Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kedatangan Husein


__ADS_3

Cukup lama Husein terlelap terbang ke dalam dunia mimpi. Mimpi indah yang pasti membuat siapapun bahagia karenanya, sejenak Husein mengerjapkan mata sesaat setelah terbangun dari dunia mimpi yang penuh dengan fatamorgana.


"Loh mobilnya kok berhenti," lirih Husein memperhatikan sekelilingnya, tak ada lagi Ifan yang seharusnya duduk manis di jok bagian depan.


Husein yang mulai sadar sepenuhnya berjalan keluar dari mobil dan melihat jika dirinya telah sampai di depan mension.


"Ke mana Ifan?" gumam Husein sembari memperhatikan sekitar yang terlihat begitu sepi.


"Halo Fan, kamu ada di mana?" tanya Husein yang langsung menelfon Ifan setelah melihat keadaan sekitar yang terlihat begitu sepi.


"Aku ada di pos Mas Husein, tunggu sebentar Aku akan menyusul." Jawab Ifan yang mengeryi jika Bosnya itu membutuhkan kehadirannya.


Husein yang merasa sedikit kesal karena Ifan meninggalkannya sendiri di mobil dan tak membangunkannya saat sampai di mansion langsung memutus sambungan telfon tanpa mejawab ucapan Ifan lagi.


"Kenapa tidak bangunkan Aku?" sergah Husein setelah Ifan tepat berada di hadapannya.


"Maaf Mas Husein, tadi Aku tidak tega mau membangunkanmu karena Mas Husein terlihat sangat lelap dan lelah," jawab Ifan yang membuat Husein tak jadi memarahinya.


"Sudahlah, antar Aku masuk!" titah Husein berjalan masuk kembali ke dalam mobil.


Ifan yang mendengar perintah sang Bos langsung melajukan mobil masuk ke dalam mension Oma Arum yang memiliki halaman begitu luas.


Setelah sampai di depan pintu Husein begitu terkejut melihat deretan pelayan sudah menyambutnya dengan pintu mension yang sudah terbuka.


"Masuklah Dek!" titah Hasan yang terlihat baru muncul dari ruang tamu dengan Arum yang berjalan di sampingnya.


'Ya Allah ternyata seperti ini rasanya melihat saudaraku menikahi gadis yang pernah menjadi penghuni hatiku,' batin Husein, menatap sendu ke arah Arum dan Hasan yang kini duduk berdampingan.


Husein memang mulai tertarik dengan Zahra, tapi emrasa cinta itu tak mudah untuk di lupakan. Walaupun hati telah berpaling tapi rasa itu masih ada meski hanya secuil.

__ADS_1


"Ada apa Dek? tumben kamu datang berkunjung sepagi ini," Hasan memang tipe orang yang tak suka bertele-tele kecuali jika obrolan itu menyangkut Arum, maka akan menjadi panjang seperti kereta api, karena Hasan akan mencari sejuta alasan mendapatkan topik untuk terus mengobrol dengan Arum.


"Aku buatin minum dulu ya Bi," pamit Arum yang langsung berdiri meninggalkan Hasan setelah mendapat persetujuannya.


"Aku mau membicarakan soal pinanganku ke seorang gadis Kak," jawab Husein yang sukses membuat Hasan terkejut dengan bola mata yang membulat sempurna.


"Gadis? siapa dia? kenapa selama ini kamu gak pernah cerita ke Kakak?" Hasan yang terkejut langsung membrondongi Husein dengan beberapa pertanyaan.


"Aku memang baru ketemu sama dia Kak, tapi Aku yakin dia adalah gadis yang tepat untuk ku jadikan teman hidupku." Husein mengatakannya dengan ekspresi penuh keyakinan.


"Siapa dia Dek?" Hasan mengulangi pertanyaannya karena Husein tak kunjung menjawabnya.


"Namanya Zahra Kak, di~" ucapan Husein terpotong oleh sahutan Hasan.


"Apa dia Zahra Adiknya Zein?" tebak Hasan yang pernah bertemu dengan Zahra sebelumnya.


"Loh, Kakak kok tahu?" sergah Husein setelah mendengar tebakan Hasan yang benar adanya.


"Kakak kok bisa tahu jika pilihanku tepat? apa Kakak pernah mengenal Zahra sebelumnya?" tanya Husein dengan wajah penuh rasa penasaran.


