
Setelah mendapatkan sarapan double hari ini Hasan benar-benar merasa bersemangat untuk memulai hari, karena perut dan energi batinnya sudah terisi penuh.
Bayangkan saja Hasan meminta sarapan batin hingga dua kali setelah mengisi perutnya yang kenyang, Arum benar-benar sudah menjadi candu baginya.
"Pagi Mas Hasan!" sapa salah seorang santri yang tak sengaja lewat di samping Hasan yang sedang memanasi mesin mobil yang akan dia pakai.
"Pagi," sahut Hasan dengan nada dingin dan santainya.
Drrrrttt ... drrrrtt ... ddrrrt ....
Suara getar ponsel terdengar mengusik Hasan yang sedang menikmati suasana pagi di sekitar pesantren setelah menyalakan mesin mobil.
"Iya assalamualaikum Umik," sahut Hasan saat tahu jika yang menelfonnya adalah Umik.
Sejak kemarin sore Umik sudah berangkat menuju rumah Ummah, Umik pegi bersama Abi untuk merawat Ummah yang sedang sakit di rumahnya.
"Hasan, apa kamu jadi ke sini untuk menjenguk Ummah?" tanya Umik.
"Iya Umik," jawab Hasan singkat.
"Baiklah, nanti di perjalanan jangan lupa beli buah manggis. Ummah menginginkannya." Titah Umik pada Hasan.
"Baik, Umik," Hasan hanya bisa menyetujui apapun yang Umiknya perintahkan tanpa ada penolakan sedikitpun.
"Kalau begitu Umik tutup dulu sambungan telfonnya. Kamu hati-hati di jalan, assalamualaikum," ucap Umik kemudian menutup sambungan telfonnya.
"Waalaikum salam," jawab Hasan.
Hasan sekarang duduk diam di teras tepat di depan mobil yang masih menyala, dia merasa begitu bingung dengan permintaan yang di ajukan oleh Umik barusan, bagaimana tidak bingung saat ini bukanlah musimnya buah manggis pasti akan sulit untuk mencarinya.
"Abi!" panggil Arum yang sudah selesai bersiap-siap dan kini berjalan menghampiri Hasan yang masih setia duduk di teras.
__ADS_1
Tapi Hasan yang sedang memikirkan buah yang di minta oleh Umik tak merespon panggilan Arum.
"Abi!" sekali lagi Arum memanggil Hasan yang masih saja termenung sambil menepuk pundaknya dan duduk di sampingnya.
"Maaf, ada apa Syei'?" sahut Hasan.
"Harusnya aku yang tanya sama Abi, apa ada masalah Bi?" bukannya menjawab pertanyaan sang suami Arum justru balik bertanya.
"Tidak, sama sekali tidak ada masalah Syei', memangnya ada apa?" sahut Hasan yang bingung dengan pertanyaan Arum, memang tadi Hasan sempat memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan buah manggis yang di pesan oleh Umik, tapi apa yang terjadi itu bukanlah masalah.
"Kalau gak ada masalah kenapa dari tadi Abi terlihat melamun?" tanya Arum.
"Oh, tadi Abi lagi mikirin di mana Abi bisa dapetin buah manggis?" Hasan menjelaskan penyebab dirinya melamun.
"Buah manggis untuk apa Abi? apa Abi pengen makan buah manggis?" Arum mulai banyak bertanya.
"Tidak Syei', barusan Ummah telfon dan menyuruh kita cari buah manggis di jalan untuk Ummah. Sedangkan saat ini belum musimnya buah manggis terus kita harus beli di mana Syei'?" Hasan menceritakan alasannya melamun sejak tadi.
"Kok cuma sih Syei'? Abi beberan bingung harus beli di mana? di tokoh buah pinggir jalan pasti gak bakalan ada," keluh Haan.
