoammm ... ngantuk Bi," ucap Arum berdiri melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih duduk di sofa dengan junior yang mulai bangun.
"Astaghfirullah, Syei', kamu kok bisa sih nyiksa kayak gini?" gumam Hasan yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri, sedang Arum yang tak merasa telah menyiksa Hasan dengan sikapnya justru sudah menutup diri dengan selimut dan mulai lelap dalam mimpi bersama sang malam.
Hasan mulai memikirkan cara agar dirinya bisa mengalihkan hasrat yang mulai muncul dengan berdiri berjalan menuju kamar mandi, berendam air diri di malam hari sepertinya cukup membuat hasratnya meredup dan membuat si junior tertidur.
Malam semakin larut Hasan yang telah berhasil menidurkan sang junior kini terlelap dalam mimpi indahnya, menikmati dunia. mimpi yang seakan nyata tapi sebenarnya hanya fatamorgana.
"Ada apa Syei'?" sahut Hasan mengerjapkan mata mencoba mengumpulkan nyawa yang masih berpencar menikmati alam mimpi.
"Bi, aku laper," rengek Arum.
"Kalau lapar makan aja Syei'! di meja makan masih ada makanan, tadi Mbak Hana sengaja menyiapkan makan untukmu." Jawab Hasan tanpa membuka mata bahkan posisinya tidur masih tetap sama tak bergeser sedikitpun.
"Aku pengen Abi yang masak," jujur Arum.
"Abi ngantuk Syei'," tutur Hasan membuat Arum yang sejak tadi antusias membangunkan Hasan kini mulai meredup, tak sedikitpun nampak rasa semangat yang tadi di tunjukkan Arum, yang terlihat hanya ekspresi sendu yang mulai tampak di wajah Arum.
Hening, tak ada suara Arum merengek lagi hanya ada hembusan angin yang terdengar dari sela-sela fentilasi kamar.
__ADS_1
"Syei'!" panggil Hasan, tapi tak ada satu sahutan pun terdengar.
"Masya Allah, istriku ini memang sungguh ajaib, belum juga sepuluh menit sudah tidur lagi," spontan Hasan saat melihat Arum kembali memejamkan mata lelap dalm tidurnya.
"Aku masih belum tidur Bi," sahut Arum saat mendengar sang suami justru terkejut melihat dia sudah kembali memejamkan mata.
"Kamu mau Abi masakin apa Syei'?" tawar Hasan yang kini mulai duduk bersandar di kepala ranjang yang berada di ujung tempat tidur kepala ranjang.
"Abi serius mau masakin aku makanan?" Arum yang tadi terlihat sendu kini kembali bersemangat setelah mendengar kesanggupan Hasan memasak untuknya.
"Aku pengen makan nasi goreng sama teh hangat Bi," jawab Arum.
Sebenarnya keinginan Arum cukup simple dan tak butuh tenaga ekstra untuk memenuhinya, karena apa yang di minta Arum hukanlah suatu hal yang aneh.
"Tunggu di sini! biar Abi buatkan." Titah Hasan melarang sang istri untuk mengikuti langkahnya.
"Tapi aku ingin lihat Abi memasak nasi goreng dan teh hangat, apa boleh Bi?" Arum kembali merengek.
"Jika kamu memang tidak lelah, ayo ikut!" Hasan tak ingin membuat Arum sedih ataupun kecewa.Sebisa mungkin Hasan menuruti apapun yang di minta olehnya sesuai dengan pesan dari Abi Ilzham.
Arum langsung menyibak selimut dan bangun dari tempat tidur berjalan menghampiri Hasan yang berdiri tak jauh darinya.
"Tunggu apa lagi? ayo kita ke dapur!" ajak Hasan.
Arum hanya menurut saja tanpa membalas ucapan Hasan, dia ikut berjalan menuju dapur untuk melihat sang pujaan memasak nasi goreng untuknya.
__ADS_1