Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kedatangan Erwin Ke Pesantren


__ADS_3

Pagi cerah dengan setumpuk pekerjaan sudah di lewati oleh Desy, mencuci dan menjemur baju sudah dia kerjakan, begitu juga membantu menyapu halaman depan rumah Umik sudah selesai dia kerjakan. Kini Desy tengah duduk meluruskan kaki menikmati setiap denyut rasa lelah yang menghampiri kakinya.


"Kamu lagi ngapain di sini Desy?" sapa Shinta yang juga baru saja selesai mengerjakan gotong royong membersihkan kamar mandi.


Setiap hari jum'at setiap kamar memiliki tugas masing-masing untuk membersihkan tempat-tempat yang ada di pesantren secara bersamaan, kecuali Desy yang memiliki tugas sendiri, Desy tetap melaksanakan tugas seperti biasa hanya saja dia harus membantu santri lain untuk membersihkan halaman didepan rumah Umik, agar para santri lebih cepat menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa bercanda ataupun tebar pesona pada santriwan yang hilir mudik melewati halaman itu.


"Lagi ngelurusin kaki, pegel," jawab Desy sambil sesekali memijat kakinya yang masih terasa sedikit ngilu.


"Kamu udah makan belum?" tanya Shinta yang begitu hafal dengan kebiasaan Desy, dia selalu saja melewatkan jam sarapan di hari jum'at dan minggu karena terlalu asyik sendiri menyelesaikan tugas yang sebenarnya bisa di kerjakan nanti, Desy selalu saja merapikan dan membersihkan semua barang yang menurutnya kotor dan perlu di bersihkan.


"Belum, masih males Shin, entar aja," jawab Desy tanpa merubah posisinya yang terlihat begitu nyaman.


"Kamu itu kebiasaan, sarapan di waktu yang tepat itu baik untuk kesehatan dan kau tahu itu," Shinta memang sahabat yang perhatian meski tingkat keponya terkadang tak bisa di tolong lagi.


"Sudahlah, kamu kalau mau sarapan duluan aja! nanti aku nyusul." Ucap Desy yang merasa masih malas untuk sarapan.


"Mbak Desy!" teriak seorang santri yang berjalan sedikit terengah-engah mendekat ke arah Desy yang masih duduk santai berselojor di aula.


"Iya, ada apa Mbak?" sahut Desy tanpa merubah posisinya.


"Ada yanh nyariin Mbak Desy di depan gerbang," jawab sang santriwati.


"Siapa?" tanya Desy penasara, pasalnya hari ini Desy tak memiliki janji apapun dan bukan waktunya di jenguk juga.

__ADS_1


"Gak tahu Mbak," jawab Sang santriwati itu.


"Beritahu aku bagaimana orangnya?" tanya Desy dengan ekspresi penasaran yang tergambar jelas di wajahnya.


"Orangnya masih muda, tampan Mbak, terus bajunya kayak orang kantoran," Sang Santriwati mendeskripsikan Erwin.


"Aku gak pernah punya saudara atau kenalan orang kayak gitu, apa kamu gak salah orang? mungkin dia nyari Desy yang lain kali," elak Desy yang merasa tak pernah mengenal orang seperti yang di sebutkannya.


"Dia bilangnya Desy kamar B2 Mbak, di pesantren yang namanya Desy di kamar B2 cuma Mbak Desy aja," Sang Santriwati mencoba meyakinkan Desy jika memang dialah orang yang di maksud sang pengirim.


"Sudahlah, Desy, lebih baik kamu temui dulu! dari pada tanya-tanya terus." Usul Shinta yang ikut penasaran dengan siapa pengirim yang di maksud oleh santriwati itu, karena selama dia jadi santri di sini Shinta sama sekali tak pernah tahu ataupun melihat Desy di kunjungi oleh orang seperti yang di jelaskan olehnya.


"Baiklah Mbak, saya akan ke sana." Desy menuruti ucapan Shinta yang memang ada benarnya, dari pada terus-terusan bertanya tak ada ujungnya lebih baik langsung menghampirinya dan melihat siapa yang datang.