"Abi gak usah bingung nanti kita ke carre****r di sana pasti ada, biasanya aku membeli segala macam buah di sana." Jawaban Arum membuat senyum merekah di bibir Hasan, sungguh istri yang sempurna.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Hasan yang telah menemukan solusi untuk masalahnya langsung mengajak Arum berangkat ke rumah Ummah yang lumayan jauh dan memakan waktu yang cukup lama.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam kerana Arum yang tertidur dengan lelapnya membuat Hasan tak tega untuk membangunkannya. Biasanya Hasan akan berhenti sejenak untuk beristirahat, melepas penat saat menyetir tapi kali ini dia tak bisa berhenti untuk beristirahat melihat sang istri tengah lelap dan terlihat begitu lelah.
Hasan sangat mengerti dengan keadaan dan apa yang di rasakan oleh Arum, karena kini dia juga mulai merasakan efeknya, pertempuran yang terjadi berjali-kali sejak malam dan berlanjut di pagi hari pasti memberikan efek yang cukup terasa bagi keduanya.
Awalnya Hasan merasa biasa saja bahkan badannya terasa begitu bersemangat, tapi saat ini rasa sakit di pinggangnya tak lagi bisa di hiraukan olehnya, menyetir dengan waktu cukup lama memperparah keadaan pinggang Hasan yang sejak tadi sedikit sakit. Tapi Hasan tetap bertahan hingga terlihat rumah Ummah yang nampak sederhana tapi nyaman.
"Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga," lirih hasan mengucapkan rasa syukur karena telah sampai di rumah sang Ummah.
__ADS_1
"Syei', bangun!" Hasan mencoba membangunkan Arum yang terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.
"Syei', bangun kita sudah sampai!" Hasan kembali mencoba membangunkan Arum dengan menggoyangkan bahunya.
"Eummm," lenguh Arum merasa tidurnya terusik oleh guncangan di bahunya.
"Bangunlah! kita sudah sampai di rumah Ummah." Kini Hasan berbisik untuk membangunkan Arum yang terlihat mulai merasa terusik oleh perlakuan Hasan.
"Lima menit lagi Desy," sahut Arum dengan mata yang masih terpejam.
"Bagaimana kalau kita tidur lima menit lagi sambil kuda-kudaan? fiyu," bisik Hasan sambil meniup telinga Arum mencoba menyadarkannya jika yang membangunkannya saat ini bukan Desy melainkan dirinya.
"Apa?" Arum yang mendapat bisikan aneh beserta tiupan di telinga langsung sadar, dia menggosok telinga sambil sedikit berteriak duduk di hadapan Hasan.
"Kenapa? mau?" Hasan yang melihat tingkah Arum malah bersemangat untuk menggodanya.
"Ishhh, Kak Hasan apaan sih, ganggu Arum tidur aja," gerutu Arum yang masih belum sadar jika dirinya kini telah sampai di rumah Ummah, karena sejak bangun tadi Arum hanya fokus menatap wajah Hasan yang cukup dekat dengannya.
"Habis dari tadi aku bangunin kamu nya gak ngerespon, malah manggil aku Desy pula, sudah bangunlah dan turun dari mobil! kita sudah sampai." Ujar Hasan membuat Arum yang sejak tadi fokus padanya kini mulai memperhatikan sekitar yang ternya benar mereka sudah sampai di rumah Ummah.
"Kenapa Abi gak bilang dari tadi?" tanya Arum.
"Abi sudah bilang, cuma kamu nya aja yang gak dengerin." Sahut Hasan.
Keduanya turun dari mobil setelah mengambil buah manggis yang tadi di letakkan di jok bagian belakang, sebelum tertidur Arum sempat membeli buah manggis di tempat biasa dia membeli buah.
"Assalamualaikum," ucap Hasan dan Arum hampir bersamaan.
"Waalaikum salam, Den Hasan mari silahkan masuk!" sahut Bibik yang mulai bekerja sejak Ummah sakit.
"Dia siapa Bi?" tanya Arum saat melihat seorang wanita paruh baya membuka pintu untuknya, dan Arum belum pernah melihat sebelumnya.
__ADS_1
"Dia asisten rumah tangga yang baru, sejak Ummah sakit beliaulah yang membantu Umik untuk menjaga Ummah," jelas Hasan membuat Arum menganggukkan kepala tanda dia telah mengerti.