"Tidak, Kakak hanya pernah rak sengaja bertemu dengannya di rumah Zein. Waktu itu Kakak mau pergi ke kamar mandi yang letaknya berada di dapur. Tanpa sengaja Kakak lihat Zahra berjalan dan bertabrakan dengan bibik yang membawa nampan, padahal waktu itu Aku lihat Zahra sudah rapi hendak pergi. Tapi apa kamu tahu respon yang di tunjukkannya?" Hasan menyuruh Huswin untuk menebaknya.


"Apa kak?" tanya Husein.


"Zahra sama sekali tidak marah, justru dia terlihat mengkhawatirkan bibik itu. Dengan ramah dan penuh rasa peduli Zahra membantu membersihkan pecahan gelas yang berserakan tanpa memperdulikan bajunya yang sudah rapi ketumpahan kopi." Cerita Hasan membuat Husein terperangah kaget sekaligus kagum.


"Kakak tahu dari mana kalau dia Zahra?" Husein kembali bertanya.


"Kakak tahu jika dia Zahra karena Mamanya waktu itu memanggilnya dengan panggilan Zahra, dan dulu Zein sempat cerita kalau dia punya adik perempuan," Hasan menjelaskan semua alasannya bisa mengetahui tentang Zahra.

__ADS_1


"Oh, Aku kira kaka kenal dengan Zahra," ujar Husein.


"Kamu tahu sendiri kan Dek, Kakak jarang sekali berinteraksi dengan kaum hawa kecuali Cindy," ucap Hasan.


"Kenapa dengan Cindy Bi?" tepat di saat Hasan menyebutkan nama sini Arum datang dengan satu nampan di tangannya berisi dua cangkir kopi dan dua toples makanan ringan.


'Waduh, kenapa Arum bisa datang pas Aku nyebut nama Cindy sih,' batin Hasan berkeluh kesah.


"Loh Kak Arum kenal sama Cindy?" Husein yang ikut mendengar ucapan Arum langsung memberinya pertanyaan.


"Iya, kita bertemu di pasar kemarin." Jawab Arum.


Hasan yang melihat sang Adik hendak bertanya kembali langsung mengedipkan kedua matanya sebagai tanda jika saat ini Husein tidak usah membahas tentang Cindy.


"Oh, dia hanya teman Kakak yang berarti temanku juga waktu kuliah," Husein yang sangat mengerti dengan kode yang su berikan Hasan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Jadi Kamu juga mengenal Cindy?" mendengar pernyataan Hasan membuat Arum langsung memberinya pertanyaan.


"Tentu saja, teman Kakak berarti temanku juga, kami sering berdiskusi tentang materi kuliah yang kurang di pahami dan kami berlima sering menghabiskan waktu bersama." Jelas Husein.


"Berlima? maksudnya?" Arum kembali bertanya dengan ekspresi wajah penasaran.


"Iya, kami berlima Aku, Kakak, Cindy, Zein dan Bastian." Husein menyebutkan satu persatu sahabatnya dan menambahkan Cindy sebagai pelengkap, meski sebenarnya Cindy bukan termasuk sahabat mereka tali Husein terpaksa mengatakan jika Cindy adalah sahabat mereka setelah mendapat kode keras dari Hasan.


"Oh, jadi kalian bersahabat," Arum menganggukkan kepala mendengar pengakuan Husein yang menurutnya masuk akal juga.


Sebenarnya Arum yang telah lama hidup di luar negeri begitu mengerti jika bersahabat dengan lawan jenis adalah hal yang biasa dan wajar terjadi, tapu entah mengapa saat mendengar Hasan memiliki teman dekat wanita dan satu-satunya membuat sudut hati Arum tercubit karenanya.


"Kita berlima yang bersahabat Syei', dan kamu satu-satunya pilihan terbaikku," ujar Hasan sembari menggenggam tangan Arum dan mengecup punggung tangannya sekilas.

__ADS_1


"Khem, bisa tidak romantis-romantisannya nanti saja?" sela Husein yang sedikit gerah melihat keromantisan Kakak dan gadis yang pernah ada dalam hatinya.


"Maaf Kakak kelepasan, lupa pula kalau kamu masih di sini," celetuk Hasan yang terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.


__ADS_2