"Astaghfirullah, kenapa mesti bareng aku? main tarik-tarik pula." Gerutu Desy.


"Udah jangan protes! entar aku traktir jajan di kantin." Desy yang tak ingin menemui orang yang mencarinya sendiri menjanjikan Shinta untuk mentraktirnya makan agar Shinta tak lagi protes dengan apa yang di lakukannya.


"Kalau di traktir mah aku suka, lepasin tanganku! gak usah di tarik aku juga bakal ikut temenin kamu." Shinta mencoba melepaskan genggaman tangan Desy di lengannya, dan Desy yang mendengar penuturan Shinta langsung berhenti kemudian melepas genggaman tangannya.


"Ayo kita ke gerbang!" ajak Desy merangkul lengan Desy dengan ekspresi penuh semangat setelah mensengar kata traktiran dari bibir Desy.


'Dasar penggila makanan,' batin Desy dengan senyum dan gelengan kepala melihat tingkah sang sahabat.

__ADS_1


"Non Desy!" panggil Erwin saat melihat Desy dan temannya tak langsung menghampirinya tapi malah diam di depan gerbang sambil celingukan seperti mencari sesuatu yang hilang.


"Iya, apa anda memcari saya?" tanya Desy heran melihat seorang laki-laki yang cukup tampan dengan baju kantoran yang membuatnya terlihat semakin gagah juga keren.


"Perkenalkan nama saya Erwin, saya asisten pribadi Tuan Huda," jawab Erwin memperkenalkan diri.


"Huda? maaf Huda siapa ya?" tanya Desy heran, dia bingung dengan Huda yang di maksud Erwin, karena Hida yang dia kenal adalah Huda keponakan Umik yang mendapat beasiswa di Australia yang otomatis menunjukkan jika dia seorang mahasiswa.


"Apa anda masih mengingat orang ini?" Erwin yang tak ingin terus menjelaskan panjang lebar langsung menunjukkan foto Huda, karena waktu yang di milikinya juga sangat sedikit, setelah memberikan makanan seperti yang di perintahkan Huda, Erwin harus segera pergi ke kantor untuk melakukan meeting bersama clien penting.


"Bukankah ini Mas Huda keponakan Umik pemilik pesantren ini?" spontan Shinta dengan tatapan yang tak beralih dari foto yang kini di perlihatkan oleh Erwin.


"Benar, Non, beliau keponakan Umik pemilik pesantren ini." Erwin mencoba meyakinkan Shinta yang tengah menatap lekat foto Huda.


"Apa tujuan anda mencari saya? apa terjadi sesuatu dengan Mas Huda?" Desy yang kini sudah tahu siapa yang ada di depannya langsung membrondongi Erwin dengan berbagai pertanyaan yang timbul di kepalanya.


"Alhamdulillah Tuan Huda baik-baik saja Non, saya ke sini hanya menjalankan perintahnya untuk memberikan ini pada Non Desy." Erwin memberikan dua buah kantong plastik pada Desy.


"Apa ini?" tanya Desy.


"Itu sarapan untuk Non Desy, mulai saat ini saya bertugas membawakan sarapan dan makan sore untuk Nona Desy, jika ada sesuatu yang ingin Non Desy makan tinggal beritahu saya saja. Karena saya akan ke sini setiap pagi dan sore mengantar makanan untuk Nona," Erwin menjelaskan tujuannya ke sini dan menawarkan makanan yang ingin di makan Desy.


"Jika kamu di sini, apa Mas Huda juga ada di sini?" tanya Desy dengan ekspresi penuh harap.

__ADS_1


"Tuan Huda masih ada di Australia Non, saya hanya bertugas mengurus bisnis yang beliau jalankan di sini," jawab Erwin dengan senyum yang mengembang, dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi wajah Huda jika dia tahu kalau gadis yang menjadi pujaan hatinya terus menanyakan dirinya, binar cinta juga terlihat jelas di mata Desy membuat Erwin semakin senang karenanya, meski dia harus bersusah payah menghabiskan waktu mengantar makanan untuk Desy tak menjadi masalah yang penting perasaan sang majikan tak bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2